Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem

Kompas.com, 11 Agustus 2026, 10:03 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan menuju gaya hidup berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran individu. Perubahan pola konsumsi masyarakat membutuhkan dukungan kebijakan, akses terhadap pilihan yang lebih ramah lingkungan, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.

Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup, Lu’lu Agustina mengatakan, prinsip sustainable living perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut dia, gaya hidup berkelanjutan tidak seharusnya menjadi pilihan yang hanya dapat dilakukan kelompok masyarakat tertentu, tetapi harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Sustainable living for all harus diwujudkan sebagai gaya hidup yang dapat dijalankan oleh semua orang. Generasi muda juga berperan penting dalam membangun kesadaran terhadap dampak *fast fashion*,” ujar Lu’lu dalam keterangan tertulis, Senin (10/8/2026).

Menurut Lu’lu, salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah pola konsumsi yang menghasilkan dampak lingkungan dalam jangka panjang. Fenomena *fast fashion*, misalnya, mendorong konsumsi pakaian secara cepat dengan siklus penggunaan yang relatif pendek.

Karena itu, perubahan gaya hidup perlu diarahkan tidak hanya pada keputusan membeli produk yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga pada penggunaan kembali, perbaikan, dan pemanfaatan barang agar masa pakainya lebih panjang.

Pendekatan tersebut juga membuka peluang berkembangnya kegiatan ekonomi baru, termasuk usaha yang bergerak dalam pemanfaatan barang bekas, perbaikan produk, pengolahan kembali material, hingga sektor pekerjaan hijau.

Kebijakan perlu memudahkan masyarakat

Perubahan perilaku masyarakat akan sulit berkembang jika tidak didukung ekosistem yang memungkinkan pilihan berkelanjutan dilakukan dengan mudah.

Lu’lu mengatakan, pemerintah perlu terus mendorong kebijakan yang dapat membantu masyarakat menerapkan komitmen terhadap lingkungan.

Selain kebijakan, pengembangan peluang kerja di sektor ekonomi hijau juga perlu dilakukan secara inklusif dan berkelanjutan. Dengan demikian, perubahan menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan tidak hanya menghasilkan manfaat ekologis, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Festival Inspirasi 2026 yang digelar Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM) pada 7-8 Agustus 2026 di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan.

Namun, kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai kampanye lingkungan. YIIM menjadikannya ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan berbagai praktik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemanfaatan barang bekas dan perbaikan barang rusak.

Kolaborasi diperlukan untuk memperluas dampak

Founder dan Dewan Pembina YIIM, Irfan Melayu mengatakan, pengalaman YIIM selama 12 tahun menunjukkan bahwa perubahan sosial dan lingkungan tidak dapat dibangun oleh satu pihak.

“Dua belas tahun perjalanan YIIM mengajarkan kami bahwa perubahan yang bermakna tidak dapat dibangun sendiri. Setiap dampak yang tercipta merupakan hasil dari kepercayaan, kepedulian, dan kolaborasi berbagai pihak,” tutur Irfan.

Karena itu, perubahan pola hidup berkelanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dengan peran yang berbeda.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau