KOMPAS.com - Limbah cangkang kelapa sawit berpotensi dimanfaatkan sebagai biokokas atau bahan pereduksi (reduktor) untuk menekan emisi gas rumah kaca (GRK) dari industri besi dan nikel.
Pemanfaatan biomassa tersebut menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap batu bara dalam proses pirometalurgi, terutama pada proses peleburan bijih besi dan nikel.
Dosen Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Asful Hariyadi mengatakan, cangkang kelapa sawit memiliki sejumlah keunggulan untuk dikembangkan sebagai bahan bakar atau reduktor pengganti batu bara.
Baca juga: Emisi NOx Industri Nikel di Sulawesi-Maluku Lampaui Sumber Polusi Jabodetabek
Selain ketersediaannya melimpah di Indonesia, penggunaan cangkang kelapa sawit dinilai berpotensi lebih ekonomis dan menghasilkan polusi udara yang lebih rendah karena memiliki kandungan sulfur yang relatif rendah.
"Meski memang dekarbonisasi dalam reduksi tidak serta-merta bisa menghilangkan emisi CO2, tetapi yang bisa dilakukan adalah upaya pengurangan emisi," ujar Asful dalam webinar Mineral Strategis Indonesia, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, pemanfaatan biomassa juga dapat diarahkan untuk mendukung konsep net zero emission (NZE).
"Harapannya adalah karbon netral di mana emisi yang dibuang itu seimbang juga dengan sumber penghasil emisi itu sendiri," katanya.
Asful menjelaskan, cangkang kelapa sawit memiliki densitas energi dan kadar karbon yang relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah jenis biomassa lain, seperti serbuk kayu atau cangkang kelapa.
Karakteristik tersebut membuat cangkang sawit berpotensi digunakan dalam proses produksi besi dan nikel yang selama ini banyak mengandalkan reduktor berbasis batu bara.
Berdasarkan studi Life Cycle Assessment (LCA) yang dirujuk Asful, penggunaan cangkang kelapa sawit dalam proses tanur tiup (blast furnace) konvensional menghasilkan emisi sekitar 500 kilogram CO2 ekuivalen per ton produk.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kokas metalurgi berbasis batu bara yang menurut literatur menghasilkan emisi lebih dari 2.300 kilogram CO2 ekuivalen per ton melalui metode tanur tiup konvensional.
Baca juga: Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
"Bisa dibilang secara target karbon dekarbonisasi secara pendekatan studi literatur itu berpotensi untuk dikaji lebih dalam kembali," tutur Asful.
Meski demikian, pemanfaatan cangkang kelapa sawit sebagai reduktor masih menghadapi tantangan teknis. Berdasarkan uji proximate, cangkang kelapa sawit memiliki kadar abu 5,68 persen, volatile matter 67,76 persen, karbon terikat 21,19 persen, dan nilai kalor 4.698 kalori per gram.
Sementara itu, untuk memenuhi standar teknis tanur tinggi (blast furnace), dibutuhkan karbon terikat lebih dari 80 persen dan nilai kalor minimal 6.800 kalori per gram.
Kandungan lignoselulosa yang tinggi juga menjadi salah satu tantangan dalam pengolahan cangkang sawit. Kandungan tersebut perlu direkayasa karena dapat memengaruhi kadar volatile matter yang kurang sesuai untuk proses peleburan.
Karena itu, cangkang kelapa sawit perlu melalui sejumlah tahapan pengolahan agar karakteristiknya memenuhi kebutuhan proses metalurgi, termasuk menjaga kadar abu agar tidak melebihi 10 persen.
Hasil uji coba yang dilakukan menunjukkan cangkang kelapa sawit memiliki performa yang dapat mendekati karbon berbasis batu bara dalam proses peleburan bijih besi dan nikel.
Namun, pemanfaatannya dalam skala industri masih membutuhkan kajian lebih lanjut untuk memastikan kesesuaian karakteristik material dengan kebutuhan proses metalurgi.
Asful juga mengingatkan bahwa pemanfaatan cangkang sawit perlu mempertimbangkan ketersediaannya. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, cangkang sawit mulai banyak digunakan oleh industri pengolahan kelapa sawit sebagai bahan bakar pembangkit listrik mandiri.
Baca juga: Industri Nikel, Hilangnya Peran Lokal, dan Timpangnya Dana Bagi Hasil
Karena itu, menurut dia, industri besi dan nikel dapat mengeksplorasi sumber biomassa lain yang berasal dari industri kelapa sawit, seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan serat.
Pemanfaatan limbah tersebut berpotensi memperluas sumber bahan baku biomassa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dalam proses industri.
Pengembangan reduktor berbasis biomassa sejalan dengan kebutuhan dekarbonisasi industri nikel Indonesia yang terus berkembang seiring dengan ekspansi hilirisasi.
Sebelumnya, World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Nikel.
Peta jalan tersebut mendorong industri nikel menurunkan emisi gas rumah kaca untuk mendukung pengembangan industri yang lebih berkelanjutan.
Climate Manager WRI Indonesia Egi Suarga mengatakan, salah satu upaya yang dipetakan adalah mencari sumber energi dan bahan bakar alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara.
"Selanjutnya, kami sedang melakukan pemetaan potensi pembangkit energi baru terbarukan di kawasan sekitar industri nikel sebagai pengganti sebagian kapasitas PLTU, dan pemetaan potensi biomassa dan gas bumi sebagai pengganti batubara dalam produksi," ujar Egi kepada Kompas.com, Senin (30/9/2024).
Dengan demikian, pemanfaatan biokokas dari limbah sawit tidak hanya berpotensi menjadi alternatif bahan bakar, tetapi juga dapat menjadi salah satu opsi reduksi emisi pada proses produksi besi dan nikel, terutama apabila tantangan teknis dan ketersediaan bahan bakunya dapat diatasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya