Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil

Kompas.com, 17 Agustus 2026, 13:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Organisasi nirlaba Climate Group mengungkapkan sebagian besar perusahaan di dunia tidak lagi menambah mobil operasional yang berbahan bakar bensin atau diesel baru ke dalam daftar aset mereka pada 2025.

Melansir Edie, Senin (3/8/2026) laporan terbaru dari Climate Group menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan secara bertahap mulai meninggalkan kendaraan bahan bakar fosil.

Bahkan, 70 persen perusahaan terkemuka di dunia tercatat sama sekali tidak membeli kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel baru sepanjang tahun 2025.

Pilihan untuk meninggalkan kendaraan berbahan bakar fosil ini salah satunya karena inisiatif bernama EV100 yang diluncurkan oleh Climate Group sejak tahun 2017. Inisiatif ini mempertemukan berbagai perusahaan yang berkomitmen untuk mempercepat beralih ke kendaraan listrik pada tahun 2030.

Saat ini, lebih dari 120 perusahaan di seluruh dunia telah bergabung dan berjanji untuk Bebas Emisi Karbon pada armada mereka di akhir dekade ini.

Baca juga: Hanya Sedikit Orang Indonesia Beli Mobil Listrik Demi Atasi Perubahan Iklim

Menurut laporan yang menganalisis armada kendaraan di 140 negara, para anggota EV100 secara bersama-sama telah berhasil mencegah terciptanya hampir 3 juta ton emisi karbon sejak bergabung.

Hal ini berhasil dicapai karena mereka beralih dari kendaraan bensin dan diesel ke kendaraan listrik. Beberapa perusahaan besar yang menjadi anggota di antaranya adalah AstraZeneca, IKEA, GeoPost, BT Group, Maersk, Siemens, dan Coca-Cola Europacific Partners.

"Perusahaan membuktikan bahwa beralih ke mobil listrik bukan lagi sekadar impian masa depan. Hal ini sedang terjadi sekarang dalam skala besar," ungkap Dominic Phinn, Kepala Bagian Transportasi di Climate Group.

"Mereka tahu bahwa mobil listrik lebih hemat biaya operasional, lebih bersih, dan membutuhkan perawatan yang lebih sedikit. Di berbagai negara, perusahaan-perusahaan tidak lagi cuma 'mencoba-coba' mobil listrik, melainkan sudah menjadikannya bagian utama dari kegiatan bisnis mereka. Pengalaman mereka membuktikan bahwa penggunaan mobil listrik sangat bisa diterapkan di berbagai lokasi, model bisnis, maupun kebutuhan operasional," terangnya.

Menurut Climate Group, gerakan ini kini makin fokus mendukung penggunaan kendaraan listrik di negara-negara berkembang, seperti di Amerika Latin dan Asia. Fokus utamanya adalah mendorong minat pembeli, memperbanyak tempat pengisian daya dan mempercepat peralihan menuju bebas emisi.

Tahun lalu, para anggota EV100 telah menurunkan hampir 24.000 kendaraan listrik baru di jalanan negara-negara berkembang. Ini membuat total kendaraan listrik yang digunakan mencapai 70.000 unit sejak mereka bergabung.

Laporan dari Climate Group ini juga mencatat bahwa para anggota EV100 telah memasang lebih dari 48.500 unit tempat pengisian daya (charger) di 6.000 lokasi di seluruh dunia.

Mayoritas armada AstraZeneca adalah EV

Climate Group menyoroti pula perusahaan farmasi AstraZeneca yang kini telah mengubah lebih dari 80 persen armada kendaraannya dari total 22.000 kendaraan menjadi kendaraan listrik. Hal ini mencakup armada kendaraan yang sudah 100 persen listrik di 37 negara berbeda.

Baca juga: Pasar EV Eropa Melesat, Penjualan Naik 40,5 Persen di Semester Pertama 2026

AstraZeneca masuk dalam kelompok 20 persen anggota EV100 yang telah mengubah lebih dari separuh total kendaraan mereka menjadi listrik.

"Saat ini, empat dari setiap lima kendaraan AstraZeneca adalah kendaraan berbasis baterai listrik (BEV). Kami memimpin sektor farmasi dalam mengubah armada menjadi listrik di berbagai negara. Ini membantu menekan emisi gas buang, meningkatkan kualitas udara, dan mengurangi dampak lingkungan," kata Liz Chatwin, Wakil Presiden Keberlanjutan Global dan K3L di AstraZeneca.

"Mendorong perubahan melalui aksi bersama itu sangat penting. Kami menyadari tidak ada satu perusahaan pun yang bisa melakukan transisi global ini sendirian. Peralihan kendaraan kami ke listrik adalah bagian dari transformasi besar yang sedang berjalan," tambah Stuart Poore, Direktur Eksekutif Strategi Iklim dan Alam di AstraZeneca.

Perusahaan ini menargetkan penurunan emisi langsung (Scope 1 dan 2) hingga 98 persen pada tahun 2026 dibandingkan dengan angka tahun 2015.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau