KOMPAS.com - Sebuah studi yang dilakukan di Inggris mengungkapkan gagasan untuk beralih sepenuhnya ke peternakan ayam umbaran (free-range) berbasis organik dapat memicu emisi gas rumah kaca yang setara dengan 2.316.000 ton CO2.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telur organik dua kali lebih buruk bagi iklim dibandingkan telur yang dihasilkan oleh ayam di dalam kandang (caged).
Melansir Guardian, Kamis (29/7/2026) menurut studi tersebut, jika seluruh produksi telur di Inggris diubah menjadi sistem organik umbaran, emisi gas rumah kaca yang dihasilkan akan mencapai setara 2.316.000 ton CO2.
Sebaliknya, jika seluruhnya menggunakan sistem kandang sangkar, emisi yang dihasilkan hanya sekitar 1.184.000 ton CO2.
Mengapa telur organik hasilkan lebih banyak polusi?
Hal ini terjadi karena sistem organik umbaran membutuhkan lebih banyak ayam untuk menghasilkan jumlah telur yang sama. Sementara itu, ayam yang hidup di dalam kandang sangkar cenderung bertelur lebih efisien.
Baca juga: 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Sistem organik umbaran juga mencatatkan nilai terburuk pada tingkat pemborosan tanah, pencemaran air, dan peningkatan kadar asam lingkungan. Para peneliti juga menyebutkan bahwa tingkat kematian ayam paling tinggi justru terjadi di peternakan organik umbaran.
Meskipun begitu, para peneliti mengakui adanya keterbatasan karena studi ini menggunakan data dari tahun 2009–2010, yang belum mencatat kemajuan teknologi peternakan telur terbaru.
Penelitian ini juga belum memperhitungkan dampak lingkungan lain seperti penggunaan pestisida atau keberagaman hayati.
Dr. Harriet Bartlett, salah satu penulis studi ini, menyampaikan bahwa ayam petelur adalah kelompok hewan terbesar yang dikandangkan di seluruh dunia. Karena konsumsi telur global terus meningkat, cara memperlakukan ayam-ayam ini menjadi hal yang sangat penting untuk memperhatikan kesejahteraan hewan.
“Saya rasa isu ini juga sedikit luput dari perhatian saat kita bicara tentang kelestarian lingkungan. Minyak, daging, dan produk susu mendapatkan perhatian lebih banyak dalam pembahasan kelestarian lingkungan, sementara produksi telur belum banyak diteliti,” katanya.
Bartlett adalah peneliti senior di Smith School of Enterprise and the Environment Universitas Oxford, yang sebelumnya telah mempelajari metode peternakan intensif.
Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Royal Society Open Science ini melibatkan Bartlett dan rekan-rekannya yang meneliti data dari peternakan unggas di Inggris.
Mereka menghitung dampak lingkungan seperti emisi gas rumah kaca, penggunaan lahan, dan jenis pencemaran. Selain itu, mereka juga melihat indikator kesejahteraan hewan, seperti tingkat kematian dan jumlah ayam yang dibutuhkan untuk menghasilkan jumlah telur tertentu.
“Kemudian kami membuat pemodelan untuk menghitung hasil dampak lingkungan dan kesejahteraan hewan ini,” katanya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya