KOMPAS.com – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki posisi penting dalam perekonomian Indonesia. Besarnya jumlah pelaku usaha membuat sektor ini turut menggerakkan roda ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Januari 2025 mencatat terdapat lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia. Sektor tersebut berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Data ini menunjukkan bahwa pengembangan UMKM memiliki dampak yang luas.
Perannya pun tidak sebatas menggerakkan aktivitas ekonomi. Sejumlah UMKM kini turut menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dekat dengan masyarakat, mulai dari pemberdayaan komunitas hingga penanganan masalah lingkungan.
Momentum Hari UMKM Nasional yang diperingati setiap 12 Agustus menjadi kesempatan untuk melihat lebih jauh peran tersebut. Dengan inovasi dan model usaha yang tepat, UMKM dapat berkembang sekaligus menciptakan dampak sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.
Hal itu tergambar dari perjalanan Direktur Perkumpulan Arta Jaya, Armawati Chaniago. Organisasi tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap persoalan sampah dan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
Sejak 2015, Armawati melihat bahwa pengelolaan sampah yang optimal dapat memberikan manfaat lebih luas. Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai masalah dapat diolah dan dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Perjalanan Armawati di bidang pengelolaan sampah bermula dari persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitarnya. Sampah menumpuk, sementara kesadaran masyarakat untuk mengelolanya masih terbatas.
Armawati menangkap adanya peluang untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang memberikan manfaat bagi masyarakat, alih-alih melihat kondisi tersebut semata sebagai persoalan lingkungan.
Perlahan, kawasan yang sebelumnya identik dengan tempat pembuangan sampah berhasil ditransformasi menjadi pusat pengelolaan berbasis bank sampah.
Konsepnya tidak berhenti pada aktivitas mengumpulkan sampah. Kelompok bank sampah yang berada dalam pembinaan Armawati mengelola sampah dari berbagai sumber, seperti permukiman, kawasan pariwisata, hingga bank sampah unit di tingkat kabupaten dan kota.
Sejumlah jenis sampah yang masih memiliki potensi pemanfaatan kemudian diolah kembali untuk berbagai kebutuhan. Bahkan, barang retur yang masih dapat dimanfaatkan juga diolah, salah satunya sebagai pakan ternak.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana sampah dapat ditempatkan sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Pengelolaan yang tepat pada akhirnya dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.
Tim Perkumpulan Arta Jaya beraudiensi ke Kadin Medan untuk mengenalkan berbagai produk hasil olahan sampah.
Perjalanan yang dimulai dari kepedulian terhadap persoalan lingkungan itu terus berkembang. Saat ini, jaringan yang dibina Armawati telah mencakup 117 bank sampah dan memberdayakan sekitar 50.000 anggota masyarakat.
Keterlibatan perempuan juga menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut. Lebih dari 70 persen bank sampah yang berada di bawah pembinaan Armawati dikelola oleh perempuan.
Bagi Armawati, keterlibatan perempuan dalam menjaga lingkungan memiliki makna personal. Perannya sebagai seorang ibu menjadi salah satu alasan yang mendorongnya bergerak di bidang pengelolaan sampah.
“Saya tergerak dalam pengelolaan sampah ini juga karena peran saya sebagai seorang ibu. Selain mempersiapkan masa depan yang baik bagi anak-anak saya, saya ingin mereka tumbuh di lingkungan yang bersih dan sehat,” ujar Armawati dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan. Pilihan yang dilakukan hari ini juga dapat menentukan kualitas lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Perempuan memiliki peran yang sangat luar biasa dalam menjaga lingkungan. Maka dari itu, keputusan yang kita ambil untuk memperbaiki keadaan hari ini dapat membantu menjamin masa depan generasi mendatang,” lanjutnya.
Dedikasi tersebut juga mengantarkan Armawati memperoleh sejumlah pengakuan. Ia pernah menerima penghargaan sebagai “Tokoh Lingkungan Kota Medan” dari Wali Kota Medan serta masuk nominasi Kalpataru Nasional kategori “Perintis Lingkungan” dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Seiring perjalanan waktu, aktivitas Perkumpulan Arta Jaya juga semakin berkembang. Organisasi yang berawal dari edukasi lingkungan dan pendampingan masyarakat tersebut mulai mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, serta bisnis berkelanjutan melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Perkumpulan Arta Jaya kini tidak hanya menjalankan program pemberdayaan masyarakat. Organisasi tersebut juga menyediakan berbagai layanan profesional di bidang pengelolaan sampah.
Layanannya mencakup konsultasi, penelitian, pelatihan, hingga pengembangan infrastruktur persampahan.
Perkembangan tersebut menjadi penting karena keberlanjutan usaha pengelolaan sampah membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian terhadap lingkungan. Pelaku usaha juga perlu memiliki model bisnis yang sehat agar mampu bertahan dan memperbesar dampaknya.
Dengan pengelolaan yang tepat, usaha di sektor persampahan berpotensi menghasilkan manfaat pada sejumlah sisi sekaligus. Lingkungan menjadi lebih terkelola, masyarakat dapat memperoleh peluang ekonomi, sedangkan pertumbuhan usaha dapat mendorong munculnya lapangan pekerjaan hijau.
Hal itu juga memperlihatkan peluang UMKM untuk mengambil peran dalam ekonomi sirkular. Persoalan yang sebelumnya dipandang sebagai beban dapat dikembangkan menjadi solusi dengan nilai sosial, lingkungan, dan ekonomi.
Dalam mengembangkan model bisnisnya, Perkumpulan Arta Jaya mendapatkan dukungan melalui proyek Scaling Up Local Enterprise on Waste Management in Indonesia (SULE-WM) dari GIZ Indonesia dan Unilever Indonesia.
Program tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan strategis untuk memperkuat peran perusahaan pengelolaan sampah lokal. Salah satu tujuannya adalah membantu penerapan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan bertanggung jawab.
SULE-WM juga diarahkan untuk mengembangkan skala usaha pengelolaan sampah lokal. Upaya tersebut diharapkan dapat menciptakan lebih banyak peluang kerja ramah lingkungan melalui inovasi, peningkatan kapasitas, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Sebagai salah satu UMKM yang bergerak dalam solusi daur ulang dan pengelolaan sampah, Perkumpulan Arta Jaya mendapatkan dukungan berupa pelatihan, pendampingan selama kurang lebih 21 bulan, serta pendanaan implementasi.
Pendampingan tersebut menyentuh berbagai aspek pengembangan usaha, mulai dari manajemen, negosiasi bisnis, pengembangan kemitraan, pengelolaan usaha, hingga peningkatan kemampuan komunikasi.
Armawati menilai dukungan tersebut membantu dirinya dan tim memperkuat kemampuan sebagai pelaku usaha.
“Kami menerima begitu banyak manfaat melalui program SULE-WM. Salah satunya adalah dukungan dari Unilever Indonesia, yang tidak hanya memberikan pendampingan dalam aspek pendanaan, tetapi juga membantu meningkatkan kapasitas kami sebagai wirausaha,” ujar Armawati.
Menurut Armawati, pembekalan dalam berbagai keterampilan bisnis menjadi bekal penting untuk membawa Perkumpulan Arta Jaya berkembang lebih jauh.
“Dukungan yang diberikan berupa pembekalan di berbagai keterampilan penting, seperti manajemen, negosiasi bisnis, pengembangan kemitraan, pengelolaan usaha, hingga peningkatan kemampuan komunikasi. Pendampingan ini membuat kami lebih percaya diri dalam mengembangkan model bisnis bank sampah kami agar semakin mandiri dan berkelanjutan,” lanjutnya.
Perjalanan Armawati dan Perkumpulan Arta Jaya menunjukkan bahwa pengembangan UMKM dapat berjalan beriringan dengan upaya menjawab persoalan lingkungan.
Melalui inovasi, penguatan kapasitas usaha, serta kolaborasi dengan berbagai pihak, usaha pengelolaan sampah dapat berkembang menjadi solusi yang memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.
Pada momentum Hari UMKM Nasional, kisah tersebut juga menjadi gambaran mengenai luasnya potensi UMKM Indonesia. Pertumbuhan usaha tidak hanya dapat menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga membuka ruang bagi semakin banyak pelaku usaha untuk menghadirkan perubahan yang relevan bagi masyarakat dan lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya