BrandzView
Konten ini merupakan Kerjasama Kompas.com dan SYNGENTA

Syngenta Apresiasi Petani, Hadirkan Cerita Supardi Sekolahkan Anak hingga S2

Kompas.com, 29 September 2026, 08:24 WIB
Renaldi Saputra,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KARAWANG, KOMPAS.com - Suasana hangat terlihat saat Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia Eryanto berbincang dengan Supardi, salah satu anggota Growers Community, dalam Gala Dinner & Appreciation Night Festival Padi Petani MAJU 2026 di Ballroom Resinda Hotel Karawang, Jawa Barat, Kamis (24/9/2026).

Acara bertajuk Synergy in Unity with Action itu digelar Syngenta Indonesia bertepatan dengan Hari Tani Nasional.

Dalam perbincangan tersebut, Eryanto menanyakan pengalaman Supardi selama menjalankan usaha tani.

"Sudah berapa lama, Pak, bertani?" tanya Eryanto kepada Supardi.

"Saya bertani sudah lebih dari 20 tahun," jawab Supardi.

Selama lebih dari dua dekade Supardi merasakan berbagai pengalaman serta tantangan dalam menjalankan usaha tani. Dari hasil tani inilah, Supardi bisa membiayai pendidikan anak hingga menempuh jenjang magister (S2).

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, dari hasil bertani ini anak saya bisa sekolah sampai S2,” ujar Supardi.

Meski demikian, ia mengakui bahwa perjalanannya sebagai petani tidak selalu mudah. Serangan hama dan penyakit tanaman menjadi tantangan utama dalam menjalankan usaha tani.

Beruntung, ia sudah mengenal Syngenta Indonesia sejak mulai bertani. Dari situ, ia kemudian bergabung dengan Growers Community. Di komunitas ini, Supardi bisa memperoleh pengetahuan dan bertukar pengalaman dengan sesama petani.

Pengetahuan yang diperoleh dari komunitas membantunya menghadapi berbagai persoalan yang ditemui di lahan.

“Alhamdulillah, sejak ikut komunitas yang digelar Syngenta, kendala yang saya hadapi sebagai petani bisa terkendali,” ujar Supardi.

Baginya, komunitas tidak hanya menjadi tempat untuk berbagi pengalaman mengenai pertanian, tetapi juga membantu petani menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan pekerjaannya.

Selain Supardi, Syngenta Indonesia juga menghadirkan berbagai pihak dalam ekosistem pertanian di Festival Padi Petani MAJU 2026 yang digelar tiga hari sejak Selasa (22/9/2026).

Sebanyak 13 komunitas petani dari sembilan provinsi di Indonesia hadir dalam kegiatan tersebut. Hadir pula penyuluh pertanian lapangan (PPL), media nasional, organisasi petani, SMKN Pertanian Karawang, serta sejumlah mitra Syngenta Indonesia.

Rangkaian Festival Padi Petani MAJU 2026 menjadi momentum untuk mendengarkan cerita para petani, mengapresiasi peran mereka, serta mempertemukan pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap keberlanjutan sektor pertanian.

Syngenta apresiasi petani Indonesia

Syngenta Indonesia memberikan apresiasi kepada petani dalam Gala Dinner & Appreciation Night Festival Padi Petani MAJU 2026 di Karawang, Jawa Barat.KOMPAS.com/Renaldi Saputra Syngenta Indonesia memberikan apresiasi kepada petani dalam Gala Dinner & Appreciation Night Festival Padi Petani MAJU 2026 di Karawang, Jawa Barat.

Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia Eryanto mengatakan, petani memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehingga perlu terus didukung.

“Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Petani MAJU di seluruh Indonesia yang senantiasa membantu kehidupan masyarakat Indonesia," ujar Eryanto dalam sambutannya.

Eryanto mengatakan, Syngenta Indonesia akan terus menghadirkan inovasi untuk mendukung petani.

"Kami berkomitmen terus berinovasi untuk membantu petani maju di Indonesia," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Syngenta Indonesia juga memberikan apresiasi kepada petani dan mitra.

Eryanto dan CP National Sales Head Syngenta Indonesia Fauzi Tubat juga menyerahkan penghargaan berupa exclusive package kepada perwakilan Growers Community.

Tiga hari merangkai semangat Petani MAJU

Fauzi mengatakan, apresiasi kepada petani menjadi bagian dari rangkaian Festival Padi Petani MAJU 2026 yang berlangsung selama tiga hari dan bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional.

"Selama tiga hari, kami melaksanakan Festival Padi Petani MAJU serta merayakan Hari Tani Nasional,” ujar Fauzi.

Ia melanjutkan, rangkaian kegiatan tersebut mengangkat tema seputar perjalanan petani, mulai dari peningkatan produktivitas dan keuntungan, inovasi, keberlanjutan, hingga kolaborasi.

Agenda festival mencakup Maximize Profitability Day, Accelerate Innovation Day, Joint Effort in Sustainability Day, serta United One Team Day yang sekaligus menjadi penutup pada Hari Tani Nasional.

Pada rangkaian terakhir, Syngenta Indonesia mempertemukan komunitas petani dengan berbagai pihak yang berperan dalam ekosistem pertanian.

"Malam ini dihubungkan semuanya. Kami berkolaborasi dengan orang yang berbeda untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Malam ini bentuk apresiasi pahlawan pangan negeri," kata Fauzi.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal bagi hadirnya festival atau kegiatan serupa di bidang pertanian dan agraria.

Kolaborasi pendidikan dorong regenerasi petani

Syngenta Indonesia bersama SMKN Pertanian Karawang, Perum BULOG Karawang, PT Pupuk Kujang, dan KTNA Rawamerta menandatangani MoU untuk mendorong regenerasi petani.KOMPAS.com/Renaldi Saputra Syngenta Indonesia bersama SMKN Pertanian Karawang, Perum BULOG Karawang, PT Pupuk Kujang, dan KTNA Rawamerta menandatangani MoU untuk mendorong regenerasi petani.

Pembahasan mengenai masa depan petani kemudian berlanjut pada upaya mendorong regenerasi melalui pendidikan vokasi.

Dalam Festival Padi Petani MAJU 2026, Syngenta bersama sejumlah mitra memperkuat kolaborasi tersebut melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU).

Kerja sama itu melibatkan SMKN Pertanian Karawang, PT Syngenta Indonesia, Perum BULOG Karawang, PT Pupuk Kujang, dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Rawamerta.

MoU tersebut mencakup Program Pendidikan Vokasi dan Pendampingan Budi Daya Padi Berbasis Kolaborasi Multipihak. Melalui kerja sama itu, dunia pendidikan dipertemukan dengan pelaku industri, lembaga pangan, produsen pupuk, dan organisasi petani.

SMKN Pertanian Karawang menjadi bagian dari kolaborasi tersebut untuk mendukung pendidikan vokasi sekaligus memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan praktik budi daya padi kepada generasi muda.

Pesan mengenai regenerasi turut ditampilkan melalui penyerahan simbol generasi penerus petani Indonesia dari petani senior kepada petani muda. Simbolisasi tersebut menggambarkan estafet peran petani dari generasi saat ini kepada generasi berikutnya.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Terkini Lainnya
Syngenta Apresiasi Petani, Hadirkan Cerita Supardi Sekolahkan Anak hingga S2
Syngenta Apresiasi Petani, Hadirkan Cerita Supardi Sekolahkan Anak hingga S2
BrandzView
Program LAKSMI Dorong Perempuan Pelaku UMKM Surabaya Perkuat Kapasitas Usaha
Program LAKSMI Dorong Perempuan Pelaku UMKM Surabaya Perkuat Kapasitas Usaha
LSM/Figur
Aturan EPR Direvisi, Industri Minta Mekanisme dan Pengawasan Diperjelas
Aturan EPR Direvisi, Industri Minta Mekanisme dan Pengawasan Diperjelas
Swasta
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Swasta
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Pemerintah
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
LSM/Figur
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Swasta
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Pemerintah
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Pemerintah
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
LSM/Figur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
Pemerintah
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Pemerintah
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Pemerintah
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Pemerintah
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Swasta
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau