JAKARTA, KOMPAS.com – Penurunan populasi ikan kakatua di perairan Indonesia dikhawatirkan memicu kerusakan ekosistem pesisir. Penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat membuat ikan yang berperan menjaga kesehatan terumbu karang ini semakin terancam.
Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University Adriani Sunuddin mengatakan, berkurangnya populasi ikan kakatua dapat memicu dominasi alga di atas terumbu karang.
Kondisi tersebut akan menghambat pertumbuhan karang baru sekaligus meningkatkan kerentanan terumbu karang terhadap penyakit maupun pemutihan karang (coral bleaching).
Baca juga: Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
"Konservasi ikan kakatua bukan hanya menjaga satu jenis ikan, tetapi juga mempertahankan kemampuan terumbu karang untuk pulih, melindungi keanekaragaman hayati laut, dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir," ujar Adriani, dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu (1/8/2026).
Selain mengganggu keseimbangan ekosistem laut, penurunan populasi ikan kakatua juga berpotensi mengurangi pembentukan pasir alami di wilayah pesisir.
Menurut Adriani, seekor ikan kakatua dewasa mampu menghasilkan sekitar 90 hingga 450 kilogram pasir setiap tahun. Bahkan, ikan kakatua kepala benjol (*Bolbometopon muricatum*) dapat menghasilkan lebih dari lima ton pasir per tahun. Pasir tersebut menjadi salah satu material alami pembentuk pantai berpasir putih dan pulau-pulau kecil di kawasan terumbu karang.
Meski sering terlihat menggigit dan menghancurkan permukaan karang, Adriani menegaskan perilaku tersebut justru penting bagi kelestarian ekosistem.
Ia menjelaskan bahwa sasaran utama ikan kakatua bukanlah karang itu sendiri, melainkan alga dan mikroorganisme yang menempel di permukaannya. Saat mencari makan, ikan kakatua mengikis sebagian matriks kapur karang, kemudian mengeluarkan sisa material tersebut dalam bentuk butiran pasir halus setelah melalui proses pencernaan.
"Ikan kakatua berperan sebagai insinyur ekosistem terumbu karang. Aktivitas mengikis maupun mengunyah karang memberikan manfaat ekologis yang jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik yang ditimbulkannya," kata Adriani.
Berdasarkan cara makannya, ikan kakatua terbagi menjadi dua kelompok, yaitu scrapers (pengikis) dan excavators (pengeruk).
Kelompok pengikis membantu membersihkan alga yang tumbuh di permukaan karang sehingga larva karang memiliki ruang untuk menempel dan membentuk koloni baru.
Sementara itu, kelompok pengeruk membantu menyebarkan fragmen karang maupun alga endosimbion yang masih hidup sehingga mendukung proses regenerasi alami terumbu karang.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Kerugian Besar akibat Hilangnya Kesempatan Karang Bertumbuh
Mengutip laman Teluk Cenderawasih National Park, ikan kakatua menghabiskan sekitar 90 persen waktunya untuk mencari makan dengan membersihkan alga yang menutupi terumbu karang. Keberadaan ikan ini membantu menjaga kesehatan karang sehingga lebih mampu bertahan menghadapi perubahan suhu laut, pencemaran, maupun meningkatnya kekeruhan air.
Sebaliknya, apabila populasi alga tidak terkendali akibat berkurangnya ikan kakatua, pertumbuhan karang akan terhambat dan keseimbangan ekosistem laut dapat terganggu.
Untuk menjaga populasi ikan kakatua, Adriani mendorong penguatan hukum adat di wilayah pesisir serta peningkatan edukasi kepada masyarakat agar tidak menangkap ikan tersebut secara berlebihan.
Menurut dia, pengelolaan berbasis masyarakat yang disertai aturan penangkapan sederhana dapat menjadi langkah efektif untuk menjaga populasi ikan kakatua sekaligus mempertahankan kesehatan ekosistem terumbu karang.
Ikan kakatua sendiri merupakan kelompok ikan yang hidup di perairan dangkal tropis dan subtropis. Habitatnya tersebar di kawasan terumbu karang, pantai berbatu, hingga padang lamun yang menjadi bagian penting dari ekosistem pesisir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya