JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil analisis data Cek Kesehatan Gratis (CKG) selama satu tahun menunjukkan anemia tidak hanya banyak dialami remaja putri, tetapi juga remaja putra.
Berdasarkan analisis CKG terhadap 23,5 juta anak selama periode Februari 2025 hingga Februari 2026, prevalensi anemia pada remaja putra kelas 7 SMP mencapai 25,1 persen. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan prevalensi anemia pada remaja putri yang mencapai 27,8 persen.
Data tersebut berasal dari 1,7 juta anak kelas 7 SMP yang mengikuti CKG.
Direktur Reconstra, Iwan Ariawan mengatakan, temuan tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pendekatan penanganan anemia pada remaja yang selama ini lebih banyak menyasar remaja putri.
Baca juga: Ironi Stunting, Keracunan Massal, dan Jeritan Kemanusiaan di Jayapura
"Karena diperiksa keduanya, baik laki dan perempuan, masalah anemia ini bukan hanya perempuan. Ini di laki-laki juga ternyata sama gitu ya. Nah ini yang nanti kita bahas di diskusi, mesti gimana karena program kita selama ini kan TTD (tablet tambah darah) remaja putri gitu ya yang laki enggak dapat," ujar Iwan dalam seminar Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis Anak, Kamis (13/8/2026).
Temuan CKG juga menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri meningkat ketika memasuki jenjang SMA.
Dari sekitar 1,4 juta anak kelas 10 SMA yang terdaftar dalam CKG, sebanyak 31,6 persen remaja putri mengalami anemia.
Namun, pada jenjang tersebut CKG tidak melakukan pemeriksaan dan pendataan prevalensi anemia pada remaja putra.
"Nah ini yang bisa menjadi perhatian kita kan padahal kita punya program TTD pada remaja putri, tapi anemianya masih anemia tinggi. Yang laki tidak diperiksa sih pada SMA ini," tutur Iwan.
Secara keseluruhan, data CKG menunjukkan sekitar satu dari tiga anak sekolah di Indonesia mengalami anemia.
Iwan menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena anemia tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan anak saat ini, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Anemia dapat berdampak terhadap kemampuan kognitif dan konsentrasi. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kemampuan belajar dan produktivitas anak di sekolah.
Tingginya prevalensi anemia juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan program pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, persoalan program TTD bukan semata-mata mengenai ketersediaan obat. Remaja juga perlu dilibatkan secara aktif agar memahami alasan mereka harus mengonsumsi TTD.
Baca juga: Kemendukbangga: Program MBG Bantu Cegah Stunting pada Anak
Hal tersebut disampaikan Budi setelah berdialog dengan anggota Forum Anak dan pelajar dari berbagai daerah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya