Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama

Kompas.com, 28 Juli 2026, 20:15 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Komunikasi mengenai krisis iklim dinilai perlu menggunakan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dibandingkan menggunakan istilah ilmiah yang rumit, pendekatan melalui budaya, tradisi lokal, dan ajaran agama dinilai lebih efektif mendorong perubahan perilaku dalam menjaga lingkungan.

Direktur Eksekutif AYANA, Rizal Algamar, mengatakan hasil penelitian organisasinya menunjukkan sebagian besar masyarakat belum memahami istilah-istilah saintifik terkait perubahan iklim.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah

Sebaliknya, masyarakat lebih mudah memahami dampak yang mereka alami secara langsung, seperti suhu udara yang semakin panas, hujan ekstrem, atau banjir yang semakin sering terjadi.

"Penelitian kami menunjukkan mayoritas masyarakat belum memahami terminologi iklim yang terlalu saintifik. Yang mereka pahami adalah kenyataan di lapangan, seperti panas yang menyengat atau hujan yang ekstrem. Nilai budaya, tradisi lokal, dan pendekatan dari masing-masing agama inilah yang perlu digunakan," ujar Rizal di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Menurut dia, pendekatan lintas agama dapat menjadi modal sosial untuk memperluas keterlibatan masyarakat dalam aksi iklim.

Setiap komunitas keagamaan dinilai memiliki cara masing-masing untuk menyampaikan pesan pelestarian lingkungan sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, AYANA berencana mendirikan Climate Academy, sebuah program yang akan melatih para master trainer dari berbagai agama.

Para peserta akan dibekali cara mengintegrasikan aspek teologi, ekologi, dan ekonomi ke dalam materi dakwah maupun ceramah, tanpa mengubah substansi ajaran agama.

"Kami tidak masuk ke wilayah teologi karena mereka sudah ahlinya. Kami ingin membantu menggabungkan perspektif ekologi dan ekonomi ke dalam dakwah yang mereka sampaikan," kata Rizal.

Memahami isu lingkungan

Ia menilai pendekatan teologis semata belum cukup untuk mendorong aksi iklim yang nyata.

Karena itu, para penceramah juga didorong mengaitkan isu lingkungan dengan dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Sebagai contoh, banjir bandang yang terjadi di Sumatera tidak hanya dipahami sebagai bencana alam, tetapi juga sebagai dampak kerusakan lingkungan yang menyebabkan hilangnya mata pencaharian dan kerugian ekonomi.

Dengan memahami hubungan antara kerusakan ekosistem dan kehidupan sehari-hari, masyarakat diharapkan lebih terdorong untuk menjaga lingkungan.

Untuk mendukung keberlanjutan program, AYANA juga menyiapkan infrastruktur digital guna memantau pelaksanaan aksi iklim di tingkat komunitas, menghimpun umpan balik masyarakat, hingga memberikan insentif kepada para tokoh agama yang aktif mengampanyekan isu lingkungan.

Rumah ibadah sebagai pusat aksi iklim

Selain memperkuat kapasitas tokoh agama, AYANA juga mendorong rumah ibadah menjadi pusat kegiatan lingkungan berbasis masyarakat.

Baca juga: Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim

Menurut Rizal, rumah ibadah memiliki potensi besar untuk menjadi contoh penerapan teknologi ramah lingkungan, seperti penggunaan panel surya, sistem pengolahan air, hingga pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Sebagai contoh, masjid dapat mengembangkan sistem daur ulang air bekas wudu, sementara rumah ibadah juga dapat berfungsi sebagai titik pengumpulan sampah plastik yang terhubung dengan sistem pengelolaan sampah.

"Kalau kita bergerak sendiri-sendiri tentu baik, tetapi ketika dilakukan bersama, dampaknya akan jauh lebih luas," ujar Rizal.

Ia berharap gerakan yang tumbuh dari komunitas keagamaan dapat mendorong semakin besarnya perhatian pemerintah terhadap isu iklim, sehingga lahir kebijakan yang lebih mendukung perlindungan lingkungan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Hadirkan 7 Inisiatif Keberlanjutan, dari Daur Ulang hingga Pengelolaan Sampah
Pertamina Eco RunFest 2026 Hadirkan 7 Inisiatif Keberlanjutan, dari Daur Ulang hingga Pengelolaan Sampah
BUMN
Perusahaan, Regulator, dan Stakeholder Membentuk Arah Pelaporan Keberlanjutan
Perusahaan, Regulator, dan Stakeholder Membentuk Arah Pelaporan Keberlanjutan
Pemerintah
Jasa Ekosistem Hutan Belum Dihitung, Pakar Dorong Valuasi dalam Tata Ruang
Jasa Ekosistem Hutan Belum Dihitung, Pakar Dorong Valuasi dalam Tata Ruang
Pemerintah
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Pemerintah
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
LSM/Figur
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Pemerintah
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Pemerintah
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
Pemerintah
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau