KOMPAS.com - Tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengembangkan Eco-Repel Spray, penangkal nyamuk berbahan dasar rambut jagung dan daun pepaya yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah pertanian.
Inovasi tersebut dikembangkan sebagai alternatif penangkal nyamuk berbasis bahan alami sekaligus memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah.
Pengembangan produk dilakukan dengan pendekatan Community-Based Participatory Approach (CBPA) dan telah diterapkan kepada masyarakat di Desa Botumoito, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.
Tim peneliti terdiri dari La Ode Aman, Dizky Ramadani Putri Papeo, dan Yuniarty Antu.
Dalam keterangan yang dimuat di laman resmi UNG, Sabtu (15/8/2026), peneliti menyebut rambut jagung (Zea mays L.) dan daun pepaya (Carica papaya L.) dipilih karena mengandung sejumlah senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan perlindungan terhadap nyamuk.
Pengembangan Eco-Repel Spray juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk repelan komersial yang umumnya menggunakan bahan aktif sintetis.
Rambut jagung diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif, antara lain flavonoid, saponin, tanin, dan minyak atsiri.
Kandungan minyak atsiri menghasilkan senyawa volatil yang dapat mengganggu kemampuan nyamuk dalam mengenali manusia sebagai inang. Selain itu, rambut jagung juga disebut mengandung senyawa norbergenin yang dalam penelitian memiliki aktivitas terhadap pertumbuhan parasit malaria.
Sementara itu, daun pepaya mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, dan senyawa fenolik.
Kombinasi kedua bahan tersebut dikembangkan untuk menghasilkan efek perlindungan yang lebih lama terhadap gigitan nyamuk. Kandungan flavonoid pada daun pepaya juga disebut memberikan efek repelan terhadap nyamuk.
Formulasi tersebut kemudian dipadukan dengan minyak sereh atau *citronella oil*. Minyak sereh mengandung senyawa geraniol dan citronellal yang dikenal memiliki aroma yang tidak disukai nyamuk.
Selain memanfaatkan limbah pertanian, *Eco-Repel Spray* dirancang dengan proses pembuatan yang relatif sederhana sehingga dapat dipraktikkan dalam skala rumah tangga.
Dalam formulasi yang dikembangkan tim peneliti, rambut jagung sebanyak 50-100 gram dan 10-15 helai daun pepaya segar terlebih dahulu dibersihkan.
Kedua bahan kemudian direbus menggunakan 1.000 mililiter air selama 20-30 menit. Air hasil rebusan disaring menggunakan kain kasa dan didinginkan hingga mencapai suhu ruang.
Pada wadah berbeda, sebanyak 100 mililiter etanol 70 persen dicampurkan dengan 1 mililiter minyak sereh.
Air hasil ekstraksi rambut jagung dan daun pepaya selanjutnya dicampurkan secara bertahap ke dalam larutan tersebut sambil diaduk hingga homogen. Setelah itu, cairan dimasukkan ke dalam botol semprot steril.
Pemanfaatan bahan lokal tersebut membuat inovasi ini tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan kesehatan masyarakat, tetapi juga memiliki aspek lingkungan dan ekonomi.
Limbah organik pertanian yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Pendekatan tersebut sekaligus mendorong prinsip zero waste dan membuka peluang pengembangan produk berbasis sumber daya lokal.
Pengembangan penangkal nyamuk berbahan alami tersebut berkaitan dengan kebutuhan pencegahan malaria, terutama di wilayah yang menjadi habitat nyamuk Anopheles.
Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Kondisi tropis dengan suhu hangat dan kelembapan tinggi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk tersebut.
Karena itu, pencegahan gigitan nyamuk menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi risiko penularan malaria.
Melalui Eco-Repel Spray, tim UNG tidak hanya berupaya menghasilkan alternatif penangkal nyamuk berbahan alami, tetapi juga menghubungkan upaya kesehatan masyarakat dengan pemanfaatan limbah pertanian.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan sekaligus mendorong pengembangan solusi kesehatan berbasis potensi lokal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya