Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun

Kompas.com, 26 Agustus 2026, 12:18 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Cuaca panas ekstrem memberikan dampak yang jauh lebih berat bagi perempuan, baik secara fisik maupun keuangan.

Dampak buruk kesehatan dan ekonomi akibat panas ekstrem ini paling banyak dirasakan oleh para pekerja perempuan sektor informal di seluruh dunia, menurut laporan Hera yang disampaikan dalam acara London Climate Action Week 2026.

Melansir Down to Earth, Jumat (26/8/2026) pekerja perempuan sektor informal di seluruh dunia (di luar Eropa dan Amerika Serikat) kehilangan pendapatan hingga 57 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.009,3 triliun) setiap tahunnya akibat cuaca panas ekstrem, ungkap analisis peneliti dari Hera.

Tanpa adanya penanganan yang tepat, angka kerugian ini diproyeksikan melonjak hingga 44 persen pada tahun 2050 akibat perubahan iklim, pembangunan kota yang tak ramah lingkungan, serta penuaan populasi.

Baca juga: PBB: 1 Juta Perempuan Kehilangan Akses Bantuan Kemanusiaan

Tingginya angka perempuan di sektor informal

Kondisi ini sangat memprihatinkan karena tingginya jumlah perempuan yang bekerja di sektor informal. Hingga 91 persen pekerja perempuan tergolong pekerja informal di empat kota yang diteliti.

Empat kota itu antara lain Ahmedabad (India), Bangkok (Thailand), Monterrey (Meksiko), dan Freetown (Sierra Leone). Banyak dari perempuan ini yang hanya berpenghasilan sekitar 3 dolar AS (sekitar Rp53.000) per hari.

Dengan demikian, bagi sebagian besar pekerja perempuan, cuaca panas ekstrem makin memperlebar ketimpangan sosial dan ekonomi yang selama ini sudah mereka hadapi.

Para penulis laporan juga mencatat bahwa meskipun lebih sering terpapar panas ekstrem, perempuan terutama yang bekerja di sektor informal justru memiliki perlindungan yang paling minim dari dampak buruknya.

"Perempuan lebih rentan terhadap cuaca panas akibat penumpukan berbagai faktor, seperti kondisi fisik, ketidakpastian ekonomi, beban kerja domestik yang tak dibayar, aturan sosial yang membatasi pakaian dan ruang gerak, risiko kekerasan berbasis gender yang lebih tinggi, serta terbatasnya akses ke pendingin udara, layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan lingkungan kerja yang aman," tulis laporan tersebut.

Berbagai tantangan sosial-ekonomi yang menumpuk tersebut pada akhirnya memicu tingkat kematian perempuan akibat panas ekstrem yang lebih tinggi, yaitu mencapai hingga 20 persen.

Dampak dalam jangka panjang

Dampak kerugian ini memengaruhi masyarakat yang lebih luas dalam jangka panjang karena perempuan biasanya menyalurkan kembali hingga 90 persen pendapatan mereka untuk kebutuhan keluarga dan lingkungan sekitar.

Jadi cuaca panas memotong penghasilan mereka, pengeluaran untuk pendidikan anak, gizi, dan kesehatan pun ikut merosot.

Menurut para penulis, laporan ini menggabungkan perkiraan iklim, model produktivitas kerja dan kesehatan, analisis ekonomi berbasis gender, serta bukti kualitatif dari para pekerja perempuan informal, berdampingan dengan studi kasus di kota-kota yang paling terdampak. Hal-hal yang diteliti mencakup berbagai faktor, mulai dari bagaimana rasa panas mengganggu tidur mereka hingga merusak barang dagangan yang mereka jual.

Kerugian akibat cuaca panas yang terus menumpuk pada akhirnya memicu penurunan signifikan pada Produk Domestik Bruto (PDB) suatu kota karena hilangnya produktivitas kerja.

"Di kota-kota yang diteliti, pekerja perempuan mengalami penurunan produktivitas tahunan akibat panas mulai dari sekitar 3 persen di Monterrey hingga 11 persen di Bangkok," catat para peneliti.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau