Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung

Kompas.com, 17 Agustus 2026, 15:08 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Lebih dari empat juta hektar hutan tropis yang dilindungi telah lenyap akibat kebakaran hutan sejak tahun 2001.

Luas hutan yang hilang dengan kecepatan mengkhawatirkan, menurut studi baru dari Universitas Sheffield ini mengancam kawasan perlindungan atau suaka yang sebelumnya dianggap aman.

Melansir Down to Earth, Minggu (16/8/2026) studi yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology ini adalah yang pertama menilai secara rinci berapa banyak hutan tropis dilindungi yang telah hilang akibat kebakaran hutan di seluruh dunia, serta apakah status dilindungi benar-benar mengurangi risiko hutan terbakar.

Para peneliti menggabungkan data kebakaran hutan dari satelit dengan peta lebih dari 9.700 kawasan dilindungi di seluruh wilayah tropis untuk melacak kehilangan hutan antara tahun 2001 hingga 2024.

Baca juga: Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran

Para peneliti menemukan bahwa kehancuran hutan tropis dilindungi akibat kebakaran tidak hanya sangat besar, tetapi juga bertambah cepat.

Luas area yang terbakar di dalam kawasan dilindungi saban tahunnya melonjak sekitar sembilan kali lipat sejak tahun 2016 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan hampir sepertiga dari total kerusakan selama 24 tahun terjadi di tahun 2024 saja.

Sebagian besar kehancuran tersebut atau sekitar 89 persen terjadi di kawasan tropis Benua Amerika, terutama di Brasil yang menyumbang hampir dua pertiga dari total kerusakan global. Bolivia dan Indonesia juga mencatatkan kehilangan hutan yang cukup besar.

Untuk menguji apakah status perlindungan benar-benar berpengaruh, para peneliti membandingkan lahan hutan yang dilindungi dengan lahan tak dilindungi di sekitarnya yang memiliki kondisi serupa.

Lahan-lahan ini diselaraskan berdasarkan faktor penentu risiko kebakaran, seperti suhu, curah hujan, kepadatan penduduk, dan luas hutan di sekitarnya. Dengan begitu, peneliti bisa melihat dampak murni dari status perlindungan itu sendiri, bukan karena faktor pendukung lainnya.

Hasil penelitian ini menunjukkan perpaduan positif dan tantangan bahwa kawasan yang dilindungi terbukti lebih jarang terbakar dibandingkan hutan tak dilindungi di sekitar separuh area yang diteliti di Benua Amerika, bahkan mencapai tujuh dari sepuluh area di Afrika.

Status hutan lindung tak menjamin

Namun, ketika para peneliti melihat perkembangan dari waktu ke waktu, mereka menemukan bahwa hutan yang dilindungi dan yang tidak dilindungi mengalami tren yang hampir sama.

Artinya, ketika risiko kebakaran hutan memburuk di suatu wilayah, kawasan yang dilindungi ikut terkena dampaknya sama parahnya dengan lahan yang tidak dilindungi.

“Kawasan yang dilindungi memang membantu mengurangi risiko kebakaran hutan, tetapi status tersebut tidak menjamin keamanan seiring memburuknya perubahan iklim," ungkap Christopher Bousfield, Peneliti di Universitas Sheffield.

"Sebagian besar kebakaran di kawasan tropis disebabkan oleh manusia sehingga menyelamatkan hutan-hutan ini membutuhkan kerja sama aktif dengan masyarakat lokal dan pemilik lahan untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara dibakar serta kebakaran tidak sengaja yang meluas ke kawasan dilindung,” paparnya lagi.

Para peneliti menegaskan bahwa kawasan yang dilindungi masih merupakan salah satu alat terbaik yang kita miliki untuk menyelamatkan hutan tropis, satwa liar, dan cadangan karbon.

Baca juga: Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis

Namun, alih-alih menganggap kebakaran hutan sebagai masalah terpisah, para pengelola kawasan kini harus memasukkan pencegahan kebakaran secara langsung ke dalam rencana pelestarian mereka terutama saat perubahan iklim dan cuaca ekstrem seperti El Niño membuat kebakaran terjadi lebih sering dan lebih parah.

“Kawasan yang dilindungi terbukti telah melindungi hutan tropis dari kebakaran selama dua dekade terakhir. Namun, kawasan ini tidak kebal terhadap krisis iklim yang makin memburuk. Untuk terus menyelamatkan ekosistem ini, kita harus mengatasi akar penyebab hutan makin mudah terbakar dan memastikan risiko kebakaran menjadi bagian utama dalam merencanakan kawasan perlindungan di masa depan,” tambah Oscar Morton, Peneliti dari Universitas Sheffield.

Studi ini menggunakan data satelit beresolusi tinggi yang mampu mendeteksi kehilangan hutan hingga ukuran 30 meter. Hal ini memungkinkan peneliti untuk membedakan antara kebakaran hebat yang menghancurkan seluruh area hutan dengan kebakaran kecil yang hanya merusak tanpa memusnahkan hutan sepenuhnya.

Karena hal tersebut, para peneliti menyatakan bahwa angka kerusakan yang mereka paparkan kemungkinan masih berupa perkiraan terkecil dari skala kerusakan api yang sebenarnya di hutan tropis dilindungi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau