JAKARTA, KOMPAS.com – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya menghadirkan tantangan bagi industri media, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.
Di tengah maraknya penggunaan AI generatif, jurnalisme berkualitas dinilai menjadi aset penting karena menyediakan data yang kredibel untuk melatih model AI.
CEO KG Media Andy Budiman Kumala mengatakan perusahaan media kini tidak lagi hanya menghasilkan konten untuk pembaca, tetapi juga menyediakan data tepercaya yang dibutuhkan perusahaan pengembang AI.
"Data itu bernilai, bukan hanya bagi pembaca manusia, tetapi juga bagi perusahaan AI yang membutuhkan data tepercaya untuk melatih model mereka. Sekarang kami mulai memperoleh nilai baru dalam bentuk pendapatan lisensi AI," ujar Andy dalam Opening Ceremony The 9th Sustainability and Media Academy (SAMI) yang diselenggarakan oleh Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Senin (27/7/2026).
Baca juga: Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi
Menurut dia, model AI membutuhkan data yang akurat, terverifikasi, dan memiliki konteks agar mampu menghasilkan informasi yang berkualitas serta meminimalkan risiko hallucination atau informasi yang keliru.
Karena itu, media yang mampu mempertahankan standar jurnalisme memiliki peluang memperoleh sumber pendapatan baru melalui skema lisensi konten kepada perusahaan AI.
Di sisi lain, Andy mengakui perkembangan AI juga mengubah model bisnis industri media.
Selama ini perusahaan media mengandalkan kunjungan pembaca ke situs berita maupun platform penyiaran untuk memperoleh pendapatan iklan. Namun, AI generatif kini dapat menyajikan jawaban langsung kepada pengguna dengan merangkum berbagai sumber informasi.
Akibatnya, hubungan langsung antara media dan pembaca berpotensi berkurang sehingga kemampuan media memperoleh nilai ekonomi dari kontennya ikut tergerus.
"Saat ini, dengan AI, jurnalisme kita diserap, diproses, direproduksi, dan diagregasi oleh platform AI, sering kali tanpa atribusi, tanpa pengakuan, apalagi kompensasi," kata Andy.
Ia mengatakan sekitar 60 persen pendapatan industri media saat ini masih bergantung pada iklan. Di tengah tren penurunan belanja iklan, media perlu mencari sumber pendapatan baru yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Menurut Andy, peluang memperoleh pendapatan dari lisensi AI hanya dapat diraih apabila media tetap mempertahankan kualitas jurnalistiknya.
Ia menilai strategi memperbanyak produksi konten demi mengejar trafik justru berisiko menurunkan nilai jurnalisme di tengah banjir konten yang dihasilkan AI.
"Di dunia yang dibanjiri konten, kesalahan terbesar adalah semakin mengomodifikasi jurnalisme. Selama ini kita mencoba menutup penurunan nilai dengan memproduksi lebih banyak konten, padahal yang terjadi justru semakin menurunkan nilai konten itu sendiri," ujarnya.
Karena itu, ada sejumlah poin yang bisa dilakukan oleh media di tengah maraknya penggunaan digitalisasi.
Pertama, terus berinvestasi pada jurnalisme yang mendalam dan berkualitas agar menghasilkan konten yang bernilai tinggi bagi pembaca maupun perusahaan AI.
Kedua, memperkuat distribusi konten melalui berbagai platform agar dapat menjangkau audiens sesuai perubahan pola konsumsi informasi.
Ketiga, melakukan diversifikasi sumber pendapatan di luar iklan, antara lain melalui lisensi AI, penerbitan buku, penyelenggaraan acara, serta layanan riset.
Menurut Andy, langkah tersebut menjadi cara agar industri media tidak sekadar bertahan menghadapi disrupsi AI, tetapi juga memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang untuk membangun model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya