Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 18:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebagian besar negara diperkirakan tidak akan mampu mencapai target global tahun 2030 untuk membenahi sistem pangan mereka. Hal tersebut terungkap dalam sebuah studi yang dipublikasikan di Nature Food.

Melansir Down to Earth, Selasa (18/8/2026) studi yang memberikan salah satu penilaian paling menyeluruh mengenai sistem pangan dunia saat ini dilakukan oleh Food Systems Countdown Initiative dengan mengevaluasi 197 negara menggunakan 44 indikator di lima bidang utama.

Lima bidang utama yang dimaksud antara lain pola makan, nutrisi dan kesehatan, lingkungan dan sumber daya alam, mata pencaharian, kemiskinan dan keadilan, tata kelola, serta ketahanan.

Berbeda dengan penilaian sebelumnya yang hanya melihat apakah kondisi membaik atau memburuk, studi ini mengukur kemajuan tiap negara berdasarkan target dan tolok ukur yang spesifik.

Baca juga: Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman Naturalisasi dari Amerika Latin

Para peneliti kemudian membandingkan posisi negara-negara pada tahun 2015 dengan seberapa cepat mereka harus membenahi diri untuk mencapai target tahun 2030 dan 2050.

Emisi dari sistem pangan jadi tantangan terbesar

Emisi gas rumah kaca dari sektor pangan juga merupakan salah satu masalah paling serius. Rata-rata dunia masih tertinggal 75 persen dari target yang ditetapkan, dan tidak ada satu pun negara yang diproyeksikan bakal mencapai target emisi tahun 2030 jika laju perbaikannya masih selambat saat ini.

Secara keseluruhan, perkembangan di sebagian besar indikator masih sangat lambat. Beberapa sektor hanya mengalami sedikit perbaikan, sementara sektor lainnya stagnan atau justru makin memburuk. Jika tren ini terus berlanjut, banyak negara juga akan gagal mencapai target tahun 2050.

Hanya ada lima indikator yang menunjukkan kemajuan cukup baik menuju target 2030, yaitu perubahan lahan pertanian, angka pengangguran dan kurangnya lapangan kerja di pedesaan, stabilitas pasokan pangan, serta tingkat kepemilikan ponsel.

Eropa dan Asia secara umum berada lebih dekat dengan target dan tolok ukur global, sedangkan Afrika dan Amerika menjadi wilayah dengan indikator paling sedikit yang mendekati tingkat yang diharapkan.

Tunisia menjadi negara paling unggul di Afrika, karena berhasil mendekati atau memenuhi target global pada 16 indikator.

Ketahanan pangan jadi titik lemah

Ketahanan pangan ditemukan menjadi masalah besar lainnya. Sebagian besar wilayah di dunia membutuhkan perubahan tahunan yang sangat drastis untuk mencapai target 2030.

Di Afrika, misalnya, dibutuhkan perbaikan sebesar 15 hingga 20 persen setiap tahun pada 23 indikator. Di Asia, tingkat kerawanan pangan harus turun lebih dari 63 persen setiap tahunnya agar bisa mencapai target 2030.

Beberapa indikator global justru menunjukkan penurunan. Hal ini mencakup partisipasi masyarakat sipil, akuntabilitas pemerintah, penjualan makanan sangat terproses, penggunaan air untuk pertanian, penggunaan pestisida, serta jumlah emisi.

Meskipun terdapat berbagai tantangan, studi ini menemukan beberapa kabar baik. Setidaknya sepertiga negara di dunia sudah berada di jalur yang benar untuk mencapai target 2030 pada tujuh dari 33 indikator yang dinilai, sementara separuh dari seluruh indikator secara global sedang bergerak ke arah yang lebih baik.

Baca juga: Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan

Para peneliti berpendapat bahwa acuan standar yang disesuaikan dengan wilayah dan tingkat pendapatan bisa menjadi jalan yang lebih masuk akal untuk dicapai oleh tiap negara.

Keterjangkauan harga makanan sehat di Afrika adalah salah satu contohnya. Secara umum, negara-negara Afrika masih tertinggal 58,7 persen dari standar global. Namun, ketertinggalan itu berkurang menjadi 32,2 persen jika mereka dibandingkan dengan acuan negara-negara terbaik di wilayah Afrika sendiri.

Berbeda dengan Afrika dan Amerika, wilayah Asia, Eropa, dan Oseania umumnya memiliki jarak pencapaian yang mirip, baik saat dibandingkan dengan standar global maupun standar wilayah mereka sendiri.

Temuan ini menegaskan pentingnya kebijakan yang lebih kuat, investasi, inovasi, serta tanggung jawab yang jelas. Memperpanjang target hingga tahun 2050 memang dapat membuat beberapa tujuan lebih mudah dicapai, tetapi masalah krisis pangan dan emisi dari sistem pangan tetap membutuhkan kemajuan yang sangat cepat dan terus-menerus.

Tanpa percepatan aksi yang besar, sebagian besar negara diperkirakan tidak akan mampu mencapai perubahan sistem pangan yang dibutuhkan untuk melindungi kesehatan manusia, mata pencaharian, dan lingkungan pada tahun 2030.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
LSM/Figur
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Pemerintah
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Pemerintah
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
BrandzView
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Pemerintah
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
LSM/Figur
Waspada Panas Ekstrem,  Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Waspada Panas Ekstrem, Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Pemerintah
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Pemerintah
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Pemerintah
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Pemerintah
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Pemerintah
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Pemerintah
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Pemerintah
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
LSM/Figur
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau