Karena itu, konservasi gajah perlu dilakukan melalui perlindungan bentang hutan prioritas, restorasi habitat, penguatan kapasitas masyarakat, serta tata kelola lanskap yang lebih berkelanjutan.
Pemanfaatan teknologi juga diperlukan untuk memperkuat perlindungan populasi gajah di alam. Upaya tersebut antara lain melalui pemetaan genetik, pembangunan sistem peringatan dini konflik, serta penggunaan pembatas seperti power fencing dan parit penghalang.
Baca juga: IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
Penegakan hukum terhadap aktivitas yang mengancam habitat gajah juga menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.
Pendekatan konservasi yang menjaga habitat gajah sekaligus penting bagi masyarakat. Hutan berfungsi sebagai penyangga kehidupan, sumber air, serta penyimpan karbon yang semakin penting dalam menghadapi perubahan iklim.
Samedi mengatakan, momentum Hari Gajah Sedunia dapat menjadi pengingat bahwa perlindungan gajah tidak cukup hanya dengan menghentikan perburuan.
"Hari Gajah Sedunia 2026 mengingatkan bahwa masa depan Gajah Sumatra tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan menghentikan perburuan, tetapi juga oleh keberanian untuk menjaga hutan tetap utuh. Ketika hutan hilang, gajah kehilangan rumahnya. Dan ketika gajah kehilangan rumahnya, sesungguhnya kita sedang kehilangan salah satu penyangga terpenting bagi keberlanjutan bentang alam Sumatra," tutur Samedi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya