KOMPAS.com - Riset terbaru yang diterbitkan oleh The Conference Board mengungkapkan meski perusahaan saat ini fokus meningkatkan keahlian karyawan untuk pekerjaan mereka yang melibatkan kecerdasan buatan (AI), namun perusahaan belum menyiapkan pekerja untuk perubahan total cara kerja akibat AI di masa depan.
Selain itu, hasil survei menunjukkan bahwa pelatihan resmi AI yang ada saat ini masih kesulitan dalam mengimbangi cara karyawan menggunakan perangkat AI di lapangan.
Baca juga: Tren Sustainability 2026, Perusahaan Fokus pada Regulasi dan Kepatuhan
Melansir ESG Dive, Jumat (7/8/2026) dari hampir 1.300 pekerja yang disurvei, sebanyak 55 persen mengaku rutin menggunakan AI.
Namun, hanya 1 dari 3 orang yang pernah mengikuti pelatihan AI dari perusahaan dalam enam bulan terakhir. Itu pun pelatihannya sebatas kemampuan dasar, seperti pemahaman umum tentang AI dan cara membuat perintah sederhana.
Sementara, keahlian tingkat lanjut seperti mengelola AI agent atau sistem AI mandiri) jarang menjadi fokus pelatihan. Padahal, studi lain menunjukkan bahwa orang yang mampu mengarahkan AI agent bekerja lebih baik dibandingkan mereka yang hanya sekadar memberikan perintah biasa.
Menurut The Conference Board, salah satu kendalanya adalah para pekerja merasa tidak punya cukup waktu atau fasilitas untuk mengasah kemampuan AI mereka.
Para pemimpin perusahaan yang diwawancarai juga mengakui bahwa pelatihan AI yang benar-benar efektif membutuhkan waktu khusus, praktik langsung, dan dukungan dari atasan.
Padahal perusahaan yang menunda-nunda pengembangan kemampuan AI karyawan terancam akan sulit bertahan ketika gelombang perubahan besar akibat AI tiba-tiba menghantam.
Oleh karena itu, perusahaan mungkin perlu memfokuskan pelatihan AI pada hal-hal yang berdampak besar salah satunya dengan menyasar para manajer.
Baca juga: Bank Dunia Sebut AI Bisa Dongkrak Produktivitas di Negara Berkembang
Menurut laporan terbaru dari Indeed dan YouGov, para manajer mengaku merasa kurang siap memimpin tim yang sudah makin fasih menggunakan AI. Padahal, riset terbaru dari Gallup menunjukkan bahwa manajer adalah pemegang peranan kunci untuk mendorong peran aktif karyawan, terutama terkait penggunaan AI.
"Banyak perusahaan telah berhasil mengenalkan AI kepada karyawannya, tetapi pemahaman dasar tentang AI saja tidak akan memberikan nilai bagi bisnis," ujar Matt Rosenbaum, peneliti utama human capital di The Conference Board.
"Perusahaan yang paling diuntungkan oleh AI adalah mereka yang membantu karyawannya menerapkan AI secara efektif dalam pekerjaan, terus mengasah kemampuan baru, dan siap beradaptasi seiring berkembangnya teknologi serta kebutuhan bisnis," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya