Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Rutinitas Keramas Pengaruhi Tingginya Konsumsi Air Rumah Tangga

Kompas.com, 31 Juli 2026, 20:58 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Kebiasaan mandi sehari-hari, seperti saat keramas ternyata menjadi pemicu utama borosnya penggunaan air di rumah. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru dari University of Surrey.

Dipublikasikan dalam Journal of Environmental Management, para peneliti menemukan bahwa aktivitas mandi menyedot 25 persen hingga 45persen dari total penggunaan air di dalam rumah. Ini menjadikan mandi sebagai penyumbang pemborosan air terbesar di rumah tangga.

Sayangnya, melansir Phys, Kamis (30/7/2026) aturan pemerintah untuk menghemat air selama ini lebih berfokus pada teknologi seperti shower hemat air atau tarif air, ketimbang memahami kebiasaan orang-orang saat mandi.

Baca juga: Kerentanan Sumber Daya Air Musim Kemarau 2026

Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi waktu mandi sebenarnya lebih ditentukan oleh rutinitas mandi dan produk yang digunakan, bukan karena faktor jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, atau tipe rumah.

Kebiasaan di kamar mandi

Para peneliti mengamati kebiasaan mandi di 319 rumah tangga di Jerman menggunakan sensor pintar yang dipasang di kamar mandi.

Selama 40 hari, alat ini mencatat 8.550 kali aktivitas mandi, termasuk durasi mandi, jeda mematikan air, hingga kondisi ruangan.

Data ini kemudian digabungkan dengan survei singkat setelah mandi untuk menghubungkan kebiasaan tersebut dengan informasi seperti produk yang dipakai hingga jenis rambut pengguna.

"Ternyata penentu terbesar borosnya air bukanlah siapa Anda atau di mana Anda tinggal, melainkan apa yang sebenarnya Anda lakukan saat berada di dalam kamar mandi. Kebiasaan kecil seperti memakai sampo dua kali atau membiarkan air tetap mengalir saat menyabuni badan bisa memperlama waktu mandi jauh lebih besar dari yang kita sadari," terang Dr. Pablo Pereira-Doel, salah satu peneliti dari University of Surrey.

Hasil analisis menunjukkan bahwa mandi dengan keramas menggunakan sampo dua kali, lebih memakan waktu 27 persen lebih lama dibanding yang hanya memakai sampo sekali.

Begitu pula dengan orang yang sering mematikan-menyalakan air (3 kali jeda atau lebih), waktu mandinya justru 20 persen lebih lama dibanding orang yang sama sekali tidak mematikan air.

Selain itu, kelompok usia muda dan dewasa juga cenderung mandi lebih lama ketimbang orang yang berusia di atas 50 tahun.

Baca juga: Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air

Tingkat kandungan kapur atau mineral dalam air juga berpengaruh. Orang yang mandi dengan air rendah kandungan mineral cenderung mandi 23 persen lebih lama dibandingkan mereka yang berada di daerah air berdosis mineral tinggi.

Hal ini kemungkinan terjadi karena air rendah kandungan mineral menghasilkan lebih banyak busa dan terasa lebih nyaman di kulit, sehingga membuat orang betah berlama-lama mandi.

Para peneliti berpendapat bahwa temuan ini bisa membantu menciptakan strategi hemat air yang lebih efektif. Daripada hanya mengandalkan teknologi canggih atau menaikkan harga tarif air, pendekatan bisa dilakukan dengan mengubah kebiasaan saat mandi seperti mengimbau orang untuk keramas cukup sekali saja atau mematikan kran saat menyabuni badan.

"Jika kita ingin mengurangi pemborosan air di rumah, kita harus membuat solusi yang sejalan dengan kebiasaan orang. Bujukan perubahan perilaku, alat pengingat pintar di kamar mandi, hingga desain produk yang lebih baik dapat membantu orang menghemat air tanpa mengurangi kenyamanan mereka," tambah Dr. Pereira-Doel.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau