KOMPAS.com - Sebagian besar negara diperkirakan tidak akan mampu mencapai target global tahun 2030 untuk membenahi sistem pangan mereka. Hal tersebut terungkap dalam sebuah studi yang dipublikasikan di Nature Food.
Melansir Down to Earth, Selasa (18/8/2026) studi yang memberikan salah satu penilaian paling menyeluruh mengenai sistem pangan dunia saat ini dilakukan oleh Food Systems Countdown Initiative dengan mengevaluasi 197 negara menggunakan 44 indikator di lima bidang utama.
Lima bidang utama yang dimaksud antara lain pola makan, nutrisi dan kesehatan, lingkungan dan sumber daya alam, mata pencaharian, kemiskinan dan keadilan, tata kelola, serta ketahanan.
Berbeda dengan penilaian sebelumnya yang hanya melihat apakah kondisi membaik atau memburuk, studi ini mengukur kemajuan tiap negara berdasarkan target dan tolok ukur yang spesifik.
Baca juga: Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman Naturalisasi dari Amerika Latin
Para peneliti kemudian membandingkan posisi negara-negara pada tahun 2015 dengan seberapa cepat mereka harus membenahi diri untuk mencapai target tahun 2030 dan 2050.
Emisi gas rumah kaca dari sektor pangan juga merupakan salah satu masalah paling serius. Rata-rata dunia masih tertinggal 75 persen dari target yang ditetapkan, dan tidak ada satu pun negara yang diproyeksikan bakal mencapai target emisi tahun 2030 jika laju perbaikannya masih selambat saat ini.
Secara keseluruhan, perkembangan di sebagian besar indikator masih sangat lambat. Beberapa sektor hanya mengalami sedikit perbaikan, sementara sektor lainnya stagnan atau justru makin memburuk. Jika tren ini terus berlanjut, banyak negara juga akan gagal mencapai target tahun 2050.
Hanya ada lima indikator yang menunjukkan kemajuan cukup baik menuju target 2030, yaitu perubahan lahan pertanian, angka pengangguran dan kurangnya lapangan kerja di pedesaan, stabilitas pasokan pangan, serta tingkat kepemilikan ponsel.
Eropa dan Asia secara umum berada lebih dekat dengan target dan tolok ukur global, sedangkan Afrika dan Amerika menjadi wilayah dengan indikator paling sedikit yang mendekati tingkat yang diharapkan.
Tunisia menjadi negara paling unggul di Afrika, karena berhasil mendekati atau memenuhi target global pada 16 indikator.
Ketahanan pangan ditemukan menjadi masalah besar lainnya. Sebagian besar wilayah di dunia membutuhkan perubahan tahunan yang sangat drastis untuk mencapai target 2030.
Di Afrika, misalnya, dibutuhkan perbaikan sebesar 15 hingga 20 persen setiap tahun pada 23 indikator. Di Asia, tingkat kerawanan pangan harus turun lebih dari 63 persen setiap tahunnya agar bisa mencapai target 2030.
Beberapa indikator global justru menunjukkan penurunan. Hal ini mencakup partisipasi masyarakat sipil, akuntabilitas pemerintah, penjualan makanan sangat terproses, penggunaan air untuk pertanian, penggunaan pestisida, serta jumlah emisi.
Meskipun terdapat berbagai tantangan, studi ini menemukan beberapa kabar baik. Setidaknya sepertiga negara di dunia sudah berada di jalur yang benar untuk mencapai target 2030 pada tujuh dari 33 indikator yang dinilai, sementara separuh dari seluruh indikator secara global sedang bergerak ke arah yang lebih baik.
Baca juga: Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Para peneliti berpendapat bahwa acuan standar yang disesuaikan dengan wilayah dan tingkat pendapatan bisa menjadi jalan yang lebih masuk akal untuk dicapai oleh tiap negara.
Keterjangkauan harga makanan sehat di Afrika adalah salah satu contohnya. Secara umum, negara-negara Afrika masih tertinggal 58,7 persen dari standar global. Namun, ketertinggalan itu berkurang menjadi 32,2 persen jika mereka dibandingkan dengan acuan negara-negara terbaik di wilayah Afrika sendiri.
Berbeda dengan Afrika dan Amerika, wilayah Asia, Eropa, dan Oseania umumnya memiliki jarak pencapaian yang mirip, baik saat dibandingkan dengan standar global maupun standar wilayah mereka sendiri.
Temuan ini menegaskan pentingnya kebijakan yang lebih kuat, investasi, inovasi, serta tanggung jawab yang jelas. Memperpanjang target hingga tahun 2050 memang dapat membuat beberapa tujuan lebih mudah dicapai, tetapi masalah krisis pangan dan emisi dari sistem pangan tetap membutuhkan kemajuan yang sangat cepat dan terus-menerus.
Tanpa percepatan aksi yang besar, sebagian besar negara diperkirakan tidak akan mampu mencapai perubahan sistem pangan yang dibutuhkan untuk melindungi kesehatan manusia, mata pencaharian, dan lingkungan pada tahun 2030.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya