KOMPAS.com - Kebiasaan mandi sehari-hari, seperti saat keramas ternyata menjadi pemicu utama borosnya penggunaan air di rumah. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru dari University of Surrey.
Dipublikasikan dalam Journal of Environmental Management, para peneliti menemukan bahwa aktivitas mandi menyedot 25 persen hingga 45persen dari total penggunaan air di dalam rumah. Ini menjadikan mandi sebagai penyumbang pemborosan air terbesar di rumah tangga.
Sayangnya, melansir Phys, Kamis (30/7/2026) aturan pemerintah untuk menghemat air selama ini lebih berfokus pada teknologi seperti shower hemat air atau tarif air, ketimbang memahami kebiasaan orang-orang saat mandi.
Baca juga: Kerentanan Sumber Daya Air Musim Kemarau 2026
Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi waktu mandi sebenarnya lebih ditentukan oleh rutinitas mandi dan produk yang digunakan, bukan karena faktor jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, atau tipe rumah.
Para peneliti mengamati kebiasaan mandi di 319 rumah tangga di Jerman menggunakan sensor pintar yang dipasang di kamar mandi.
Selama 40 hari, alat ini mencatat 8.550 kali aktivitas mandi, termasuk durasi mandi, jeda mematikan air, hingga kondisi ruangan.
Data ini kemudian digabungkan dengan survei singkat setelah mandi untuk menghubungkan kebiasaan tersebut dengan informasi seperti produk yang dipakai hingga jenis rambut pengguna.
"Ternyata penentu terbesar borosnya air bukanlah siapa Anda atau di mana Anda tinggal, melainkan apa yang sebenarnya Anda lakukan saat berada di dalam kamar mandi. Kebiasaan kecil seperti memakai sampo dua kali atau membiarkan air tetap mengalir saat menyabuni badan bisa memperlama waktu mandi jauh lebih besar dari yang kita sadari," terang Dr. Pablo Pereira-Doel, salah satu peneliti dari University of Surrey.
Hasil analisis menunjukkan bahwa mandi dengan keramas menggunakan sampo dua kali, lebih memakan waktu 27 persen lebih lama dibanding yang hanya memakai sampo sekali.
Begitu pula dengan orang yang sering mematikan-menyalakan air (3 kali jeda atau lebih), waktu mandinya justru 20 persen lebih lama dibanding orang yang sama sekali tidak mematikan air.
Selain itu, kelompok usia muda dan dewasa juga cenderung mandi lebih lama ketimbang orang yang berusia di atas 50 tahun.
Baca juga: Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Tingkat kandungan kapur atau mineral dalam air juga berpengaruh. Orang yang mandi dengan air rendah kandungan mineral cenderung mandi 23 persen lebih lama dibandingkan mereka yang berada di daerah air berdosis mineral tinggi.
Hal ini kemungkinan terjadi karena air rendah kandungan mineral menghasilkan lebih banyak busa dan terasa lebih nyaman di kulit, sehingga membuat orang betah berlama-lama mandi.
Para peneliti berpendapat bahwa temuan ini bisa membantu menciptakan strategi hemat air yang lebih efektif. Daripada hanya mengandalkan teknologi canggih atau menaikkan harga tarif air, pendekatan bisa dilakukan dengan mengubah kebiasaan saat mandi seperti mengimbau orang untuk keramas cukup sekali saja atau mematikan kran saat menyabuni badan.
"Jika kita ingin mengurangi pemborosan air di rumah, kita harus membuat solusi yang sejalan dengan kebiasaan orang. Bujukan perubahan perilaku, alat pengingat pintar di kamar mandi, hingga desain produk yang lebih baik dapat membantu orang menghemat air tanpa mengurangi kenyamanan mereka," tambah Dr. Pereira-Doel.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya