Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penguatan Ekonomi Keluarga Jadi Bagian Strategi Menekan Kemiskinan di Papua

Kompas.com, 2 Agustus 2026, 14:34 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Pengurangan kemiskinan masih menjadi salah satu tantangan utama pembangunan di Papua.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat persentase penduduk miskin mencapai 17,82 (September 2025), lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional yang berada di angka 8,25 persen.

Sementara itu, BPS juga mencatat tingkat kemiskinan di wilayah perdesaan secara nasional mencapai 10,72 persen, lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan yang sebesar 6,60 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi di kawasan perdesaan masih memerlukan perhatian khusus, termasuk di Papua yang sebagian besar penduduknya tinggal di wilayah kampung.

Di Papua, tantangan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan tingkat pendapatan masyarakat, tetapi juga dipengaruhi keterbatasan akses terhadap pendidikan, pembiayaan, pendampingan usaha, teknologi, serta pasar.

Sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, perikanan, dan usaha mikro yang produktivitasnya masih relatif rendah.

Akibatnya, berbagai potensi ekonomi lokal belum sepenuhnya berkembang menjadi sumber pendapatan yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga secara berkelanjutan.

Sejumlah kajian pembangunan menempatkan penguatan ekonomi rumah tangga sebagai salah satu pendekatan yang dapat melengkapi berbagai program perlindungan sosial.

Melalui pendekatan tersebut, keluarga tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga didorong menjadi pelaku utama yang mampu merencanakan, mengelola, dan mengembangkan aktivitas ekonomi sesuai potensi yang dimiliki.

Pendekatan tersebut mulai diterapkan melalui Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu–Perencanaan Berbasis Rumah Tangga (Tekad PBRT) yang dijalankan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) melalui Direktorat Pengembangan Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal.

Kemendes juga menjalin kerja sama dengan Kitong Bisa Foundation dengan dukungan International Fund for Agricultural Development (IFAD). Program ini menjangkau 1.975 rumah tangga di 79 kampung tersebar di Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, dan Kepulauan Yapen.

Masyarakat memperoleh pelatihan literasi keuangan, penyusunan perencanaan ekonomi keluarga, penguatan kewirausahaan, serta pendampingan pengembangan usaha berdasarkan potensi ekonomi masing-masing kampung.

Selain pelatihan, masyarakat juga memperoleh pendampingan melalui demonstration plot (demplot) sebagai media pembelajaran mengembangkan komoditas unggulan desa.

Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus membuka peluang usaha lebih berkelanjutan sesuai karakteristik wilayah.

Pelatihan menggunakan pendekatan Household Management System (HMS) melalui metode Perencanaan Berbasis Rumah Tangga (PBRT).

Setiap keluarga didampingi memetakan kondisi ekonomi, menghitung pendapatan dan pengeluaran, mengidentifikasi aset produktif, menyusun prioritas kebutuhan, hingga merencanakan pengembangan usaha yang sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Data yang diperoleh selama proses pendampingan diharapkan tidak hanya menjadi dasar penyusunan rencana ekonomi keluarga, tetapi juga dapat dimanfaatkan pemerintah kampung sebagai masukan dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

Dengan demikian, pembangunan desa diharapkan semakin selaras dengan kebutuhan riil masyarakat.

Direktur Pengembangan Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal Kemendes PDT mengatakan penguatan ekonomi keluarga merupakan salah satu bagian penting dari strategi pembangunan desa yang berorientasi pada pengurangan kemiskinan.

"Keberhasilan program seperti ini tidak diukur dari banyaknya pelatihan yang dilaksanakan ataupun jumlah peserta yang terlibat," jelasnya.

Yang paling penting adalah apakah setelah pendampingan masyarakat benar-benar mengalami perubahan, baik dalam kemampuan mengelola keuangan, meningkatkan produktivitas usaha, maupun bertambahnya pendapatan keluarga.

"Karena itu, Kemendes PDT akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi bersama pemerintah daerah serta mitra pelaksana agar setiap intervensi benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hasil pemantauan tersebut akan menjadi dasar evaluasi dan penyempurnaan model pemberdayaan agar lebih efektif menjawab tantangan kemiskinan di wilayah perdesaan.

"Pengurangan kemiskinan tidak dapat diselesaikan oleh satu program saja. Dibutuhkan sinergi antara pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, perluasan akses pembiayaan, penguatan kelembagaan desa, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program seperti TEKAD PBRT menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut," katanya.

CEO Kitong Bisa Foundation, Mohamad Afif Dzulqifli, mengatakan pendampingan dirancang untuk membantu masyarakat membangun kemandirian ekonomi dalam jangka panjang.

"Masyarakat Papua memiliki potensi ekonomi yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikelola menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan," ungkap Afif.

"Melalui pendampingan ini, keluarga dibantu menyusun perencanaan ekonomi yang lebih terarah, mengelola keuangan secara lebih baik, serta mengembangkan usaha yang sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing," ujarnya.

Pelaksanaan program di empat kabupaten tersebut juga menghadapi tantangan geografis yang tidak ringan.

Untuk menjangkau 79 kampung, para fasilitator harus menempuh perjalanan berjam-jam melalui jalur darat, sementara sejumlah wilayah di Kabupaten Kepulauan Yapen hanya dapat diakses menggunakan transportasi laut.

Kondisi tersebut mencerminkan masih besarnya tantangan pemerataan layanan pemberdayaan masyarakat di wilayah terpencil Papua.

Adviser Kitong Bisa Foundation, Rachel Mambrasar, menilai keluarga merupakan fondasi pembangunan ekonomi desa karena setiap rumah tangga memiliki kondisi, potensi, dan kebutuhan yang berbeda.

"Perencanaan ekonomi yang disusun berdasarkan kondisi setiap keluarga akan lebih realistis untuk dijalankan. Ketika keluarga mampu mengelola keuangan dan mengembangkan usaha secara bertahap, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga dapat memperkuat ekonomi kampung," katanya.

Sejumlah kepala kampung dan tokoh masyarakat di Kabupaten Sarmi menyampaikan, pendampingan membantu masyarakat memahami pengelolaan keuangan keluarga sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas unggulan melalui demplot yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bersama.

Meski angka kemiskinan di Papua menunjukkan tren membaik dalam beberapa tahun terakhir, tantangan pembangunan ekonomi masyarakat perdesaan masih membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Selain pembangunan infrastruktur dan peningkatan layanan dasar, penguatan kapasitas ekonomi keluarga dinilai menjadi salah satu fondasi penting agar masyarakat mampu membangun sumber penghidupan yang lebih produktif.

Keberhasilan pendekatan ini bergantung pada kesinambungan pendampingan, evaluasi hasil di lapangan, serta sinergi pemerintah dan mitra memastikan setiap intervensi menghasilkan perubahan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan dan penurunan kemiskinan secara berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penguatan Ekonomi Keluarga Jadi Bagian Strategi Menekan Kemiskinan di Papua
Penguatan Ekonomi Keluarga Jadi Bagian Strategi Menekan Kemiskinan di Papua
Pemerintah
Telur Ayam Umbaran vs Telur dalam Kandang: Mana Lebih Ramah Iklim?
Telur Ayam Umbaran vs Telur dalam Kandang: Mana Lebih Ramah Iklim?
Pemerintah
Regulasi Keberlanjutan Akan Makin Ketat, Ini Sektor Ekonomi Berisiko dan Paling Progresif
Regulasi Keberlanjutan Akan Makin Ketat, Ini Sektor Ekonomi Berisiko dan Paling Progresif
Swasta
Studi: Rutinitas Keramas Pengaruhi Tingginya Konsumsi Air Rumah Tangga
Studi: Rutinitas Keramas Pengaruhi Tingginya Konsumsi Air Rumah Tangga
Pemerintah
Perkuat Ekosistem Energi Bersih, Pertamina Gandeng Pemprov Jabar Kembangkan Hidrogen Rendah Karbon dari Sampah
Perkuat Ekosistem Energi Bersih, Pertamina Gandeng Pemprov Jabar Kembangkan Hidrogen Rendah Karbon dari Sampah
BUMN
Industri Tekstil Global Hasilkan 92.000 Ton Polusi Serat Mikro Per Tahun
Industri Tekstil Global Hasilkan 92.000 Ton Polusi Serat Mikro Per Tahun
LSM/Figur
IBCSD: Klaim 'Ramah Lingkungan' Tanpa Data Berisiko Jadi 'Greenwashing'
IBCSD: Klaim "Ramah Lingkungan" Tanpa Data Berisiko Jadi "Greenwashing"
Swasta
GRI: Laporan Keberlanjutan Perusahaan di Indonesia Mulai Adopsi Isu Iklim
GRI: Laporan Keberlanjutan Perusahaan di Indonesia Mulai Adopsi Isu Iklim
Swasta
Kacang Lokal Berpotensi Jadi Bahan Baku Tempe Pengganti Kedelai
Kacang Lokal Berpotensi Jadi Bahan Baku Tempe Pengganti Kedelai
LSM/Figur
Pendanaan HIV Dipangkas, Target Global Bebas AIDS 2030 Terancam Gagal
Pendanaan HIV Dipangkas, Target Global Bebas AIDS 2030 Terancam Gagal
Pemerintah
IPB Kembangkan Pupuk Bokashi dari Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan
IPB Kembangkan Pupuk Bokashi dari Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan
LSM/Figur
Pemerintah DIdesak Evaluasi RUPTL dan RUKN di Tengah Ancaman El Niño 2026
Pemerintah DIdesak Evaluasi RUPTL dan RUKN di Tengah Ancaman El Niño 2026
LSM/Figur
Ekonomi Biru Asia Tenggara Terancam Kerusakan Lingkungan dan Minim Dana
Ekonomi Biru Asia Tenggara Terancam Kerusakan Lingkungan dan Minim Dana
Pemerintah
Pemerintah dan YKAN Susun Peta Risiko Karhutla Gambut di Kalbar
Pemerintah dan YKAN Susun Peta Risiko Karhutla Gambut di Kalbar
Pemerintah
Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau