KOMPAS.com - Singapura mendominasi pendanaan AI di Asia Tenggara dengan angka fantastis mencapai 9,3 miliar dolar AS per Juli 2026, Menurut laporan dari platform data pasar Tracxn.
Itu artinya Singapura menjadi tempat berkumpulnya para investor dan lokasi favorit bagi perusahaan kecerdasan buatan untuk mencari dan menerima modal bisnis.
Sementara itu Negara tetangga seperti Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Thailand tertinggal jauh dengan total pendanaan gabungan di bawah 40 juta dolar AS.
Melansir Eco Business, Senin (17/8/2026) laporan Tracxn menyebutkan bahwa perbedaan angka yang tajam ini bukan hanya soal siapa yang lebih inovatif menciptakan AI, melainkan soal kemudahan mendapat modal besar untuk berkembang.
Aktivitas startup AI memang makin bertumbuh di seluruh Asia Tenggara, tetapi jaringan dana investor, pendanaan tahap lanjut, serta keterlibatan investor global di tiap negara masih belum merata.
Baca juga: Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Singapura sejak lama menempatkan dirinya sebagai markas utama bagi perusahaan teknologi yang mencari modal dan ingin masuk ke pasar Asia Tenggara. Menurut Economic Development Board Singapura, negara ini memiliki lebih dari 4.500 startup teknologi, 500 perusahaan modal ventura (venture capital), serta 220 lembaga pembina (incubator dan accelerator).
Pemerintah Singapura juga menjadikan AI sebagai prioritas utama ekonomi mereka. Lewat Strategi AI Nasional 2.0 yang diluncurkan pada 2023, Singapura menargetkan diri menjadi pemimpin AI global pada 2030 sambil memperluas pelatihan bakat AI, kapasitas komputer, penggunaan di perusahaan, hingga aturan hukumnya.
Pada tahun 2026, pemerintah Singapura meluncurkan Program Dampak AI Nasional untuk mendorong perusahaan dan pekerja agar lebih banyak menggunakan AI, mengubah fokus dari sekadar mengembangkan teknologi menjadi penggunaan bisnis yang nyata.
Meski begitu, laporan Tracxn menegaskan bahwa besarnya dana yang masuk ke Singapura bukan berarti semua pengembangan AI hanya terjadi di sana. Banyak perusahaan memilih mendirikan markas atau kantor pencarian dana di Singapura untuk menarik investor dan jaringan bisnis, tetapi produknya tetap dikembangkan atau digunakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Artinya, angka pendanaan tersebut lebih mencerminkan lokasi favorit perusahaan untuk mencari modal, bukan tempat teknologi AI itu diciptakan.
Di seluruh Asia Tenggara, pendanaan bagi perusahaan yang berbasis AI meningkat sangat pesat dalam dua tahun terakhir.
Sekitar 67 persen dari total dana investasi AI di Asia Tenggara berhasil dikumpulkan sejak awal tahun 2025, menurut data Tracxn.
Baca juga: Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Pola investasinya juga telah bergeser. Hingga tahun 2024, dana investor lebih banyak mengalir ke startup baru untuk membuat produk dan cek pasar. Namun, sejak tahun 2025, transaksi bernilai fantastis untuk perusahaan yang sudah matang makin mendominasi.
Pendanaan tahap lanjut ini menembus 3,5 miliar dolar AS pada tujuh bulan pertama tahun 2026, melonjak dari 1,3 miliar dolar AS di tahun 2025. Ini menandakan bahwa investor kini lebih memilih mengucurkan modal raksasa ke sedikit perusahaan yang terbukti sukses jualan dan siap melakukan ekspansi bisnis.
Meski begitu, lonjakan besar di tahun 2026 sebagian besar dipicu oleh satu transaksi raksasa saja. Pendanaan Seri D sebesar 2,8 miliar dolar AS oleh Kling AI menyumbang sekitar 68 persen dari total dana AI di Asia Tenggara hingga Juli 2026.
Dana jumbo ini diraih untuk memperkuat model dasar kecerdasan buatan dan platform pembuatan video berbasis AI milik mereka.
Besarnya nilai investasi tersebut memperlihatkan bahwa persaingan AI makin membutuhkan modal yang sangat raksasa. Perusahaan harus saling senggol untuk membuat model AI dan membeli kapasitas komputer yang kuat untuk melatih serta menjalankannya.
Infrastruktur AI menjadi sektor yang paling banyak mendapat kucuran dana, yaitu mencapai 4,3 miliar dolar AS dari 56 transaksi. Angka ini dipimpin oleh investasi untuk Kling AI serta MiniMax (1,2 miliar dolar AS), disusul perusahaan lain seperti PixVerse, Zelostech, dan SiliconFlow.
Sektor fasilitas pusat data berada di urutan berikutnya dengan raihan 2,2 miliar dolar AS dari empat transaksi, yang semuanya dikumpulkan oleh Princeton Digital Group. Jika digabungkan, sektor infrastruktur AI dan pusat data menyerap lebih dari 65 persen dari total seluruh dana investasi yang ada.
Pusat pendanaan ini terjadi karena melonjaknya kebutuhan akan komputer canggih untuk mengembangkan AI generative. Singapura sendiri terus berusaha menambah kapasitas komputer ini sambil tetap menghemat listrik, salah satunya lewat Peta Jalan Pusat Data Hijau yang diluncurkan pada 2024.
Baca juga: Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Investasi AI juga mulai menyebar ke sektor teknologi industri lainnya. Sektor teknologi logistik berhasil menarik dana 940 juta dolar AS dari 19 transaksi, kendaraan otonom 900 juta dolar AS dari 9 transaksi, dan teknologi regulasi 562 juta dolar AS dari 23 transaksi.
Tracxn menyebutkan bahwa tren ini menunjukkan minat investor yang makin luas. Investor tidak lagi hanya melirik riset produk, tetapi mulai menyuntikkan modal ke platform dan aplikasi AI yang siap pakai untuk kebutuhan bisnis harian.
“Seiring ekosistem AI yang makin matang, fase pertumbuhan berikutnya akan ditentukan oleh makin banyaknya perusahaan yang mampu berkembang pesat, menarik investasi lanjutan, serta meluaskan penggunaan AI di berbagai sektor industri,” tulis laporan Tracxn.
Ke depannya, investasi diprediksi akan bertahap menyebar ke negara-negara Asia Tenggara lainnya seiring berkembangnya pasar modal ventura di wilayah tersebut. Walau begitu, Singapura diperkirakan akan tetap mempertahankan posisinya sebagai pusat pencarian dana paling utama di kawasan ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya