Penulis
KOMPAS.com - Kanker masih menjadi salah satu ancaman kesehatan publik paling mematikan di Indonesia. Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2024 mencatat ada lebih dari 1,13 juta penderita kanker di Tanah Air, dengan angka kematian menembus 283 ribu jiwa per tahun.
Tingginya angka fatalitas ini sebagian besar dipicu oleh keterlambatan diagnosis, di mana mayoritas pasien baru mendatangi fasilitas kesehatan saat penyakit telah memasuki stadium lanjut.
Padahal, kunci utama menekan beban pembiayaan kesehatan dan meningkatkan angka harapan hidup pasien justru terletak pada deteksi dini.
Mengubah cara pandang masyarakat dari sekadar pengobatan (kuratif) menjadi pencegahan (preventif) kini menjadi kebutuhan mendesak agar kasus kanker dapat ditemukan pada stadium awal, saat peluang kesembuhannya masih jauh lebih tinggi.
Kebutuhan krusial akan perluasan akses skrining dan transformasi layanan primer ini menjadi fokus utama dalam Bogor Oncology Summit (BOSS) 2026 yang digelar di Bogor, Jawa Barat, bertepatan satu tahun berdirinya Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC).
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin yang hadir sebagai keynote speaker menegaskan bahwa Indonesia tidak cukup hanya memperkuat layanan pengobatan kanker, tetapi juga harus mengubah paradigma menuju pencegahan dan deteksi dini.
Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya memperkuat upaya promotif dan preventif melalui perluasan akses skrining agar kanker dapat dideteksi lebih awal sebelum berkembang ke stadium lanjut.
Pesan tersebut sejalan dengan transformasi sistem kesehatan yang dijalankan Kementerian Kesehatan melalui penguatan layanan primer dan perluasan program skrining kesehatan sebagai bagian dari strategi nasional pengendalian penyakit tidak menular.
Melalui berbagai program deteksi dini, pemerintah mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala agar penyakit, termasuk kanker, dapat ditemukan lebih cepat sehingga peluang keberhasilan pengobatan meningkat dan angka kematian dapat ditekan.
Urgensi tersebut didukung oleh tingginya beban kanker di Indonesia. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2024, diperkirakan terdapat lebih dari 1,13 juta penderita kanker di Indonesia.
Pada tahun yang sama tercatat sekitar 474 ribu kasus baru dan lebih dari 283 ribu kematian akibat kanker. Sebagian besar pasien masih datang ke fasilitas kesehatan pada stadium lanjut sehingga pengobatan menjadi lebih kompleks, biaya meningkat, dan peluang kesembuhan menurun.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kanker yang ditemukan pada stadium awal memiliki peluang keberhasilan pengobatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut.
Sebaliknya, keterlambatan diagnosis membuat pilihan terapi menjadi lebih kompleks, biaya pengobatan meningkat, serta risiko kematian lebih besar.
Karena itu, peningkatan partisipasi masyarakat dalam program skrining menjadi salah satu strategi penting untuk menekan beban kanker di Indonesia.
Dokter SWICC dr. M. Yadi Permana mengatakan, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menyediakan layanan kanker yang lengkap, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak dini.
"Program 500 skrining gratis meningkatkan kesadaran masyarakat untuk pemeriksaan dini kanker mulai dari rujukan rumah sakit tipe C kepada kami yang akan ditangani para dokter ahli onkologi di SWICC," ujar dr. Yadi.
"Kami berharap semakin banyak pasien datang pada stadium awal sehingga peluang kesembuhannya menjadi jauh lebih besar," lanjutnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya tersebut, SWICC meluncurkan program 500 skrining kanker gratis bagi masyarakat. Program ini mencakup pemeriksaan kanker payudara, serviks, hati, kolorektal, dan prostat.
Program tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sebelum muncul gejala sekaligus mempercepat proses rujukan pasien yang membutuhkan penanganan oleh dokter spesialis onkologi.
Presiden Director Sentra Medika Hospital Group drg. Eddy Suharso mengatakan tantangan penanganan kanker saat ini bukan hanya meningkatkan kualitas terapi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki akses terhadap pemeriksaan dini dan layanan rujukan yang cepat.
"Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar pula peluang keberhasilan pengobatan," ujarnya.
BOSS 2026 juga menjadi forum pertukaran ilmu bagi para tenaga kesehatan dengan lebih dari 30 dokter spesialis onkologi dari berbagai daerah hadir membahas perkembangan terbaru dalam penanganan kanker payudara, paru, serviks, kolorektal, leukemia, hingga berbagai inovasi terapi berbasis bukti ilmiah.
Di antara pembicara yang hadir adalah dr. M. Yadi Permana, dr. Andhika Rachman, dr. Angela Giselvania, dr. Venita, Prof. dr. Linda , serta dr. Trinugroho Heri Fadjari.
Ketua Panitia BOSS 2026, dr. Ronaningtyas Maharani, mengatakan forum ilmiah ini menjadi wadah berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat jejaring tenaga kesehatan dalam meningkatkan kualitas layanan kanker di Indonesia.
"Kami ingin memastikan penanganan kanker di Indonesia semakin terstandarisasi dan berbasis perkembangan ilmu terbaru. Namun yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran masyarakat bahwa deteksi dini merupakan langkah pertama untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien," ujarnya.
Baca juga: Soal Kebijakan Akreditasi RS, Menkes: Seluruh Dunia Pakai Indikator Outcome
Selain program skrining gratis, SWICC juga menggelar kampanye edukasi bertajuk "Stronger in Awareness, Together in Detection" melalui seminar kesehatan dan webinar nasional guna meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan deteksi dini kanker.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit, tenaga kesehatan, dan masyarakat, deteksi dini diharapkan menjadi budaya baru dalam penanganan kanker di Indonesia. Semakin banyak kasus ditemukan pada stadium awal, semakin besar peluang kesembuhan pasien, sekaligus semakin ringan beban pembiayaan kesehatan nasional.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya