KOMPAS.com - Cuaca panas ekstrem memberikan dampak yang jauh lebih berat bagi perempuan, baik secara fisik maupun keuangan.
Dampak buruk kesehatan dan ekonomi akibat panas ekstrem ini paling banyak dirasakan oleh para pekerja perempuan sektor informal di seluruh dunia, menurut laporan Hera yang disampaikan dalam acara London Climate Action Week 2026.
Melansir Down to Earth, Jumat (26/8/2026) pekerja perempuan sektor informal di seluruh dunia (di luar Eropa dan Amerika Serikat) kehilangan pendapatan hingga 57 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.009,3 triliun) setiap tahunnya akibat cuaca panas ekstrem, ungkap analisis peneliti dari Hera.
Tanpa adanya penanganan yang tepat, angka kerugian ini diproyeksikan melonjak hingga 44 persen pada tahun 2050 akibat perubahan iklim, pembangunan kota yang tak ramah lingkungan, serta penuaan populasi.
Baca juga: PBB: 1 Juta Perempuan Kehilangan Akses Bantuan Kemanusiaan
Kondisi ini sangat memprihatinkan karena tingginya jumlah perempuan yang bekerja di sektor informal. Hingga 91 persen pekerja perempuan tergolong pekerja informal di empat kota yang diteliti.
Empat kota itu antara lain Ahmedabad (India), Bangkok (Thailand), Monterrey (Meksiko), dan Freetown (Sierra Leone). Banyak dari perempuan ini yang hanya berpenghasilan sekitar 3 dolar AS (sekitar Rp53.000) per hari.
Dengan demikian, bagi sebagian besar pekerja perempuan, cuaca panas ekstrem makin memperlebar ketimpangan sosial dan ekonomi yang selama ini sudah mereka hadapi.
Para penulis laporan juga mencatat bahwa meskipun lebih sering terpapar panas ekstrem, perempuan terutama yang bekerja di sektor informal justru memiliki perlindungan yang paling minim dari dampak buruknya.
"Perempuan lebih rentan terhadap cuaca panas akibat penumpukan berbagai faktor, seperti kondisi fisik, ketidakpastian ekonomi, beban kerja domestik yang tak dibayar, aturan sosial yang membatasi pakaian dan ruang gerak, risiko kekerasan berbasis gender yang lebih tinggi, serta terbatasnya akses ke pendingin udara, layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan lingkungan kerja yang aman," tulis laporan tersebut.
Berbagai tantangan sosial-ekonomi yang menumpuk tersebut pada akhirnya memicu tingkat kematian perempuan akibat panas ekstrem yang lebih tinggi, yaitu mencapai hingga 20 persen.
Dampak kerugian ini memengaruhi masyarakat yang lebih luas dalam jangka panjang karena perempuan biasanya menyalurkan kembali hingga 90 persen pendapatan mereka untuk kebutuhan keluarga dan lingkungan sekitar.
Jadi cuaca panas memotong penghasilan mereka, pengeluaran untuk pendidikan anak, gizi, dan kesehatan pun ikut merosot.
Menurut para penulis, laporan ini menggabungkan perkiraan iklim, model produktivitas kerja dan kesehatan, analisis ekonomi berbasis gender, serta bukti kualitatif dari para pekerja perempuan informal, berdampingan dengan studi kasus di kota-kota yang paling terdampak. Hal-hal yang diteliti mencakup berbagai faktor, mulai dari bagaimana rasa panas mengganggu tidur mereka hingga merusak barang dagangan yang mereka jual.
Kerugian akibat cuaca panas yang terus menumpuk pada akhirnya memicu penurunan signifikan pada Produk Domestik Bruto (PDB) suatu kota karena hilangnya produktivitas kerja.
"Di kota-kota yang diteliti, pekerja perempuan mengalami penurunan produktivitas tahunan akibat panas mulai dari sekitar 3 persen di Monterrey hingga 11 persen di Bangkok," catat para peneliti.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya