JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan material katalis baru yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi produksi bioavtur berbasis biomassa.
Inovasi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Katalisis BRIN Indriyati mengatakan katalis tersebut dikembangkan menggunakan material mesopori berbasis SBA-15 yang dimodifikasi untuk mempercepat proses konversi senyawa turunan biomassa menjadi hidrokarbon yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pesawat.
Baca juga: IATA: Avtur Berkelanjutan Hanya Penuhi 0,8 Persen Kebutuhan Pesawat 2026
Riset ini merupakan hasil kolaborasi BRIN dengan Korea Institute of Science and Technology (KIST), Universitas Indonesia, dan Universitas Padjadjaran.
"Kolaborasi tersebut menghasilkan katalis dengan struktur pori dan tingkat keasaman yang seimbang sehingga memberikan performa lebih baik dibandingkan material sebelumnya," ujar Indriyati, dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (23/7/2026).
Menurut Indriyati, kinerja katalis tidak hanya ditentukan oleh tingkat keasaman yang tinggi, tetapi juga oleh keseimbangan antara luas permukaan, struktur pori, dan kemudahan akses bagi molekul yang bereaksi.
Karakteristik tersebut dinilai penting untuk mendukung proses pembentukan prekursor bioavtur, yakni senyawa antara yang kemudian diolah menjadi bahan bakar penerbangan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa setelah dilakukan optimasi terhadap suhu reaksi, jumlah katalis, dan komposisi bahan baku, tingkat konversi biomassa mencapai 99 persen dengan menghasilkan prekursor bioavtur sebesar 62 persen.
Pada tahap berikutnya, prekursor tersebut diproses lebih lanjut menjadi hidrokarbon yang memenuhi spesifikasi bahan bakar pesawat. Proses ini menghasilkan tingkat konversi hingga 100 persen dengan mayoritas produk berada pada rentang hidrokarbon yang sesuai untuk avtur.
Selain memiliki tingkat efisiensi tinggi, katalis yang dikembangkan BRIN juga dapat digunakan kembali dalam beberapa siklus reaksi.
Meskipun performanya sedikit menurun setelah digunakan berulang kali, material tersebut dinilai masih memiliki stabilitas yang baik sehingga berpotensi diterapkan dalam skala industri.
Indriyati mengatakan temuan ini membuka peluang pengembangan bioavtur berbasis biomassa dengan kualitas yang lebih baik, terutama karena mampu menghasilkan rantai karbon yang sesuai untuk kebutuhan bahan bakar penerbangan.
"Ke depan, BRIN akan terus mengembangkan material katalis agar memiliki stabilitas, ketahanan, dan kinerja yang lebih baik melalui penyempurnaan struktur pori, peningkatan daya tahan katalis, serta pemanfaatan bahan baku yang mendukung prinsip ekonomi sirkular," katanya.
Baca juga: Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Menurut BRIN, pengembangan katalis tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung produksi SAF untuk membantu menekan emisi gas rumah kaca dari sektor penerbangan.
Berbeda dengan bioavtur generasi pertama yang umumnya menggunakan minyak nabati sebagai bahan baku, penelitian ini memanfaatkan biomassa nonpangan, seperti limbah pertanian, kehutanan, dan perkebunan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi persaingan dengan kebutuhan pangan sekaligus memanfaatkan limbah biomassa yang melimpah di Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya