KOMPAS.com – Hilangnya habitat menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus). Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), lebih dari 69 persen habitat potensial gajah Sumatra telah hilang dalam sekitar 25 tahun terakhir.
Kondisi tersebut membuat Sumatra menjadi salah satu kawasan dengan tingkat kehilangan habitat gajah tercepat di Asia.
Penyusutan dan fragmentasi hutan juga meningkatkan potensi konflik antara gajah dan manusia karena jalur jelajah satwa semakin terputus oleh alih fungsi lahan, pembangunan infrastruktur, serta permukiman.
Baca juga: Gajah Indro Ditemukan Tewas di Tesso Nilo, Sempat Alami Komplikasi
Direktur Program Tropical Forest Conservation Action Sumatra (TFCA Sumatera) Yayasan KEHATI, Samedi mengatakan, meningkatnya konflik manusia dan gajah tidak semestinya dilihat sebagai tanda bahwa keberadaan gajah semakin mengganggu aktivitas masyarakat.
Sebaliknya, konflik tersebut menunjukkan semakin berkurangnya ruang hidup yang dapat digunakan gajah untuk mencari makan, air, dan berkembang biak.
"Gajah tidak pernah memilih hidup berdampingan dengan manusia. Mereka hanya terus berjalan mengikuti jalur jelajah yang telah digunakan selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika jalur itu berubah menjadi kebun, jalan, atau permukiman, maka yang sesungguhnya terjadi adalah manusia dan pembangunan telah memasuki ruang hidup gajah," ujar Samedi dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8/2026).
Menurut Samedi, persoalan tersebut kembali terlihat dari kasus kematian induk dan anak gajah di Bentang Alam Seblat pada 2026.
Di sejumlah wilayah, jalur jelajah gajah yang terfragmentasi membuat satwa semakin sering memasuki kawasan pertanian dan permukiman. Ketika ruang hidup menyusut, konflik dengan manusia menjadi semakin sulit dihindari.
Gajah Sumatra memiliki peran penting dalam ekosistem karena merupakan salah satu spesies payung (umbrella species). Keberadaan satwa ini mencerminkan kondisi suatu bentang alam karena gajah membutuhkan kawasan hutan yang luas, utuh, dan saling terhubung.
Ketika habitat gajah terlindungi, berbagai spesies tumbuhan dan satwa lain yang berada dalam ekosistem yang sama turut mendapatkan perlindungan.
Gajah juga berperan sebagai ecosystem engineer. Pergerakannya membantu menyebarkan biji berbagai jenis tumbuhan, membuka jalur alami di dalam hutan, serta mendukung proses regenerasi vegetasi.
Dengan demikian, kehilangan gajah bukan hanya berarti hilangnya satu spesies, tetapi juga berpotensi mengganggu fungsi ekologis hutan.
Saat ini, populasi gajah liar di Sumatra diperkirakan hanya sekitar 1.200 individu. Dalam daftar merah IUCN, gajah Sumatra berstatus Critically Endangered atau kritis setelah mengalami penurunan populasi sedikitnya 50 persen dalam satu generasi.
Samedi menilai, penanganan konflik manusia dan gajah tidak cukup hanya mengandalkan patroli, penggiringan satwa, maupun pembangunan pagar penghalang.
Berbagai langkah tersebut tetap diperlukan sebagai respons jangka pendek. Namun, upaya tersebut tidak akan menyelesaikan persoalan secara permanen apabila hilangnya habitat dan terputusnya koridor ekologis gajah tidak ditangani.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya