KOMPAS.com - Lebih dari empat juta hektar hutan tropis yang dilindungi telah lenyap akibat kebakaran hutan sejak tahun 2001.
Luas hutan yang hilang dengan kecepatan mengkhawatirkan, menurut studi baru dari Universitas Sheffield ini mengancam kawasan perlindungan atau suaka yang sebelumnya dianggap aman.
Melansir Down to Earth, Minggu (16/8/2026) studi yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology ini adalah yang pertama menilai secara rinci berapa banyak hutan tropis dilindungi yang telah hilang akibat kebakaran hutan di seluruh dunia, serta apakah status dilindungi benar-benar mengurangi risiko hutan terbakar.
Para peneliti menggabungkan data kebakaran hutan dari satelit dengan peta lebih dari 9.700 kawasan dilindungi di seluruh wilayah tropis untuk melacak kehilangan hutan antara tahun 2001 hingga 2024.
Baca juga: Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran
Para peneliti menemukan bahwa kehancuran hutan tropis dilindungi akibat kebakaran tidak hanya sangat besar, tetapi juga bertambah cepat.
Luas area yang terbakar di dalam kawasan dilindungi saban tahunnya melonjak sekitar sembilan kali lipat sejak tahun 2016 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan hampir sepertiga dari total kerusakan selama 24 tahun terjadi di tahun 2024 saja.
Sebagian besar kehancuran tersebut atau sekitar 89 persen terjadi di kawasan tropis Benua Amerika, terutama di Brasil yang menyumbang hampir dua pertiga dari total kerusakan global. Bolivia dan Indonesia juga mencatatkan kehilangan hutan yang cukup besar.
Untuk menguji apakah status perlindungan benar-benar berpengaruh, para peneliti membandingkan lahan hutan yang dilindungi dengan lahan tak dilindungi di sekitarnya yang memiliki kondisi serupa.
Lahan-lahan ini diselaraskan berdasarkan faktor penentu risiko kebakaran, seperti suhu, curah hujan, kepadatan penduduk, dan luas hutan di sekitarnya. Dengan begitu, peneliti bisa melihat dampak murni dari status perlindungan itu sendiri, bukan karena faktor pendukung lainnya.
Hasil penelitian ini menunjukkan perpaduan positif dan tantangan bahwa kawasan yang dilindungi terbukti lebih jarang terbakar dibandingkan hutan tak dilindungi di sekitar separuh area yang diteliti di Benua Amerika, bahkan mencapai tujuh dari sepuluh area di Afrika.
Namun, ketika para peneliti melihat perkembangan dari waktu ke waktu, mereka menemukan bahwa hutan yang dilindungi dan yang tidak dilindungi mengalami tren yang hampir sama.
Artinya, ketika risiko kebakaran hutan memburuk di suatu wilayah, kawasan yang dilindungi ikut terkena dampaknya sama parahnya dengan lahan yang tidak dilindungi.
“Kawasan yang dilindungi memang membantu mengurangi risiko kebakaran hutan, tetapi status tersebut tidak menjamin keamanan seiring memburuknya perubahan iklim," ungkap Christopher Bousfield, Peneliti di Universitas Sheffield.
"Sebagian besar kebakaran di kawasan tropis disebabkan oleh manusia sehingga menyelamatkan hutan-hutan ini membutuhkan kerja sama aktif dengan masyarakat lokal dan pemilik lahan untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara dibakar serta kebakaran tidak sengaja yang meluas ke kawasan dilindung,” paparnya lagi.
Para peneliti menegaskan bahwa kawasan yang dilindungi masih merupakan salah satu alat terbaik yang kita miliki untuk menyelamatkan hutan tropis, satwa liar, dan cadangan karbon.
Baca juga: Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis
Namun, alih-alih menganggap kebakaran hutan sebagai masalah terpisah, para pengelola kawasan kini harus memasukkan pencegahan kebakaran secara langsung ke dalam rencana pelestarian mereka terutama saat perubahan iklim dan cuaca ekstrem seperti El Niño membuat kebakaran terjadi lebih sering dan lebih parah.
“Kawasan yang dilindungi terbukti telah melindungi hutan tropis dari kebakaran selama dua dekade terakhir. Namun, kawasan ini tidak kebal terhadap krisis iklim yang makin memburuk. Untuk terus menyelamatkan ekosistem ini, kita harus mengatasi akar penyebab hutan makin mudah terbakar dan memastikan risiko kebakaran menjadi bagian utama dalam merencanakan kawasan perlindungan di masa depan,” tambah Oscar Morton, Peneliti dari Universitas Sheffield.
Studi ini menggunakan data satelit beresolusi tinggi yang mampu mendeteksi kehilangan hutan hingga ukuran 30 meter. Hal ini memungkinkan peneliti untuk membedakan antara kebakaran hebat yang menghancurkan seluruh area hutan dengan kebakaran kecil yang hanya merusak tanpa memusnahkan hutan sepenuhnya.
Karena hal tersebut, para peneliti menyatakan bahwa angka kerusakan yang mereka paparkan kemungkinan masih berupa perkiraan terkecil dari skala kerusakan api yang sebenarnya di hutan tropis dilindungi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya