Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 19:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Hampir separuh anak-anak di dunia kini harus menghadapi beberapa ancaman iklim sekaligus dalam satu waktu.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa perubahan iklim dapat menghancurkan hasil kerja keras puluhan tahun dalam menjaga kesehatan dan keselamatan anak, menurut Laporan Risiko Iklim Anak UNICEF 2026.

Melansir Know ESG, Senin (17/8/2026) laporan tersebut memperkirakan sekitar 1,1 miliar anak terpapar berbagai ancaman lingkungan yang terjadi bersamaan.

Sekitar 1,5 miliar anak menghadapi gelombang panas yang lebih lama atau lebih sering, sementara 1,2 miliar anak terpapar suhu panas ekstrem. Risiko yang makin meningkat ini menekan layanan kesehatan, pendidikan, pasokan makanan, dan kebutuhan pokok lainnya.

Temuan ini muncul di saat keselamatan anak di dunia menghadapi tantangan baru. Angka kematian anak sebenarnya telah turun drastis selama tiga dekade terakhir, dari sekitar 1 dari 11 anak pada tahun 1990 menjadi 1 dari 27 anak saat ini.

Baca juga: Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi

Namun, bencana iklim yang terjadi berulang kali dapat menyulitkan masyarakat yang rentan untuk mempertahankan pencapaian tersebut.

Ancaman iklim menciptakan risiko bertumpuk

Laporan ini menyoroti bagaimana perubahan iklim kini makin sering menciptakan risiko bertumpuk, bukan lagi sekadar bencana cuaca yang berdiri sendiri.

Anak-anak di beberapa daerah bisa saja menghadapi panas ekstrem bersamaan dengan kekeringan lahan pertanian, badai tropis, dan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui hewan seperti nyamuk.

Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan termasuk wilayah yang paling parah terdampak. Negara-negara seperti Bangladesh dan Pakistan sedang mengalami berbagai tekanan iklim sekaligus yang dapat memperburuk kondisi masyarakat rentan di sana.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling berisiko karena tubuh mereka jauh lebih sensitif terhadap suhu ekstrem dan kerusakan lingkungan.

Di sisi lain, bencana kekeringan dapat merusak panen dan memicu krisis pangan, sementara panas dan kekurangan air bersih dapat menyebabkan timbulnya penyakit serta gizi buruk. Selain itu, banjir dan badai dapat merusak fasilitas kesehatan, sekolah, dan infrastruktur warga, sehingga masyarakat makin kekurangan sumber daya untuk bertahan hidup.

Solusi sudah ada, tapi dana terbatas

Meskipun tantangannya sangat besar, banyak alat yang dibutuhkan untuk melindungi anak-anak yang rentan sebenarnya sudah tersedia. Alat-alat ini mencakup sistem peringatan dini untuk banjir dan kekeringan, model pemantau penyebaran penyakit, serta teknologi pemantau lingkungan yang terjangkau.

Masalah utamanya adalah mengubah solusi ini dari sekadar proyek lokal kecil menjadi program berskala besar.

Dana iklim dunia memang telah meningkat hingga hampir 1,5 triliun dolar AS, tetapi negara-negara dengan risiko tertinggi terus menerima bagian yang sangat kecil. Negara-negara termiskin hanya menerima sekitar 2 persen dari total modal iklim dunia, menurut laporan tersebut.

Baca juga: Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA

Pendanaan campuran bisa membantu menutup kekurangan ini dengan memakai dana pemerintah untuk mengurangi risiko investasi, sehingga modal dari sektor swasta mau masuk. Sayangnya, skema pendanaan seperti ini baru mencakup sekitar 4 persen dari komitmen dana iklim yang ada.

Oleh karena itu, untuk memperluas adaptasi iklim, cara penyaluran dana pembangunan harus diubah.

Investasi yang lebih besar pada sistem air yang tahan bencana, fasilitas kesehatan, alat pemantau cuaca, dan kesiapsiagaan bencana dapat membantu masyarakat melindungi anak-anak sebelum krisis iklim berubah menjadi bencana kemanusiaan yang parah.

Temuan UNICEF ini menegaskan bahwa perubahan iklim juga merupakan masalah hak-hak anak. Untuk melindungi generasi mendatang, dunia tidak boleh hanya mengandalkan bantuan darurat jangka pendek saat bencana terjadi, melainkan harus mengalirkan lebih banyak dana untuk ketahanan jangka panjang di wilayah tempat anak-anak menghadapi risiko paling besar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau