KOMPAS.com - Perdagangan dunia tumbuh sekitar 4 persen pada tiga bulan pertama (Q1) tahun 2026, meskipun ada ketegangan politik antarnegara dan kekhawatiran soal rantai pasokan barang. Hal ini disampaikan dalam laporan terbaru PBB.
Laporan dari Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) tersebut mencatat bahwa perdagangan barang naik 4,8 persen dibanding kuartal sebelumnya, sementara perdagangan jasa tumbuh 1,6 persen.
Melansir Down to Earth, Kamis (23/72/2026) perkiraan UNCTAD menunjukkan perdagangan masih akan terus tumbuh pada kuartal kedua, terutama untuk perdagangan barang.
Namun, UNCTAD menyebut sebagian besar kenaikan ini lebih dipicu oleh harga barang yang makin mahal, bukan karena jumlah barang yang diperjualbelikan makin banyak.
Penyebab utama naiknya inflasi harga perdagangan pada awal 2026 ini adalah membengkaknya biaya energi, transportasi, logistik, dan produksi. Laporan tersebut juga mengingatkan bahwa perdagangan dunia masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik geopolitik, perubahan aturan perdagangan, dan gangguan rantai pasokan.
Baca juga: Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Prospek ekonomi ini muncul di tengah ketidakpastian yang makin tinggi akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik ini kembali memicu kekhawatiran soal kelancaran pasokan barang dan keamanan energi dunia.
Meskipun pertempuran aktif sudah mereda, ketegangan yang ada masih mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur sangat penting bagi perdagangan minyak dan gas alam dunia.
UNCTAD menyebutkan bahwa gangguan pada logistik, jalur pelayaran, dan rantai pasokan barang dapat menekan perdagangan global, kepercayaaan bisnis, investasi, dan pertumbuhan ekonomi, sekaligus memicu kenaikan harga serta perpecahan blok perdagangan.
Asia Timur menjadi pendorong utama pertumbuhan perdagangan dunia pada tiga bulan pertama tahun ini. China dan Korea Selatan mencatatkan kenaikan tertinggi dalam perdagangan barang.
Negara-negara berkembang dan perdagangan antarnegara berkembang (Selatan-Selatan) juga mencatat pertumbuhan dua digit selama 12 bulan terakhir jika memperhitungkan ekonomi Asia Timur.
Namun, jika kawasan Asia Timur tidak dihitung, perdagangan barang di negara-negara berkembang secara keseluruhan justru mengalami penurunan. Hal ini terutama disebabkan oleh merosotnya kegiatan ekspor dan impor di wilayah Asia Barat dan Asia Selatan.
Di antara negara-negara ekonomi besar, Korea Selatan mencatatkan rekor pertumbuhan ekspor tertinggi dalam tiga bulan, yaitu naik 20 persen, disusul oleh China sebesar 11 persen. Impor China juga naik 13 persen, menjadi kenaikan tertinggi di antara negara-negara besar.
Di sisi lain, ekspor barang India turun 8 persen dibanding kuartal sebelumnya, sementara impornya turun 1 persen. Secara wilayah, Asia Timur mencatatkan pertumbuhan perdagangan barang sebesar dua digit, sedangkan Afrika dan Eropa mengalami pertumbuhan impor yang kuat selama 12 bulan terakhir.
UNCTAD menyampaikan bahwa tingginya permintaan untuk produk terkait kecerdasan buatan (AI), chip semikonduktor, baterai, mineral penting, dan kendaraan listrik diperkirakan akan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan perdagangan dunia hingga akhir tahun 2026.
Pada tiga bulan pertama tahun ini, perdagangan mineral penting mencatatkan pertumbuhan tercepat, yaitu melonjak hingga 38 persen. Perdagangan chip semikonduktor tumbuh 25 persen, barang elektronik 18 persen, baterai 15 persen, produk teknologi informasi dan komunikasi 14 persen, serta mobil listrik 11 persen.
Mobil hibrida juga terus menunjukkan kinerja yang kuat. Sebaliknya, perdagangan produk energi surya dan angin justru mengalami penurunan, sedangkan perdagangan bahan bakar fosil tetap tumbuh positif karena harga yang mahal.
Di sektor manufaktur secara umum, perdagangan mesin listrik naik 13 persen, mesin industri 8 persen, dan logam dasar lainnya 13 persen. Sementara itu, perdagangan produk kimia serta besi dan baja mengalami penurunan. Sektor mineral secara keseluruhan tumbuh 22 persen, didorong oleh tingginya permintaan dan harga yang mahal.
Baca juga: AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata
UNCTAD menyatakan bahwa perkiraan ekonomi jangka pendek masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan politik dunia.
Hal ini terutama dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah, risiko ancaman pelayaran di Selat Hormuz, serta perpecahan kerja sama ekonomi antarnegara.
Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan membuat bengkak biaya perdagangan, mengganggu pengiriman barang, dan membuat pertumbuhan perdagangan tidak merata di berbagai wilayah dan sektor.
Laporan tersebut juga mencatat utang negara yang tinggi, keterbatasan anggaran pemerintah, ketidakpastian kebijakan suku bunga, pembatasan ekspor, serta aturan industri sebagai hal-hal yang dapat memengaruhi perdagangan global dalam beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, UNCTAD menyebutkan bahwa investasi pada jaringan pasokan yang kuat, pertumbuhan industri digital dan ramah lingkungan, serta lahirnya pusat-pusat manufaktur dan logistik baru dapat menciptakan peluang perdagangan yang baru.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya