KOMPAS.com -Tingkat air sungai yang sangat rendah akibat kekeringan dan gelombang panas di Eropa telah membuat perusahaan transportasi kewalahan menghadapi musim panas ini. Kondisi ini mendongkrak biaya logistik yang pada akhirnya bisa membebankan para konsumen.
Melansir Phys, Kamis (20/8/2026) sungai-sungai besar di Eropa seperti Sungai Rhine dan Danube, mengalami krisis air berkelanjutan yang menurut para ilmuwan terkait langsung dengan perubahan iklim.
Situasi paling kritis terjadi di Jerman sepanjang Sungai Rhine, yang merupakan jalur utama jaringan transportasi air pedalaman Eropa.
"Situasinya belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagian besar pelabuhan sungai di sepanjang Sungai Rhine tidak bisa lagi dijangkau oleh kapal tongkang," kata juru bicara Maersk, raksasa pelayaran asal Denmark.
Clecat, asosiasi Eropa yang mewakili perusahaan penyedia jasa pengiriman barang, membenarkan bahwa gangguan paling parah memang terjadi di Sungai Rhine.
Baca juga: Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Sementara itu di wilayah Kaub, ketinggian air turun drastis hingga sekitar 6 cm pada 14 Agustus. Angka ini memecahkan rekor terendah sebelumnya sebesar 25 cm pada tahun 2018.
Kondisi parah juga terjadi di beberapa titik Sungai Danube, terutama di Serbia, Hungaria, dan Rumania.
Salah satu cara darurat bagi perusahaan logistik adalah mengalihkan muatan sebanyak mungkin dari jalur sungai ke kereta api atau truk.
"Tujuannya adalah menjaga agar jarak tempuh kapal di Sungai Rhine sebisa mungkin dibuat sesingkat mungkin," ujar perusahaan transportasi Contargo.
Namun, kapasitas dan peluang untuk beralih ke transportasi kereta dan truk sangatlah terbatas.
Jean-Laurent Kistler, direktur pengembang di otoritas jalur air Prancis (VNF) di Strasbourg, memperkirakan bahwa untuk mengangkut seluruh isi dari satu kapal tongkang saja, dibutuhkan sekitar 100 hingga 200 truk.
Sayangnya, banyak produk curah seperti bahan kimia, bahan bakar, material bangunan, atau biji-bijian sangat sulit untuk dipindahkan ke dalam wadah peti kemas.
Pihak VNF Strasbourg pun mencatat bahwa muatan yang bisa diangkut kapal di Sungai Rhine anjlok drastis, dari rata-rata 1.500 ton menjadi hanya 400 ton pada bulan Agustus.
Menurut Clecat rendahnya permukaan air sungai telah menyebabkan biaya transportasi makin mahal, pengiriman tertunda, jadwal ditunda, dan fleksibilitas produksi menurun.
"Kapal-kapal harus berlayar dengan muatan yang jauh lebih ringan dari biasanya agar kapal tidak tenggelam terlalu dalam ke dalam air," ujar Alexandre Charpentier, spesialis transportasi dari firma konsultan Roland Berger.
Clecat mencatat bahwa rendahnya permukaan air sungai telah menyebabkan biaya transportasi makin mahal, pengiriman tertunda, jadwal ditunda, dan fleksibilitas produksi menurun.
"Kapal-kapal harus berlayar dengan muatan yang jauh lebih ringan dari biasanya agar kapal tidak tenggelam terlalu dalam ke dalam air," ujar Alexandre Charpentier, spesialis transportasi dari firma konsultan Roland Berger.
Apakah pembengkakan biaya logistik ini akan berdampak langsung pada harga barang bagi konsumen, semua itu bergantung pada seberapa lama gangguan ini terjadi, jenis barangnya, serta kemampuan perusahaan untuk menanggung atau meneruskan biaya tersebut.
Baca juga: Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa
Clecat menekankan bahwa untuk berbagai barang curah, ongkos kirim merupakan bagian besar dari harga jual akhir. Jadi, jika kenaikan biaya ini berlangsung lama, dampaknya pasti akan terasa sampai ke tingkat konsumen.
Lebih lanjut, Charpentier menyampaikan bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi seberapa besar kenaikan harga bagi masyarakat, tetapi ia memperingatkan bahwa perusahaan akan kesulitan jika harus menanggung seluruh biaya ekstra tersebut sendirian.
Mengingat ancaman kekeringan diperkirakan akan makin sering terjadi, para pengusaha kini mengandalkan kapal-kapal jenis baru yang lebih cocok untuk air dangkal, serta kombinasi transportasi darat seperti kereta api dan truk.
Namun, menurut Kistler, daya tahan jangka panjang sebenarnya sangat bergantung pada pengelolaan sumber daya air itu sendiri.
Di wilayah Prancis, pemerintah telah membangun serangkaian waduk dan saluran pengalih air di sepanjang Sungai Rhine untuk mengatur aliran air. Sebaliknya, di wilayah Jerman, sungai tersebut mengalir bebas tanpa hambatan dan sangat bergantung pada curah hujan.
Dengan solusi tersebut jumlah kapal yang melintas memang meningkat namun muatan yang dibawa masih sangat jauh dari batas maksimal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya