JAKARTA, KOMPAS.com – Ribuan bibit mangrove terus ditanam di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara.
Namun, upaya memulihkan ekosistem pesisir itu kerap terhambat oleh persoalan yang datang dari luar kawasan, yakni kiriman sampah dari Kali Adem dan Cengkareng Drain.
Sampah-sampah berukuran besar yang terbawa arus tidak hanya menumpuk di sekitar area rehabilitasi, tetapi juga melilit batang mangrove hingga menghambat pertumbuhan akar. Akibatnya, pohon yang telah tumbuh bertahun-tahun dapat tumbang dan area yang telah direhabilitasi harus ditanami kembali.
Baca juga: Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
"Iya betul, sampah bisa merusak mangrove karena melilit tanaman. Banyak pohon yang sudah besar akhirnya tumbang karena akarnya tidak bisa menembus tanah yang dipenuhi sampah. Akhirnya kami harus menanam lagi dari nol," ujar petugas Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, Yana Mulyana, kepada Kompas.com, Senin (27/7/2026).
Menurut Yana, posisi kawasan mangrove yang berada di antara aliran Kali Adem dan Cengkareng Drain membuat sampah dari kawasan hulu terus berdatangan, terutama saat air laut pasang.
Untuk mengurangi dampaknya, pengelola bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Flora Mangrove memasang pagar pelindung di sekitar area penanaman. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif ketika volume sampah yang terbawa arus meningkat.
Seorang anggota KTH Flora Mangrove mengatakan tingginya tingkat pencemaran membuat keberhasilan rehabilitasi mangrove di kawasan tersebut relatif rendah.
"Dari 100 bibit yang ditanam, kalau 50 saja bisa hidup itu sudah bagus. Air di sini membawa banyak sampah dan limbah dari dua sungai," ujarnya.
Selain sampah, proses rehabilitasi juga menghadapi tantangan lain, seperti kualitas air yang tercemar serta gangguan satwa liar, termasuk monyet ekor panjang yang kerap mematahkan bibit mangrove muda.
Karena itu, setiap kegiatan penanaman membutuhkan persiapan yang cukup panjang, mulai dari penyediaan bibit, pemasangan ajir bambu sebagai penyangga, hingga perlindungan bibit agar tidak hanyut atau tertimbun sampah.
Bagi Jakarta, keberadaan mangrove memiliki fungsi yang jauh melampaui penghijauan kawasan pesisir.
Hutan mangrove berperan menahan abrasi pantai, meredam energi gelombang, membantu mengurangi dampak banjir rob, serta menyerap karbon dan berbagai polutan dari lingkungan pesisir.
Karena itu, menurut Yana, menjaga mangrove tidak bisa hanya dilakukan di lokasi rehabilitasi, tetapi juga harus dimulai dari pengelolaan sampah di kawasan hulu.
"Harapannya masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Dampaknya kembali ke kita juga, bisa menyebabkan banjir dan berbagai persoalan lingkungan lainnya," katanya.
Program rehabilitasi mangrove juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Melalui Kelompok Tani Hutan Flora Mangrove, lebih dari 40 warga dilibatkan dalam kegiatan pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan mangrove.
Baca juga: Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Mangrove, Perempuan Pesisir di Kaltara Dilatih Olah Hasil Tambak
Bibit yang mereka hasilkan tidak hanya digunakan untuk rehabilitasi di Angke Kapuk, tetapi juga dipasok ke sejumlah lokasi lain yang membutuhkan tanaman mangrove.
"Kami fokus memperbanyak pembibitan karena kebutuhan mangrove terus ada. Kalau stok masih tersedia, kami juga memasok bibit ke kawasan lain seperti Marunda dan KCN," ujar anggota KTH Flora Mangrove.
Untuk meningkatkan peluang hidup tanaman, bibit yang ditanam umumnya telah berumur sekitar enam bulan sehingga sistem perakarannya lebih kuat.
Jenis mangrove yang digunakan juga disesuaikan dengan kondisi lokasi. Di kawasan yang lebih dekat ke laut, pengelola lebih banyak menggunakan bakau kurap (Rhizophora mucronata) karena memiliki sistem perakaran yang lebih kuat menghadapi arus.
Meski demikian, proses pemulihan mangrove tetap membutuhkan waktu panjang. Pohon mangrove memerlukan lebih dari lima tahun untuk membentuk sistem akar yang kokoh, sementara bibit yang gagal beradaptasi dengan kondisi salinitas dan tanah pesisir harus diganti melalui penanaman ulang secara berkala.
Bagi para pengelola, tantangan terbesar rehabilitasi mangrove di Jakarta bukan lagi soal menanam bibit, melainkan memastikan pohon-pohon tersebut dapat bertahan hidup di tengah tekanan sampah dan pencemaran yang terus datang dari hulu sungai.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya