JAKARTA, KOMPAS.com - Fasilitas pengelolaan sampah untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta Utara, disebut sekarang sudah jarang diprotes masyarakat sekitar atas polusi bau yang menyengat.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengenang masa awal beroperasinya RDF Plant Rorotan, ketika masyarakat sekitar sering melontarkan protes akibat aroma tidak sedap yang dihasilkan dari aktivitas pengolahan sampah. Namun, melalui berbagai perbaikan, keluhan tersebut kini hampir tidak terdengar lagi.
"Kalau teman-teman yang mengikuti ketika kunjungan saya berkali-kali ke tempat ini, pada waktu itu masyarakat begitu sampai di sini pasti protes karena apa, baunya yang kemudian mengganggu masyarakat yang ada di lokasi terdampak. Tapi sekarang praktis hampir tidak pernah ada protes tentang bau dan juga komplain tentang kenaikan emisinya," ujar Pramono di RDF Plant Rorotan, Jakarta Utara, baru-baru ini.
Baca juga: Hutan Kota Rorotan Jadi Tameng Jakarta Utara dari Polusi dan Gelombang Panas
Fasilitas RDF Plant Rorotan dirancang dengan kapasitas besar, yaitu antara 2.200 hingga 2.400 ton sampah per hari. Untuk menampung volume tersebut, fasilitas RDF Plant Rorotan dilengkapi dengan tiga lini produksi utama.
Saat ini, proses pengolahan mulai menunjukkan tren positif, di mana satu lini produksi telah beroperasi secara penuh, dengan kapasitas 800 ton per hari. Sementara itu, lini kedua dan ketiga tengah dalam tahap persiapan untuk diaktifkan sepenuhnya.
Meski sistem pengolahan di dalam pabrik sudah berjalan baik, tantangan terberatnya justru muncul dari faktor eksternal yang erat kaitannya dengan akses transportasi. Pramono mengakui bahwa hambatan utama untuk mengoperasikan tiga lini produksi secara bersamaan adalah kelancaran pengiriman sampah menuju ke lokasi.
Saat ini, jika pasokan sampah yang dikirim ke fasilitas RDF Plant Rorotan masih di angka 1.000 ton, maka hanya satu hingga dua lini produksi saja yang dioptimalkan.
"Kalau transportasinya itu tidak ada hambatan, karena problemnya di sini sekarang bukan RDF Rorotan sendiri, tetapi transportasi hilirnya. Membutuhkan transportasi khusus kalau memang bisa sampah di sini setiap harinya bisa 2.000 (ton), maka tiga line itu akan kami operasikan secara bersama-sama. Kalau masih 1.000 (ton) pengiriman sampahnya, maka satu line sekarang line yang pertama ini rata-rata 800 (ton), kami baru gunakan line yang kedua untuk produksi antara 200 (ton) sampai 400 (ton)," tutur Pramono.
Kondisi jalan yang sempit dan kurang memadai menuju fasilitas menjadi kendala utama bagi kendaraan pengangkut. Ini berdampak terhadap efisiensi waktu distribusi sampah dari sumber menuju ke fasilitas RDF Plant Rorotan.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga akan segera membangun jalan khusus untuk akses truk sampah. Pramono mengonfirmasi bahwa proses pembebasan lahan untuk jalur tersebut telah rampung dilakukan.
"Saya sudah meminta kepada Dinas Bina Marga untuk menyelesaikan hal ini. Pembebasan lahan sudah dilakukan, kami segera untuk membangun jalan khusus untuk sarana transportasi menggunakan truk compactor yang menuju dari TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) ke tempat ini (RDF Plant Rorotan)," ucapnya.
Baca juga: TPA Cipayung Bakal Punya RDF Plant, Pemkot Depok Targetkan Olah 1.000 Ton Sampah per Hari
Selain itu, Pramono menginstruksikan seluruh armada pengangkut sampah menuju Rorotan wajib menggunakan truk jenis compactor. Truk ini dirancang tertutup rapat, sehingga tidak membuang air cairan sampah atau air lindi ke jalanan dan tidak menebarkan bau selama perjalanan.
"Jadi sangat bergantung transportasinya dan untuk itu saya sudah menginstruksikan semua truk sementara ini harus pakai yang compactor, yang tidak ada pembuangan air lindinya, tidak berbau. Problemnya adalah memang secara jujur kami akui adalah sarananya transportasi," ujar Pramono.
Ada berbagai sumber bau di sekitar di RDF Rorotan. Di antaranya, potensi bau sampah, potensi bau produk RDF, potensi bau residu, dan potensi bau instalasi pengelolaan air limbah (air lindi).
"Kalau lindi baunya itu berbeda dengan dari residu. Produk RDF agak berbau asam, bukan bau sampah," ujar Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko di kantor Kompas.com, Selasa (3/2/2026).
Pemprov DKI Jakarta mempunyai alat pemantau bau di lapangan untuk menentukan dari mana sumbernya. Setiap menerima pengaduan dari warga sekitar fasilitas RDF Rorotan, Pemprov DKI Jakarta menerjunkan tim untuk mendeteksi dari mana sumbernya.
Bau di sekitar fasilitas RDF juga berpotensi berasal dari penumpukan sedimentasi di banjir kanal timur (BKT), pembuangan sampah ilegal, atau saluran mampat di sekitarnya. "Kadang-kadang kami pun bingung kalau ada bau. Ini baunya dari mana? Tidak ada operasi (di fasilitas RDF), tapi kok bau," tutur Agung.
Lalu, sumber bau dari bunker, mesin compacting dehydrator untuk mengurangi kadar air (bau air lindi), mesin press, mesin pencacah sampah, gudang produk RDF, dan gudang residu.
Ini diperparah dengan adanya angin yang lumayan kencang sehingga bisa "membawa" bau meluas ke area lain.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya