KOMPAS.com - Satelit kini bisa mendeteksi kebocoran besar gas metana dari luar angkasa hanya dalam hitungan hari.
Namun, melansir laman resmi United Nations, Kamis (23/7/2026) hanya 13 persen dari peringatan tersebut yang benar-benar ditindaklanjuti oleh pemerintah atau perusahaan yang bertanggung jawab.
Program Lingkungan PBB (UNEP) ingin mengatasi masalah ini. Bulan lalu, dengan dukungan dari Bloomberg Philanthropies, UNEP mengumumkan program baru untuk membantu negara menyelidiki dan memperbaiki setidaknya 80 persen kebocoran besar yang terdeteksi pada tahun 2030.
Baca juga: UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Saat ini, baru 10 negara di dunia yang aktif merespons dan menangani kebocoran metana tersebut.
Gas metana bertanggung jawab atas sekitar sepertiga dari pemanasan global saat ini. Berbeda dengan karbon dioksida, metana tidak bertahan lama di atmosfer. Ini berarti memangkas emisi metana dari sekarang dapat memberikan dampak positif bagi iklim dalam hitungan tahun, bukan puluhan tahun.
"Karbon dioksida memang tetap menjadi penyebab utama pemanasan jangka panjang. Namun, sekarang saatnya kita juga memprioritaskan pemotongan gas metana," ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.
"Pemotongan emisi secara drastis dapat memberikan penurunan suhu yang nyata hanya dalam satu generasi," katanya lagi.
Lebih dari 60 persen emisi metana berasal dari aktivitas manusia, terutama sektor pertanian, bahan bakar fosil, dan sampah. Sektor bahan bakar fosil menawarkan peluang tercepat dan paling hemat biaya untuk mengurangi emisi tersebut.
Sistem Peringatan dan Respon Metana (MARS) milik UNEP menggunakan data satelit untuk melacak kebocoran besar gas metana secara hampir real-time. Sistem ini langsung memberi tahu pemerintah dan pengelola fasilitas agar mereka bisa menyelidiki dan memperbaikinya.
Sejak diluncurkan pada tahun 2023, sistem ini telah mengirimkan lebih dari 5.000 peringatan di 33 negara, dan membantu mendorong lebih dari 40 perbaikan yang telah terverifikasi.
Misalnya di Aljazair, satu peringatan berhasil memperbaiki kebocoran yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Dampak baiknya bagi iklim setara dengan menyingkirkan setengah juta mobil dari jalanan setiap tahunnya.
Namun, terlepas dari keberhasilan teknologi tersebut, baru 13 persen dari seluruh peringatan yang benar-benar ditanggapi oleh negara atau pengelola yang diberi tahu.
“Kita sekarang bisa melihat pencemaran metana begitu itu terjadi, secara hampir real-time, dari luar angkasa. Dengan kemampuan canggih ini, tidak bertindak bukanlah masalah lupa atau tidak tahu tetapi sebuah pilihan,” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen.
Program yang diperluas ini akan memperkuat bantuan teknis bagi pemerintah, mempermudah akses ke data emisi metana, serta membantu berbagai negara meningkatkan kemampuan untuk menyelidiki dan merespons kebocoran dengan lebih cepat.
Baca juga: Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan
“Memangkas emisi metana adalah salah satu langkah terpenting yang bisa kita lakukan untuk mengatasi perubahan iklim sekaligus salah satu cara yang paling mudah dan hemat biaya,” ujar Michael Bloomberg, pendiri Bloomberg Philanthropies yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus PBB untuk Ambisi dan Solusi Iklim.
“Kita sudah punya data yang dibutuhkan untuk menghentikan kebocoran metana, dan sekarang kita sedang membantu negara-negara mengubah data tersebut menjadi tindakan yang lebih cepat dan berani,” tambahnya.
Selain itu, komitmen yang lebih kuat dari pemerintah dan pengelola tambang atau pabrik sangat penting untuk menutup celah kelambatan ini. Langkah-langkah ini bertujuan agar negara-negara bisa mengambil kesempatan ini demi memperlambat laju perubahan iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya