Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir

Kompas.com, 3 Agustus 2026, 09:52 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Penurunan populasi ikan kakatua di perairan Indonesia dikhawatirkan memicu kerusakan ekosistem pesisir. Penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat membuat ikan yang berperan menjaga kesehatan terumbu karang ini semakin terancam.

Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University Adriani Sunuddin mengatakan, berkurangnya populasi ikan kakatua dapat memicu dominasi alga di atas terumbu karang.

Kondisi tersebut akan menghambat pertumbuhan karang baru sekaligus meningkatkan kerentanan terumbu karang terhadap penyakit maupun pemutihan karang (coral bleaching).

Baca juga: Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang

"Konservasi ikan kakatua bukan hanya menjaga satu jenis ikan, tetapi juga mempertahankan kemampuan terumbu karang untuk pulih, melindungi keanekaragaman hayati laut, dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir," ujar Adriani, dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu (1/8/2026).

Selain mengganggu keseimbangan ekosistem laut, penurunan populasi ikan kakatua juga berpotensi mengurangi pembentukan pasir alami di wilayah pesisir.

Menurut Adriani, seekor ikan kakatua dewasa mampu menghasilkan sekitar 90 hingga 450 kilogram pasir setiap tahun. Bahkan, ikan kakatua kepala benjol (*Bolbometopon muricatum*) dapat menghasilkan lebih dari lima ton pasir per tahun. Pasir tersebut menjadi salah satu material alami pembentuk pantai berpasir putih dan pulau-pulau kecil di kawasan terumbu karang.

Berperan menjaga kesehatan terumbu karang

Meski sering terlihat menggigit dan menghancurkan permukaan karang, Adriani menegaskan perilaku tersebut justru penting bagi kelestarian ekosistem.

Ia menjelaskan bahwa sasaran utama ikan kakatua bukanlah karang itu sendiri, melainkan alga dan mikroorganisme yang menempel di permukaannya. Saat mencari makan, ikan kakatua mengikis sebagian matriks kapur karang, kemudian mengeluarkan sisa material tersebut dalam bentuk butiran pasir halus setelah melalui proses pencernaan.

"Ikan kakatua berperan sebagai insinyur ekosistem terumbu karang. Aktivitas mengikis maupun mengunyah karang memberikan manfaat ekologis yang jauh lebih besar dibandingkan kerusakan fisik yang ditimbulkannya," kata Adriani.

Berdasarkan cara makannya, ikan kakatua terbagi menjadi dua kelompok, yaitu scrapers (pengikis) dan excavators (pengeruk).

Kelompok pengikis membantu membersihkan alga yang tumbuh di permukaan karang sehingga larva karang memiliki ruang untuk menempel dan membentuk koloni baru.

Sementara itu, kelompok pengeruk membantu menyebarkan fragmen karang maupun alga endosimbion yang masih hidup sehingga mendukung proses regenerasi alami terumbu karang.

Baca juga: Krisis Iklim Picu Kerugian Besar akibat Hilangnya Kesempatan Karang Bertumbuh

Mengutip laman Teluk Cenderawasih National Park, ikan kakatua menghabiskan sekitar 90 persen waktunya untuk mencari makan dengan membersihkan alga yang menutupi terumbu karang. Keberadaan ikan ini membantu menjaga kesehatan karang sehingga lebih mampu bertahan menghadapi perubahan suhu laut, pencemaran, maupun meningkatnya kekeruhan air.

Sebaliknya, apabila populasi alga tidak terkendali akibat berkurangnya ikan kakatua, pertumbuhan karang akan terhambat dan keseimbangan ekosistem laut dapat terganggu.

Dorong perlindungan berbasis masyarakat

Untuk menjaga populasi ikan kakatua, Adriani mendorong penguatan hukum adat di wilayah pesisir serta peningkatan edukasi kepada masyarakat agar tidak menangkap ikan tersebut secara berlebihan.

Menurut dia, pengelolaan berbasis masyarakat yang disertai aturan penangkapan sederhana dapat menjadi langkah efektif untuk menjaga populasi ikan kakatua sekaligus mempertahankan kesehatan ekosistem terumbu karang.

Ikan kakatua sendiri merupakan kelompok ikan yang hidup di perairan dangkal tropis dan subtropis. Habitatnya tersebar di kawasan terumbu karang, pantai berbatu, hingga padang lamun yang menjadi bagian penting dari ekosistem pesisir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
LSM/Figur
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Pemerintah
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Pemerintah
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
BrandzView
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Pemerintah
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
LSM/Figur
Waspada Panas Ekstrem,  Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Waspada Panas Ekstrem, Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Pemerintah
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Pemerintah
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Pemerintah
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Pemerintah
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Pemerintah
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Pemerintah
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Pemerintah
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
LSM/Figur
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau