KOMPAS.com — Bagi Irhamsyah dan para nelayan di Desa Tanjung Seloka, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), laut bukan lagi sekadar tempat mencari penghasilan harian.
Jika sebelumnya hasil tangkapan kepiting langsung dijual dengan harga relatif rendah, kini para nelayan mulai membudidayakan dan melakukan penggemukan sebelum memasarkannya.
Langkah tersebut membuat nilai jual kepiting meningkat sekaligus memberi penghasilan yang lebih pasti. Di sisi lain, masyarakat juga mulai menyadari pentingnya menjaga ekosistem pesisir yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Ketua Kelompok Nelayan Seloka Crabs, Irhamsyah, mengatakan masyarakat kini tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan, tetapi mulai mengelola sumber daya laut dengan cara yang lebih berkelanjutan.
"Dulu kami hanya menjual kepiting apa adanya, ukurannya kecil dan harganya rendah. Sekarang, setelah dibudidayakan dan digemukkan, nilainya jauh lebih tinggi dan hasilnya lebih pasti," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (14/8/2026).
Baca juga: Korupsi Proyek di PLN, Mantan Dirut Anak Perusahaan Krakatau Steel Dituntut 5 Tahun Penjara
Perubahan tersebut tidak terlepas dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Desa Berdaya PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Melalui program tersebut, para nelayan mendapat pelatihan budidaya dan penggemukan kepiting soka. Mereka juga memanfaatkan limbah pembakaran batu bara atau fly ash and bottom ash (FABA) sebagai bahan pembuatan rumah ikan (bio reef block) untuk mendukung pemulihan ekosistem terumbu karang.
Bagi Irhamsyah, manfaat program tidak hanya terlihat dari peningkatan pendapatan kelompok nelayan. Kesadaran masyarakat untuk menjaga laut dan kawasan pesisir juga semakin tumbuh.
"Kalau laut tetap terjaga, kami yakin penghidupan masyarakat juga akan terus berlanjut. Sekarang, kami tidak hanya memikirkan hasil hari ini, tetapi juga bagaimana sumber daya laut tetap ada untuk anak cucu kami nanti," ujarnya.
Baca juga: Investor Global Berebut Proyek PSEL, PLN Siapkan Kontrak Listrik hingga 30 Tahun
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan program, TJSL PLN dirancang untuk menghadirkan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat melalui pendekatan Creating Shared Value (CSV).
"Oleh karena itu, setiap program kami rancang agar mampu memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, meningkatkan kualitas hidup, dan memperkuat kemandirian ekonomi," katanya.
Menurut Darmawan, program tersebut juga mendukung agenda pembangunan nasional dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Upaya pemberdayaan masyarakat juga dilakukan PLN di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), melalui program Pelatihan Sumber Daya Manusia Industri Tekstil dan Alas Kaki.
Program tersebut menyasar lulusan SMK dan masyarakat dari keluarga kurang mampu yang menghadapi tantangan dalam memperoleh pekerjaan.
Baca juga: Bus Hidrogen Bakal Mengaspal di Jakarta? Bahlil Tugaskan Dirut PLN Bahas dengan Pramono
Melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri, ratusan peserta mendapat keterampilan sekaligus kesempatan untuk disalurkan bekerja di sejumlah perusahaan tekstil dan alas kaki berskala besar di Jateng.
Salah seorang peserta program, Nawang Dwi Prasasti mengatakan, pelatihan tersebut memberinya kesempatan untuk meningkatkan keterampilan sekaligus membantu perekonomian keluarga.
“Setelah mengikuti pelatihan, saya lebih optimistis menatap masa depan karena kini memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk membantu keluarga," terangnya.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengapresiasi kolaborasi PLN dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng dalam memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
Menurut dia, program tersebut tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga membuka akses penyaluran kerja bagi peserta.
"Ini sangat berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Jateng," ujar Luthfi.
Para peserta Program Pelatihan SDM Industri Tekstil dan Alas Kaki TJSL PLN saat menjalani sesi praktik menjahit di Balai Industri Produksi Tekstil dan Alas Kaki Semarang. Menggunakan mesin jahit berstandar industri, peserta yang merupakan lulusan SMK dan masyarakat tidak mampu ini dibekali keterampilan teknis secara langsung agar benar-benar siap terjun ke dunia kerja.
Kisah para nelayan di Kotabaru dan peserta pelatihan di Semarang merupakan bagian dari berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PLN melalui TJSL.
Sepanjang semester I 2026, PLN telah merealisasikan 696 program TJSL yang menjangkau 301.779 penerima manfaat di berbagai daerah.
Baca juga: 100 Hektare Lahan di Gowa Disiapkan untuk PSEL Makassar Raya, Jadi Opsi Alternatif Tamalanrea
Program tersebut mencakup sejumlah bidang, antara lain pendidikan, pelestarian lingkungan, dan pengembangan usaha mikro dan kecil (UMK).
Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN Nurlely Aman mengatakan PLN memprioritaskan tiga sektor dalam pelaksanaan TJSL, yakni pendidikan, lingkungan, dan pengembangan UMK.
Pada sektor pendidikan, PLN telah menjalankan 215 program yang menjangkau 41.517 penerima manfaat sepanjang semester I 2026.
Sementara itu, sebanyak 245 program di sektor lingkungan dijalankan untuk mendukung perlindungan ekosistem, penghijauan, serta peningkatan akses air bersih dan sanitasi.
Adapun di sektor pengembangan UMK, PLN menjalankan 214 program yang melibatkan 4.316 pelaku usaha, menciptakan 9.148 lapangan kerja, dan memberikan manfaat kepada 46.520 masyarakat.
Baca juga: PSEL Makassar Direncanakan di Tamalanrea, Ini Alasan Pemilihan Lokasinya
Program tersebut dijalankan melalui pengembangan Rumah BUMN, electrifying agriculture, electrifying marine, serta pendampingan usaha agar pelaku UMK dapat meningkatkan kapasitas bisnisnya.
Nurlely mengatakan, keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari semakin banyaknya masyarakat yang memperoleh kesempatan untuk berkembang.
“Manfaat lainnya adalah lingkungan yang semakin terjaga, serta lahirnya kemandirian ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya