Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 21:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Emisi nitrogen oksida (NOx) di Indonesia meningkat lebih dari 50 persen sejak 2010. Kenaikan emisi tersebut berpotensi memperbesar pembentukan partikel udara berukuran sangat kecil atau PM2,5 yang dapat terhirup masyarakat.

Studi terbaru Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) menemukan 29 titik panas (hotspot) emisi NOx yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Temuan tersebut menunjukkan sumber polusi tidak hanya berasal dari aktivitas kendaraan di kawasan perkotaan, tetapi juga pembangkit listrik berbahan bakar fosil, kawasan industri, pertambangan, hingga pusat hilirisasi nikel.

Baca juga: Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika

Studi bertajuk "Memetakan yang Tak Kasat Mata: Sebuah Satelit Mengungkap Hotspot NOx di Indonesia" tersebut menggunakan teknologi penginderaan satelit untuk mengidentifikasi titik-titik dengan konsentrasi emisi NOx tinggi.

Jumlah 29 titik panas yang ditemukan tiga kali lebih banyak dibandingkan pemetaan sebelumnya yang hanya mengidentifikasi sembilan titik.

Analis CREA Katherine Hasan mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan polusi NOx di Indonesia telah menjadi isu multisektoral.

“Di samping sektor transportasi yang berkontribusi sebagai sumber bergerak, studi ini memetakan sumber-sumber emisi stasioner, seperti pembangkit listrik berbasis batu bara (PLTU) dan gas (PLTG), kawasan industri di Jawa, hingga kompleks hilirisasi nikel di Sulawesi dan Maluku Utara,” ujar Katherine dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8/2026).

Menurut dia, pemetaan tersebut menunjukkan sebaran emisi NOx telah melampaui kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas kendaraan dan perkotaan.

Hotspot tersebar di berbagai wilayah

CREA mengelompokkan 29 hotspot NOx ke dalam empat kategori utama, yakni kawasan perkotaan yang berdekatan dengan pembangkit listrik dan industri, kawasan industri besar di kota kecil, kawasan pengolahan nikel, serta kawasan pertambangan.

Sebanyak sembilan hotspot berada di kota-kota padat penduduk, termasuk Jabodetabek, Surabaya, dan Medan. Tingginya aktivitas kendaraan di kawasan tersebut juga berdekatan dengan fasilitas pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

Sembilan hotspot lainnya berada di kawasan industri, termasuk pabrik semen dan pabrik kertas di wilayah pedesaan maupun pinggiran kota di Jawa dan Sumatra.

Jakarta Utara dan kawasan luar Bekasi menjadi dua wilayah dengan tingkat hotspot NOx tertinggi. Selanjutnya terdapat Suralaya di Banten dan Karawang Barat-Cikampek.

Gabungan sejumlah titik tersebut membentuk *airshed* dengan tingkat polusi kronis di kawasan metropolitan Jabodetabek.

Sementara itu, lima hotspot berasal dari aktivitas pertambangan batu bara di Kalimantan. Enam hotspot lainnya teridentifikasi di kawasan hilirisasi nikel berbasis batu bara di Sulawesi dan Maluku Utara.

Temuan ini menunjukkan peningkatan aktivitas industri dan ekonomi belum sepenuhnya diikuti dengan pemisahan pertumbuhan ekonomi dari ketergantungan pada bahan bakar fosil.

NOx dapat membentuk PM2,5

Persoalan emisi NOx tidak hanya berkaitan dengan paparan gas tersebut secara langsung.

Di atmosfer, NOx dapat bereaksi dan membentuk polutan lain, termasuk ozon permukaan dan partikel halus PM2,5. Kedua jenis polutan tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Paparan NOx dan PM2,5 diketahui berkaitan dengan gangguan sistem pernapasan dan kardiovaskular. Risiko tersebut menjadi lebih besar bagi kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia yang tinggal di sekitar sumber emisi.

Baca juga: Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta

Guru Besar Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) sekaligus Peneliti ISER UI, Budi Haryanto mengatakan, paparan NOx dan PM2,5 dapat berdampak langsung terhadap organ pernapasan dan sistem kardiovaskular.

“Untuk mencegah penyiaran beban biaya kesehatan nasional dan melindungi produktivitas generasi mendatang, pemerintah harus memperketat standar kualitas udara yang selaras dengan WHO serta menempatkan dampak kesehatan sebagai pertimbangan utama dalam setiap kebijakan energi dan industri,” ucap Budi.

Studi CREA juga menyoroti sistem pemantauan kualitas udara di Indonesia. Menurut temuan tersebut, standar kualitas udara ambien tahunan Indonesia untuk NOx masih lima kali lebih longgar dibandingkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Selain itu, sejumlah hotspot emisi berada di luar jangkauan stasiun pemantauan resmi. Kondisi ini berpotensi membuat paparan polusi di sejumlah komunitas tidak terpantau secara optimal.

CREA mendorong pemerintah membangun sistem pemantauan kualitas udara publik yang lebih transparan dan mudah diakses.

Sistem tersebut dapat mengintegrasikan data satelit, laporan emisi, serta hasil pengukuran dari cerobong industri. Data yang terintegrasi kemudian dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini (*early warning system*/EWS) ketika terjadi lonjakan polusi.

CREA juga mendorong penerapan Best Available Technologies (BAT) pada sektor-sektor yang menjadi sumber utama emisi.

Senior Advisor dan Co-Founder Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati menilai transparansi data menjadi salah satu kunci untuk memperkuat perlindungan masyarakat dari paparan polusi.

Menurut dia, persoalan kualitas udara kini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga meluas ke kawasan industri di Jawa hingga pusat pengolahan nikel di Sulawesi dan Maluku Utara.

“Industri harus diwajibkan oleh pemerintah untuk membagikan data polusi pabrik agar warga mengetahui kondisi udara di sekitarnya,” ujar Yuyun.

Ia menilai pemerintah perlu beralih dari sistem pelaporan pasif menuju pengawasan dan intervensi yang lebih tegas serta berbasis data.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau