Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ESI: Indonesia Tak Lagi Punya Pilihan Selain Percepat Transisi Energi

Kompas.com, 30 Juli 2026, 19:29 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dinilai tidak lagi memiliki pilihan selain mempercepat transisi menuju energi bersih seiring semakin sulitnya pendanaan bagi proyek-proyek energi fosil di tingkat global.

Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna mengatakan perubahan arah investasi dunia membuat pengembangan pembangkit listrik berbasis batu bara semakin sulit dilakukan.

Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa Indonesia perlu segera menyiapkan strategi energi dan industri yang berorientasi pada masa depan.

"Pintu di belakang Indonesia itu sudah tertutup. Mau membangun PLTU lagi sudah tidak gampang, sehingga kita benar-benar harus melihat ke depan," ujar Putra dalam *Indonesia Net Zero Summit 2026 Press Briefing, Rabu (29/7/2026).

Menurut Putra, dunia kini memasuki era baru industrialisasi hijau, di mana investasi pada energi bersih secara konsisten telah melampaui investasi di sektor bahan bakar fosil dalam beberapa tahun terakhir.

Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa modal global semakin mengarah pada pengembangan energi terbarukan dan industri rendah emisi.

Indonesia perlu manfaatkan peluang industri hijau

Putra menilai perubahan tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia yang memiliki cadangan mineral kritis sebagai bahan baku teknologi energi bersih.

Namun, menurut dia, nilai tambah tidak akan tercipta apabila Indonesia hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah.

Ia mengatakan Indonesia perlu membangun industri manufaktur yang mampu mengolah mineral menjadi produk teknologi hijau, seperti komponen panel surya maupun kendaraan listrik.

"Indonesia berada di persimpangan. Kita tentu tidak ingin panel surya dan mobil listrik semuanya berasal dari impor. Di situlah peluang untuk membangun industri hijau," katanya.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu segera menetapkan arah Strategi Industri Hijau yang jelas agar memberikan kepastian bagi investor.

Menurut Putra, strategi tersebut dapat mencakup peningkatan standar lingkungan pada industri pertambangan sekaligus pengembangan manufaktur komponen energi terbarukan di dalam negeri.

Persaingan investasi semakin ketat

Putra menilai transisi energi kini menjadi ajang persaingan antarnegara di Asia untuk menarik investasi industri hijau.

Ia mencontohkan China yang mampu menambah kapasitas energi terbarukan hingga sekitar 200 gigawatt dalam enam bulan. Sementara India terus mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dalam skala besar.

Menurut dia, Indonesia perlu memperhatikan perkembangan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan India yang juga berlomba menyediakan pasokan energi bersih bagi industri.

"Kalau India, Vietnam, dan Malaysia memiliki energi terbarukan yang lebih banyak, sementara saya ingin membangun industri hijau, tentu saya akan memilih negara yang mampu menyediakan energi bersih. Kita sedang berada dalam sebuah perlombaan," ujarnya.

Selain meningkatkan daya saing industri, Putra menilai transisi energi juga penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Ia mengatakan anggapan bahwa Indonesia harus mencapai ketahanan energi terlebih dahulu sebelum beralih ke energi bersih sudah tidak lagi relevan.

Pasalnya, sekitar 70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor sehingga Indonesia tetap menghadapi risiko ketergantungan terhadap pasar energi global.

"Apakah kita benar-benar aman ketika 70 persen minyak kita masih impor? Polusinya tinggi dan uangnya mengalir ke negara lain. Apakah kita aman jika batu bara semakin sulit memperoleh pendanaan?" kata Putra.

Menurut dia, ketahanan energi dan transisi menuju energi bersih kini bukan lagi dua agenda yang terpisah, melainkan saling berkaitan.

Karena itu, Indonesia perlu menjaga momentum transisi energi melalui langkah-langkah yang konsisten agar tidak tertinggal dalam persaingan investasi industri hijau di kawasan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
LSM/Figur
Mayoritas Negara Gagal Pangkas Subsidi yang Merusak Alam
Mayoritas Negara Gagal Pangkas Subsidi yang Merusak Alam
Pemerintah
Inisiatif Bioenergy Lestari Diakui Dunia, Pertamina Raih Outstanding SDG Innovator 2026
Inisiatif Bioenergy Lestari Diakui Dunia, Pertamina Raih Outstanding SDG Innovator 2026
BUMN
Deloitte Ungkap Mayoritas Dewan Direksi Belum Punya Aturan Penggunaan AI
Deloitte Ungkap Mayoritas Dewan Direksi Belum Punya Aturan Penggunaan AI
Pemerintah
Sistem 'All Indonesia' Diterapkan di PLBN Entikong, Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perbatasan
Sistem "All Indonesia" Diterapkan di PLBN Entikong, Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perbatasan
Pemerintah
ESI: Indonesia Tak Lagi Punya Pilihan Selain Percepat Transisi Energi
ESI: Indonesia Tak Lagi Punya Pilihan Selain Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
PGN Bangun Rantai Nilai Ekonomi Sirkular hingga Hilirisasi di Cilegon
PGN Bangun Rantai Nilai Ekonomi Sirkular hingga Hilirisasi di Cilegon
BUMN
Perkuat Ekonomi Inklusif Papua, 1.700 Rumah Tangga Dapat Pendampingan Literasi Keuangan
Perkuat Ekonomi Inklusif Papua, 1.700 Rumah Tangga Dapat Pendampingan Literasi Keuangan
Pemerintah
FPCI Desak Indonesia Percepat Target Net Zero Emission Jadi 2050
FPCI Desak Indonesia Percepat Target Net Zero Emission Jadi 2050
LSM/Figur
Peneliti Petakan Titik Rawan Kekeringan Global, Mana Saja yang Berisiko?
Peneliti Petakan Titik Rawan Kekeringan Global, Mana Saja yang Berisiko?
LSM/Figur
Kerentanan Sumber Daya Air Musim Kemarau 2026
Kerentanan Sumber Daya Air Musim Kemarau 2026
Pemerintah
Pertamina Perkuat Pemulihan Ekonomi dan Ketangguhan Masyarakat Pascabencana Sumatera
Pertamina Perkuat Pemulihan Ekonomi dan Ketangguhan Masyarakat Pascabencana Sumatera
BrandzView
Daur Ulang Fasilitas Produksi Energi Fosil Bisa Tekan Biaya Kerusakan Alam
Daur Ulang Fasilitas Produksi Energi Fosil Bisa Tekan Biaya Kerusakan Alam
LSM/Figur
'Me Time' Ramah Lingkungan, Kini Ada Alat yang Ukur Emisi Khusus Spa
"Me Time" Ramah Lingkungan, Kini Ada Alat yang Ukur Emisi Khusus Spa
Pemerintah
Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau