Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi

Kompas.com, 26 Agustus 2026, 09:22 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com -Tingkat air sungai yang sangat rendah akibat kekeringan dan gelombang panas di Eropa telah membuat perusahaan transportasi kewalahan menghadapi musim panas ini. Kondisi ini mendongkrak biaya logistik yang pada akhirnya bisa membebankan para konsumen.

Melansir Phys, Kamis (20/8/2026) sungai-sungai besar di Eropa seperti Sungai Rhine dan Danube, mengalami krisis air berkelanjutan yang menurut para ilmuwan terkait langsung dengan perubahan iklim.

Situasi paling kritis terjadi di Jerman sepanjang Sungai Rhine, yang merupakan jalur utama jaringan transportasi air pedalaman Eropa.

"Situasinya belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagian besar pelabuhan sungai di sepanjang Sungai Rhine tidak bisa lagi dijangkau oleh kapal tongkang," kata juru bicara Maersk, raksasa pelayaran asal Denmark.

Clecat, asosiasi Eropa yang mewakili perusahaan penyedia jasa pengiriman barang, membenarkan bahwa gangguan paling parah memang terjadi di Sungai Rhine.

Baca juga: Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional

Sementara itu di wilayah Kaub, ketinggian air turun drastis hingga sekitar 6 cm pada 14 Agustus. Angka ini memecahkan rekor terendah sebelumnya sebesar 25 cm pada tahun 2018.

Kondisi parah juga terjadi di beberapa titik Sungai Danube, terutama di Serbia, Hungaria, dan Rumania.

Pengalihan ke jalur darat

Salah satu cara darurat bagi perusahaan logistik adalah mengalihkan muatan sebanyak mungkin dari jalur sungai ke kereta api atau truk.

"Tujuannya adalah menjaga agar jarak tempuh kapal di Sungai Rhine sebisa mungkin dibuat sesingkat mungkin," ujar perusahaan transportasi Contargo.

Namun, kapasitas dan peluang untuk beralih ke transportasi kereta dan truk sangatlah terbatas.

Jean-Laurent Kistler, direktur pengembang di otoritas jalur air Prancis (VNF) di Strasbourg, memperkirakan bahwa untuk mengangkut seluruh isi dari satu kapal tongkang saja, dibutuhkan sekitar 100 hingga 200 truk.

Sayangnya, banyak produk curah seperti bahan kimia, bahan bakar, material bangunan, atau biji-bijian sangat sulit untuk dipindahkan ke dalam wadah peti kemas.

Pihak VNF Strasbourg pun mencatat bahwa muatan yang bisa diangkut kapal di Sungai Rhine anjlok drastis, dari rata-rata 1.500 ton menjadi hanya 400 ton pada bulan Agustus.

Menurut Clecat rendahnya permukaan air sungai telah menyebabkan biaya transportasi makin mahal, pengiriman tertunda, jadwal ditunda, dan fleksibilitas produksi menurun.

"Kapal-kapal harus berlayar dengan muatan yang jauh lebih ringan dari biasanya agar kapal tidak tenggelam terlalu dalam ke dalam air," ujar Alexandre Charpentier, spesialis transportasi dari firma konsultan Roland Berger.

Potensi naiknya harga barang

Clecat mencatat bahwa rendahnya permukaan air sungai telah menyebabkan biaya transportasi makin mahal, pengiriman tertunda, jadwal ditunda, dan fleksibilitas produksi menurun.

"Kapal-kapal harus berlayar dengan muatan yang jauh lebih ringan dari biasanya agar kapal tidak tenggelam terlalu dalam ke dalam air," ujar Alexandre Charpentier, spesialis transportasi dari firma konsultan Roland Berger.

Apakah pembengkakan biaya logistik ini akan berdampak langsung pada harga barang bagi konsumen, semua itu bergantung pada seberapa lama gangguan ini terjadi, jenis barangnya, serta kemampuan perusahaan untuk menanggung atau meneruskan biaya tersebut.

Baca juga: Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa

Clecat menekankan bahwa untuk berbagai barang curah, ongkos kirim merupakan bagian besar dari harga jual akhir. Jadi, jika kenaikan biaya ini berlangsung lama, dampaknya pasti akan terasa sampai ke tingkat konsumen.

Lebih lanjut, Charpentier menyampaikan bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi seberapa besar kenaikan harga bagi masyarakat, tetapi ia memperingatkan bahwa perusahaan akan kesulitan jika harus menanggung seluruh biaya ekstra tersebut sendirian.

Mengingat ancaman kekeringan diperkirakan akan makin sering terjadi, para pengusaha kini mengandalkan kapal-kapal jenis baru yang lebih cocok untuk air dangkal, serta kombinasi transportasi darat seperti kereta api dan truk.

Namun, menurut Kistler, daya tahan jangka panjang sebenarnya sangat bergantung pada pengelolaan sumber daya air itu sendiri.

Di wilayah Prancis, pemerintah telah membangun serangkaian waduk dan saluran pengalih air di sepanjang Sungai Rhine untuk mengatur aliran air. Sebaliknya, di wilayah Jerman, sungai tersebut mengalir bebas tanpa hambatan dan sangat bergantung pada curah hujan.

Dengan solusi tersebut jumlah kapal yang melintas memang meningkat namun muatan yang dibawa masih sangat jauh dari batas maksimal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau