Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria

Kompas.com, 18 Agustus 2026, 16:11 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengembangkan Eco-Repel Spray, penangkal nyamuk berbahan dasar rambut jagung dan daun pepaya yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah pertanian.

Inovasi tersebut dikembangkan sebagai alternatif penangkal nyamuk berbasis bahan alami sekaligus memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah.

Pengembangan produk dilakukan dengan pendekatan Community-Based Participatory Approach (CBPA) dan telah diterapkan kepada masyarakat di Desa Botumoito, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.

Tim peneliti terdiri dari La Ode Aman, Dizky Ramadani Putri Papeo, dan Yuniarty Antu.

Dalam keterangan yang dimuat di laman resmi UNG, Sabtu (15/8/2026), peneliti menyebut rambut jagung (Zea mays L.) dan daun pepaya (Carica papaya L.) dipilih karena mengandung sejumlah senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan perlindungan terhadap nyamuk.

Pengembangan Eco-Repel Spray juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk repelan komersial yang umumnya menggunakan bahan aktif sintetis.

Mengandalkan senyawa alami

Rambut jagung diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif, antara lain flavonoid, saponin, tanin, dan minyak atsiri.

Kandungan minyak atsiri menghasilkan senyawa volatil yang dapat mengganggu kemampuan nyamuk dalam mengenali manusia sebagai inang. Selain itu, rambut jagung juga disebut mengandung senyawa norbergenin yang dalam penelitian memiliki aktivitas terhadap pertumbuhan parasit malaria.

Sementara itu, daun pepaya mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan senyawa fenolik.

Kombinasi kedua bahan tersebut dikembangkan untuk menghasilkan efek perlindungan yang lebih lama terhadap gigitan nyamuk. Kandungan flavonoid pada daun pepaya juga disebut memberikan efek repelan terhadap nyamuk.

Formulasi tersebut kemudian dipadukan dengan minyak sereh atau *citronella oil*. Minyak sereh mengandung senyawa geraniol dan citronellal yang dikenal memiliki aroma yang tidak disukai nyamuk.

Bisa dibuat dengan bahan sederhana

Selain memanfaatkan limbah pertanian, *Eco-Repel Spray* dirancang dengan proses pembuatan yang relatif sederhana sehingga dapat dipraktikkan dalam skala rumah tangga.

Dalam formulasi yang dikembangkan tim peneliti, rambut jagung sebanyak 50-100 gram dan 10-15 helai daun pepaya segar terlebih dahulu dibersihkan.

Kedua bahan kemudian direbus menggunakan 1.000 mililiter air selama 20-30 menit. Air hasil rebusan disaring menggunakan kain kasa dan didinginkan hingga mencapai suhu ruang.

Pada wadah berbeda, sebanyak 100 mililiter etanol 70 persen dicampurkan dengan 1 mililiter minyak sereh.

Air hasil ekstraksi rambut jagung dan daun pepaya selanjutnya dicampurkan secara bertahap ke dalam larutan tersebut sambil diaduk hingga homogen. Setelah itu, cairan dimasukkan ke dalam botol semprot steril.

Pemanfaatan bahan lokal tersebut membuat inovasi ini tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan kesehatan masyarakat, tetapi juga memiliki aspek lingkungan dan ekonomi.

Limbah organik pertanian yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Pendekatan tersebut sekaligus mendorong prinsip zero waste dan membuka peluang pengembangan produk berbasis sumber daya lokal.

Malaria masih menjadi tantangan

Pengembangan penangkal nyamuk berbahan alami tersebut berkaitan dengan kebutuhan pencegahan malaria, terutama di wilayah yang menjadi habitat nyamuk Anopheles.

Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Kondisi tropis dengan suhu hangat dan kelembapan tinggi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk tersebut.

Karena itu, pencegahan gigitan nyamuk menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi risiko penularan malaria.

Melalui Eco-Repel Spray, tim UNG tidak hanya berupaya menghasilkan alternatif penangkal nyamuk berbahan alami, tetapi juga menghubungkan upaya kesehatan masyarakat dengan pemanfaatan limbah pertanian.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan sekaligus mendorong pengembangan solusi kesehatan berbasis potensi lokal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau