Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas

Kompas.com, 12 Agustus 2026, 11:09 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyandang disabilitas sering kali mengalami keterbatasan ganda. Bukan hanya keterbatasan yang ada pada diri mereka, namun juga kesempatan untuk menunjukkan potensi mereka.

Alhasil, segala bakat dan kemampuan dari penyandang disabilitas ini pun tidak tersalurkan dan teraktualisasi untuk menuai prestasi.

Padahal para penyandang disabilitas juga menyimpan kreativitas tanpa batas. Sehingga, eksplorasi potensi menjadi penting untuk dilakukan guna membantu menopang kesejahteraan mereka.

Baca juga: Tak Hanya Lulusan S1, Magang Nasional Juga Serap Disabilitas dan Lulusan Profesi

Hal ini pula yang dipahami oleh Nurdini Prihastiti, yang akrab dipanggil Dini. Melalui jenama Dama Kara, dia memberdayakan penyandang disabilitas untuk berkarya di bidang fesyen.

Hasilnya, karya tersebut bukan sekadar ruang ekspresi bagi para penyandang disabilitas, namun juga menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan karya-karya yang dihasilkan berhasil dipamerkan pada ajang peragaan busana internasional.

“Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan,” tutur Dini, pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation dikutip Rabu (12/8/2026).

Diingatkan Musibah

Gagasan untuk memberi ruang bagi disabilitas ini tak datang tiba-tiba. Selepas lulus dari studi S1 Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB University, Dini bekerja di sebuah perusahaan nasional terkemuka. Di perusahaan tersebut, perempuan kelahiran Lamongan Jawa Timur ini memiliki karir cemerlang.

Namun pada suatu waktu, Dini merasa ia belum memberikan banyak manfaat pada masyarakat. Ia pun mengundurkan diri dari perusahaan tersebut lalu pindah ke Bandung.

Di kota kembang ini, ia melanjutkan kuliah S2 Administrasi Bisnis di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan membuka usaha di bidang konveksi bersama sang suami.

“Saya merasa dengan berbisnis, manfaat yang bisa saya berikan sepertinya akan lebih banyak. Dalam artian, saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar saya ataupun membuat bisnis yang memiliki manfaat lebih banyak lagi,” paparnya.

Namun niat mulai itu tak berjalan mulus. Baru beberapa tahun merintis bisnis, usaha Dini dan suami menghadapi ujian. Kapal yang mengangkut produk pesanan klien di Kalimantan terbakar hebat di tengah lautan. Si jago merah menghanguskan seluruh kapal dan isinya, termasuk seragam dan suvenir pesanan klien tersebut.

Alhasil, Dini harus memproduksi ulang produk-produk itu. Kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Toh, ia tak mau menyalahkan siapa-siapa. Momen bencana ini justru menjadi ruang refleksi bagi Dini.

Baca juga: Berdayakan Disabilitas, BCA Hadirkan Nail Art Inklusif di Kawan Nusantara 2026

“Nah, di titik itu yang kemudian menyadarkan saya bahwa sebenarnya semua yang kita miliki ini titipan Tuhan. Akhirnya saya dan suami sepakat bahwa kita kayaknya kurang beramal.

Dari hasil kontemplasi Dini dan sang suami, keduanya sepakat untuk memulai aksi filantropi di tengah aktivitas bisnis Dama Kara.

Basisnya tetap bertumpu pada lini usaha mereka di bidang sandang dan konveksi. Namun Dini terus mencari model filantropi yang memberi kebermanfatan lebih luas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau