Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Penyandang disabilitas sering kali mengalami keterbatasan ganda. Bukan hanya keterbatasan yang ada pada diri mereka, namun juga kesempatan untuk menunjukkan potensi mereka.
Alhasil, segala bakat dan kemampuan dari penyandang disabilitas ini pun tidak tersalurkan dan teraktualisasi untuk menuai prestasi.
Padahal para penyandang disabilitas juga menyimpan kreativitas tanpa batas. Sehingga, eksplorasi potensi menjadi penting untuk dilakukan guna membantu menopang kesejahteraan mereka.
Baca juga: Tak Hanya Lulusan S1, Magang Nasional Juga Serap Disabilitas dan Lulusan Profesi
Hal ini pula yang dipahami oleh Nurdini Prihastiti, yang akrab dipanggil Dini. Melalui jenama Dama Kara, dia memberdayakan penyandang disabilitas untuk berkarya di bidang fesyen.
Hasilnya, karya tersebut bukan sekadar ruang ekspresi bagi para penyandang disabilitas, namun juga menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan karya-karya yang dihasilkan berhasil dipamerkan pada ajang peragaan busana internasional.
“Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan,” tutur Dini, pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation dikutip Rabu (12/8/2026).
Gagasan untuk memberi ruang bagi disabilitas ini tak datang tiba-tiba. Selepas lulus dari studi S1 Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB University, Dini bekerja di sebuah perusahaan nasional terkemuka. Di perusahaan tersebut, perempuan kelahiran Lamongan Jawa Timur ini memiliki karir cemerlang.
Namun pada suatu waktu, Dini merasa ia belum memberikan banyak manfaat pada masyarakat. Ia pun mengundurkan diri dari perusahaan tersebut lalu pindah ke Bandung.
Di kota kembang ini, ia melanjutkan kuliah S2 Administrasi Bisnis di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan membuka usaha di bidang konveksi bersama sang suami.
“Saya merasa dengan berbisnis, manfaat yang bisa saya berikan sepertinya akan lebih banyak. Dalam artian, saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar saya ataupun membuat bisnis yang memiliki manfaat lebih banyak lagi,” paparnya.
Namun niat mulai itu tak berjalan mulus. Baru beberapa tahun merintis bisnis, usaha Dini dan suami menghadapi ujian. Kapal yang mengangkut produk pesanan klien di Kalimantan terbakar hebat di tengah lautan. Si jago merah menghanguskan seluruh kapal dan isinya, termasuk seragam dan suvenir pesanan klien tersebut.
Alhasil, Dini harus memproduksi ulang produk-produk itu. Kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Toh, ia tak mau menyalahkan siapa-siapa. Momen bencana ini justru menjadi ruang refleksi bagi Dini.
Baca juga: Berdayakan Disabilitas, BCA Hadirkan Nail Art Inklusif di Kawan Nusantara 2026
“Nah, di titik itu yang kemudian menyadarkan saya bahwa sebenarnya semua yang kita miliki ini titipan Tuhan. Akhirnya saya dan suami sepakat bahwa kita kayaknya kurang beramal.
Dari hasil kontemplasi Dini dan sang suami, keduanya sepakat untuk memulai aksi filantropi di tengah aktivitas bisnis Dama Kara.
Basisnya tetap bertumpu pada lini usaha mereka di bidang sandang dan konveksi. Namun Dini terus mencari model filantropi yang memberi kebermanfatan lebih luas.
Pada mulanya, Dama Kara merangkul para perajin dan penjahit perempuan di sekitar tempat usaha Dini di Bandung dan beberapa kota di Jawa Barat. Dalam perkembangannya, dia memperluas kebermanfaatan dengan mengajak kaum rentan yang selama ini terlupakan: penyandang disabilitas.
Sejak itu, Dini mantap untuk melibatkan kaum disabilitas dalam pengerjaan karya Dama Kara. Pelibatan penyandang disabilitas pada karya-karya Dama Kara itulah yang melatari berdirinya Dama Kara Foundation pada 2024. Dini kemudian juga menggandeng lembaga sosial Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama.
Dama Kara Foundation juga mengembangkan sejumlah program, seperti kelas gambar bagi disabilitas. Melalui pendampingan oleh art fasilitator secara one on one, satu difabel satu pendamping, kelas ini tidak hanya melatih keterampilan seni dan motorik halus, tetapi juga mengasah imajinasi, konsentrasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri para difabel.
Karya-karya penyandang disabilitas ini kemudian dikembangkan melalui workshop kolaboratif dan pameran.
Kepedulian Dini pada kaum rentan tak lepas dari perjalanan hidupnya. Bungsu dari tiga bersaudara ini sempat mengalami keterbatasan dari sisi ekonomi. Sang ayah meninggal dunia saat ia kelas 2 SMP. Alhasil, ibunya yang seorang guru SD mesti membesarkan tiga orang anak.
Di masa kuliah di IPB University, Dini menemukan inspirasi awal, karena menyadari kondisi ekonomi keluarga, ia berburu beasiswa sejak semester pertama.
“Hampir setiap minggu saya melihat majalah dinding kampus yang menempel informasi tentang beasiswa,” ujarnya.
Dari ketekunan itu, Dini akhirnya berhasil. Sebuah beasiswa menopang biaya kuliahnya. Namun capaian ini tak menghentikan upayanya untuk mencari beasiswa lain yang dinilai lebih baik. Pada semester 2, ia melihat pengumuman suatu beasiswa yang menurutnya menawarkan nilai tambah.
Baca juga: Tanoto Foundation: Employability Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
Dini pun mengikuti seleksi beasiswa tersebut dan dinyatakan lolos, lantas mengundurkan diri dari beasiswa sebelumnya. Sejak itulah Dini menjadi Tanoto Scholar.
“Beasiswa Tanoto Foundation waktu itu sangat membantu. Bukan hanya memberikan SPP dan uang saku, tapi juga mengadakan kegiatan kepemimpinan yang dihadiri oleh banyak mahasiswa dari kampus-kampus lain,” tuturnya.
Dini menegaskan pengalaman bertemu dan bertukar pengalaman, serta menumbuhkan kepedulian pada sesama dari kegiatan yang dilakukan lembaga ini turut memantik semangat Dini untuk berbagi dan memberi manfaat bagi sesama, terutama bagi kalangan yang terpinggirkan.
“Jadi, coba untuk melihat sekeliling dan memberikan dampak dari hal-hal terkecil. Tidak perlu menunggu nanti, tidak perlu menunggu beberapa tahun lagi, tapi kita bisa memulainya sekarang. Start small and do your best,” pungkasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya