KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga angin terus berkembang pesat di seluruh dunia. Namun, hal itu diiringi oleh masalah lama yang belum sepenuhnya teratasi yakni burung dan kelelawar yang mati akibat menabrak bilah turbin angin yang berputar.
Sebuah kajian besar mengenai teknologi pencegah tabrakan tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa tidak ada satu pun teknologi saat ini yang cukup tangguh jika bekerja sendirian.
Menurut studi itu, melindungi satwa liar akan membutuhkan kombinasi dari beberapa solusi yang ada, daripada hanya menunggu datangnya satu solusi yang sempurna.
Elena Kuzovnikova dan Trish Fleming dari Harry Butler Institute di Murdoch University memimpin kajian tersebut.
Melansir Earth, Kamis (13/8/2026) dalam studinya tim peneliti memeriksa 52 strategi dan alat yang digunakan atau diusulkan untuk melindungi satwa liar dari benturan turbin angin.
Cara-cara ini berkisar dari sensor pendeteksi, alat pengusir fisik, hingga perubahan cara kerja pada turbin itu sendiri.
Baca juga: Ancaman Energi Bersih: Kabel Turbin Angin Lepas Pantai Ganggu Hiu dan Ikan Pari
Kurang dari separuh dari metode tersebut yang telah diuji secara independen. Akibatnya, industri tenaga angin harus mengambil keputusan penting terkait perlindungan satwa tanpa bukti yang kuat untuk sebagian besar pilihan yang ada.
“Kami menemukan bahwa teknologi yang dirancang untuk mencegah benturan burung dan kelelawar masih minim pengujian, dan memang tidak ada satu 'solusi ajaib' yang bisa menyelesaikan semua masalah,” kata Fleming.
“Pembangunan ladang angin di masa depan perlu menggabungkan berbagai strategi yang disesuaikan dengan kondisi lokasi setempat untuk memberikan perlindungan maksimal bagi satwa liar,” katanya.
Sementara itu, peralatan yang ada saat ini mencakup sistem radar, kamera, sensor suara, serta berbagai alat pengusir yang dirancang untuk menjauhkan satwa dari bilah turbin yang berputar.
Selain itu, ada juga metode penghentian sementara (curtailment), yaitu memperlambat atau menghentikan putaran bilah turbin pada waktu-waktu yang berisiko tinggi.
Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sehingga tidak ada yang bisa bekerja maksimal jika hanya diandalkan sendirian.
Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa menghentikan atau memperlambat turbin sementara merupakan salah satu dari sedikit cara yang terbukti ampuh mengurangi kematian kelelawar.
Namun, kajian ini memperjelas bahwa metode yang sudah terbukti seperti curtailment pun tetap bekerja paling baik jika digabungkan dengan cara lain, bukan berdiri sendiri.
“Teknologi saat ini seperti radar, kamera, sensor suara, penghentian sementara, dan alat pengusir masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan. Temuan kami menunjukkan bahwa ladang angin membutuhkan kombinasi strategi yang disesuaikan dengan lokasi agar benar-benar efektif,” kata Fleming.
Informasi tersebut sangat penting karena tingkat keampuhan suatu alat bisa berbeda jauh tergantung lokasinya.
Sistem pendeteksi yang dirancang untuk jenis burung tertentu di satu area belum tentu bisa mendeteksi burung jenis lain di tempat yang berbeda. Keterbatasan inilah yang menjelaskan mengapa riset ini menolak gagasan adanya satu solusi yang bisa dipakai untuk semua tempat.
Temuan ini juga bisa membantu pemerintah dan pelaku industri dalam menyusun rencana perlindungan burung dan kelelawar di seluruh dunia.
Pasalnya studi membongkar ketimpangan bukti yang ada dan menunjukkan celah-celah kekurangan yang paling besar. Alih-alih memberikan daftar teknologi yang tinggal dipasang lalu dilupakan, riset ini memberi tahu pihak regulator dan pengelola lokasi mana saja yang masih butuh penelitian lebih lanjut.
Informasi ini sangat penting bagi industri pembangkit listrik angin yang sedang dituntut untuk berkembang cepat, tetapi juga harus memenuhi aturan perlindungan lingkungan yang makin ketat.
Baca juga: UNDP Kucurkan Rp 250 Miliar untuk Lindungi Satwa Liar di Indonesia
Beberapa alat pencegah sudah diuji secara independen, sementara alat lainnya sebagian besar belum terbukti keampuhannya.
Dengan mengetahui perbedaannya, para perencana memiliki acuan yang lebih baik untuk merancang perlindungan yang sesuai dengan lokasi, daripada sekadar menganggap semua teknologi pasti berhasil.
Profesor Lazaro Roque-Albelo, Kepala Responsible Mining and Biodiversity Stewardship di Harry Butler Institute menambahkan proyek ini sebagai contoh kerja sama yang baik antara peneliti dan pihak industri untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang tidak akan bisa diselesaikan jika mereka bekerja sendiri-sendiri.
“Riset yang didukung oleh industri dapat menghasilkan bukti ilmiah yang dibutuhkan untuk menentukan kebijakan, undang-undang, panduan, dan pada akhirnya, menciptakan hasil lingkungan yang lebih baik,” katanya.
“Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan ini memperkuat proses perizinan lingkungan dan kepatuhan operasional, yang nantinya membantu para praktisi industri, pembuat aturan, serta konsultan untuk melakukan penilaian dan mengambil keputusan yang lebih tepat,” paparnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya