Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengaruh Sosial Bisa Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim

Kompas.com, 6 Agustus 2026, 12:15 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Kekuatan pengaruh sosial bisa menjadi kunci utama untuk mengubah sikap dan kebiasaan masyarakat terkait perubahan iklim, menurut penelitian terbaru dari tim Center for Climate Change and Social Transformations (CAST).

Melansir Phys, Selasa (4/8/2026) tim peneliti melihat bagaimana orang-orang di sekitar kita mulai dari selebriti, atlet, tenaga kesehatan, tokoh agama, tukang potong rambut, pemilik usaha kecil, hingga keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja semuanya punya kemampuan untuk mendorong aksi peduli lingkungan.

"Untuk mengatasi perubahan iklim, kita butuh perubahan perilaku secara luas di masyarakat. Jadi, penting bagi kita untuk memahami bagaimana pengaruh sosial bisa dimanfaatkan," ungkap Dr. Briony Latter dari CAST dan Universitas Cardiff.

"Kami ingin mengumpulkan bukti tentang seberapa besar pengaruh yang dimiliki oleh berbagai kelompok orang, serta bagaimana mereka bisa mengambil peran penting dalam mengajak orang lain peduli dan bertindak mengatasi perubahan iklim," tambahnya.

Baca juga: Krisis Iklim dan Masalah Sosial Berpotensi Dorong Aksi Protes yang Lebih Radikal

Kerangka kerja aksi iklim

Laporan baru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change ini membagi bagaimana sosial bisa memengaruhi aksi iklim menjadi empat bagian utama yakni Penyampai Pesan, Penerima Pesan, Cara Memengaruhi, dan Bidang Perilaku.

Kerangka kerja ini menjadi panduan praktis bagi pembuat kebijakan, komunikator, dan organisasi untuk mengajak masyarakat hidup lebih ramah lingkungan.

Pengaruh sosial dimulai dari Penyampai Pesan (The Messenger). Ini adalah pihak yang memberikan pengaruh. Kategori yang menjadi Penyampai pesan ini bisa berupa publik figur seperti artis, atlet, atau politisi, tenaga kesehatan, tokoh agama, tukang potong rambut, pemilik usaha kecil, hingga keluarga, teman, dan tetangga.

Instansi seperti pemerintah, perusahaan, dan media juga bisa memengaruhi orang lain lewat aturan dan kampanye. Seberapa berhasil pengaruh mereka tergantung pada tingkat kepercayaan, kredibilitas, dan seberapa relevan mereka bagi pendengarnya.

Kategori kedua adalah Penerima Pesan (The Audience). Penerima pesan dipengaruhi oleh faktor usia, penghasilan, nilai hidup, keyakinan, dan pandangan politik. Namun, masyarakat bukan sekadar pendengar yang pasif. Hubungan dan komunikasi dua arah antara penyampai dan penerima pesan sangatlah penting.

Tahap berikutnya adalah Cara Memengaruhi (The Mode of Influence). Bagian ini melihat bagaimana pengaruh itu terjadi bisa lewat percakapan sehari-hari, media sosial, teladan atau contoh nyata, hingga pesan dan tindakan dari lembaga resmi.

Membangun kebiasaan umum di masyarakat juga penting, karena orang sering melihat apa yang dilakukan orang lain untuk menentukan mana perilaku yang wajar atau pantas.

Pengaruh akan berhasil jika penyampai pesan, penerima pesan, dan cara menyampaikannya sudah saling cocok.

Terakhir adalah Bidang Perilaku (The Behavioral Domain). Bagian ini berfokus pada jenis perilaku yang ingin diubah misalnya penggunaan transportasi, pola makan, pemakaian energi, keterlibatan warga, hingga tindakan di tempat kerja.

Baca juga: Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif

Kebiasaan yang mudah terlihat seperti naik sepeda, punya makna sosial seperti memilih makanan berbasis tumbuhan, atau yang pilihannya masih membingungkan contohnya memutuskan pasang alat pendingin hemat energi lebih mudah dipengaruhi oleh orang lain. Sebab, dalam situasi tersebut, orang cenderung melihat pilihan orang di sekitarnya sebagai petunjuk.

"Kerangka kerja ini menunjukkan bahwa hubungan antara keempat bagian tersebut sangat penting untuk mendorong aksi nyata terhadap iklim. Ini juga memperlihatkan bagaimana berbagai pihak bisa menggunakannya dengan banyak cara untuk mengajak lebih banyak orang peduli lingkungan," tambah Latter.

"Meskipun masyarakat luas merasa khawatir akan dampak perubahan iklim, perubahan yang dibutuhkan untuk mencegah akibat terburuknya belum terjadi dengan cukup cepat," papar Dr. Sam Hampton, anggota tim CAST dari Departemen Psikologi Universitas Bath.

"Pilihan hidup ramah lingkungan harus menjadi hal yang lazim dan umum di masyarakat. Untuk mencapai hal ini, kita perlu memanfaatkan pengaruh dari berbagai sosok serta mengandalkan kebiasaan bersama untuk membentuk perilaku yang peduli lingkungan," terangnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau