Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Kembangkan Katalis Baru untuk Tingkatkan Efisiensi Produksi Bioavtur

Kompas.com, 27 Juli 2026, 14:23 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan material katalis baru yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi produksi bioavtur berbasis biomassa.

Inovasi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Katalisis BRIN Indriyati mengatakan katalis tersebut dikembangkan menggunakan material mesopori berbasis SBA-15 yang dimodifikasi untuk mempercepat proses konversi senyawa turunan biomassa menjadi hidrokarbon yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pesawat.

Baca juga: IATA: Avtur Berkelanjutan Hanya Penuhi 0,8 Persen Kebutuhan Pesawat 2026

Riset ini merupakan hasil kolaborasi BRIN dengan Korea Institute of Science and Technology (KIST), Universitas Indonesia, dan Universitas Padjadjaran.

"Kolaborasi tersebut menghasilkan katalis dengan struktur pori dan tingkat keasaman yang seimbang sehingga memberikan performa lebih baik dibandingkan material sebelumnya," ujar Indriyati, dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (23/7/2026).

Menurut Indriyati, kinerja katalis tidak hanya ditentukan oleh tingkat keasaman yang tinggi, tetapi juga oleh keseimbangan antara luas permukaan, struktur pori, dan kemudahan akses bagi molekul yang bereaksi.

Karakteristik tersebut dinilai penting untuk mendukung proses pembentukan prekursor bioavtur, yakni senyawa antara yang kemudian diolah menjadi bahan bakar penerbangan.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa setelah dilakukan optimasi terhadap suhu reaksi, jumlah katalis, dan komposisi bahan baku, tingkat konversi biomassa mencapai 99 persen dengan menghasilkan prekursor bioavtur sebesar 62 persen.

Pada tahap berikutnya, prekursor tersebut diproses lebih lanjut menjadi hidrokarbon yang memenuhi spesifikasi bahan bakar pesawat. Proses ini menghasilkan tingkat konversi hingga 100 persen dengan mayoritas produk berada pada rentang hidrokarbon yang sesuai untuk avtur.

Selain memiliki tingkat efisiensi tinggi, katalis yang dikembangkan BRIN juga dapat digunakan kembali dalam beberapa siklus reaksi.

Meskipun performanya sedikit menurun setelah digunakan berulang kali, material tersebut dinilai masih memiliki stabilitas yang baik sehingga berpotensi diterapkan dalam skala industri.

Pengembangan produk

Indriyati mengatakan temuan ini membuka peluang pengembangan bioavtur berbasis biomassa dengan kualitas yang lebih baik, terutama karena mampu menghasilkan rantai karbon yang sesuai untuk kebutuhan bahan bakar penerbangan.

"Ke depan, BRIN akan terus mengembangkan material katalis agar memiliki stabilitas, ketahanan, dan kinerja yang lebih baik melalui penyempurnaan struktur pori, peningkatan daya tahan katalis, serta pemanfaatan bahan baku yang mendukung prinsip ekonomi sirkular," katanya.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah

Menurut BRIN, pengembangan katalis tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung produksi SAF untuk membantu menekan emisi gas rumah kaca dari sektor penerbangan.

Berbeda dengan bioavtur generasi pertama yang umumnya menggunakan minyak nabati sebagai bahan baku, penelitian ini memanfaatkan biomassa nonpangan, seperti limbah pertanian, kehutanan, dan perkebunan.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi persaingan dengan kebutuhan pangan sekaligus memanfaatkan limbah biomassa yang melimpah di Indonesia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau