KOMPAS.com-Kekuatan pengaruh sosial bisa menjadi kunci utama untuk mengubah sikap dan kebiasaan masyarakat terkait perubahan iklim, menurut penelitian terbaru dari tim Center for Climate Change and Social Transformations (CAST).
Melansir Phys, Selasa (4/8/2026) tim peneliti melihat bagaimana orang-orang di sekitar kita mulai dari selebriti, atlet, tenaga kesehatan, tokoh agama, tukang potong rambut, pemilik usaha kecil, hingga keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja semuanya punya kemampuan untuk mendorong aksi peduli lingkungan.
"Untuk mengatasi perubahan iklim, kita butuh perubahan perilaku secara luas di masyarakat. Jadi, penting bagi kita untuk memahami bagaimana pengaruh sosial bisa dimanfaatkan," ungkap Dr. Briony Latter dari CAST dan Universitas Cardiff.
"Kami ingin mengumpulkan bukti tentang seberapa besar pengaruh yang dimiliki oleh berbagai kelompok orang, serta bagaimana mereka bisa mengambil peran penting dalam mengajak orang lain peduli dan bertindak mengatasi perubahan iklim," tambahnya.
Baca juga: Krisis Iklim dan Masalah Sosial Berpotensi Dorong Aksi Protes yang Lebih Radikal
Laporan baru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change ini membagi bagaimana sosial bisa memengaruhi aksi iklim menjadi empat bagian utama yakni Penyampai Pesan, Penerima Pesan, Cara Memengaruhi, dan Bidang Perilaku.
Kerangka kerja ini menjadi panduan praktis bagi pembuat kebijakan, komunikator, dan organisasi untuk mengajak masyarakat hidup lebih ramah lingkungan.
Pengaruh sosial dimulai dari Penyampai Pesan (The Messenger). Ini adalah pihak yang memberikan pengaruh. Kategori yang menjadi Penyampai pesan ini bisa berupa publik figur seperti artis, atlet, atau politisi, tenaga kesehatan, tokoh agama, tukang potong rambut, pemilik usaha kecil, hingga keluarga, teman, dan tetangga.
Instansi seperti pemerintah, perusahaan, dan media juga bisa memengaruhi orang lain lewat aturan dan kampanye. Seberapa berhasil pengaruh mereka tergantung pada tingkat kepercayaan, kredibilitas, dan seberapa relevan mereka bagi pendengarnya.
Kategori kedua adalah Penerima Pesan (The Audience). Penerima pesan dipengaruhi oleh faktor usia, penghasilan, nilai hidup, keyakinan, dan pandangan politik. Namun, masyarakat bukan sekadar pendengar yang pasif. Hubungan dan komunikasi dua arah antara penyampai dan penerima pesan sangatlah penting.
Tahap berikutnya adalah Cara Memengaruhi (The Mode of Influence). Bagian ini melihat bagaimana pengaruh itu terjadi bisa lewat percakapan sehari-hari, media sosial, teladan atau contoh nyata, hingga pesan dan tindakan dari lembaga resmi.
Membangun kebiasaan umum di masyarakat juga penting, karena orang sering melihat apa yang dilakukan orang lain untuk menentukan mana perilaku yang wajar atau pantas.
Pengaruh akan berhasil jika penyampai pesan, penerima pesan, dan cara menyampaikannya sudah saling cocok.
Terakhir adalah Bidang Perilaku (The Behavioral Domain). Bagian ini berfokus pada jenis perilaku yang ingin diubah misalnya penggunaan transportasi, pola makan, pemakaian energi, keterlibatan warga, hingga tindakan di tempat kerja.
Baca juga: Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Kebiasaan yang mudah terlihat seperti naik sepeda, punya makna sosial seperti memilih makanan berbasis tumbuhan, atau yang pilihannya masih membingungkan contohnya memutuskan pasang alat pendingin hemat energi lebih mudah dipengaruhi oleh orang lain. Sebab, dalam situasi tersebut, orang cenderung melihat pilihan orang di sekitarnya sebagai petunjuk.
"Kerangka kerja ini menunjukkan bahwa hubungan antara keempat bagian tersebut sangat penting untuk mendorong aksi nyata terhadap iklim. Ini juga memperlihatkan bagaimana berbagai pihak bisa menggunakannya dengan banyak cara untuk mengajak lebih banyak orang peduli lingkungan," tambah Latter.
"Meskipun masyarakat luas merasa khawatir akan dampak perubahan iklim, perubahan yang dibutuhkan untuk mencegah akibat terburuknya belum terjadi dengan cukup cepat," papar Dr. Sam Hampton, anggota tim CAST dari Departemen Psikologi Universitas Bath.
"Pilihan hidup ramah lingkungan harus menjadi hal yang lazim dan umum di masyarakat. Untuk mencapai hal ini, kita perlu memanfaatkan pengaruh dari berbagai sosok serta mengandalkan kebiasaan bersama untuk membentuk perilaku yang peduli lingkungan," terangnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya