KOMPAS.com - Secara teori, sebuah perusahaan bisa terlihat memangkas setengah dari jejak karbon di rantai pasokannya hanya dengan mengubah cara menghitung emisi, menurut sebuah penelitian baru.
Melansir Eco Business, Senin (24/8/2026) para peneliti menemukan bahwa perbedaan dalam metode akuntansi yang diakui dapat mengubah cara perusahaan mengolah angka-angka iklim mereka. Hal ini membuat masyarakat sulit membedakan mana pengurangan emisi yang nyata dan mana yang hanya hasil perbedaan cara menghitung.
"Dalam sistem yang berlaku saat ini, sangat mungkin bagi sebuah perusahaan untuk terlihat sebagai pelopor iklim atau justru menjadi perusak lingkungan, hanya bergantung pada angka mana yang mereka pilih," kata penulis utama Ramana Gudipudi, dosen tamu di European School of Management and Technology, Jerman.
Analisis yang diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability ini meneliti 401 perusahaan Eropa.
Hasilnya menunjukkan bahwa 62,5 persen dari perubahan angka emisi rantai pasokan mereka dari tahun ke tahun tidak dapat dijelaskan oleh perubahan bisnis, industri, maupun tingkat emisi yang sebenarnya. Sebaliknya, perhitungan emisi langsung perusahaan hanya bervariasi sedikit di atas 5 persen.
Baca juga: Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Gudipudi mengatakan bahwa perusahaan sering kali hanya mengumumkan angka akhir tanpa membagikan bagaimana cara mereka mendapatkan angka tersebut. Kurangnya transparansi, ditambah banyaknya pilihan rumus dan data pembanding, membuat tindakan nyata dalam mengurangi emisi menjadi samar dan sulit dipastikan.
"Kita benar-benar tidak tahu apakah ada pengurangan emisi yang sungguh-sungguh terjadi atau tidak. Memang ada perusahaan yang benar-benar melakukan hal baik, saya tidak bilang tidak ada. Namun untuk saat ini, kita tidak bisa memastikannya," paparnya.
Untuk membuktikan betapa tidak konsistennya laporan emisi karbon, para peneliti membuat eksperimen menggunakan simulasi perusahaan makanan dan minuman. Perusahaan ini diberikan daftar belanjaan tetap dengan jumlah ayam, susu, telur, dan gandum yang sama persis.
Para peneliti kemudian menghitung jejak karbon dari daftar belanjaan yang sama tersebut menggunakan empat basis data ilmiah berbeda yang paling sering dipakai di industri.
Hasilnya, basis data A mencatat jejak karbon sebesar 1,7 juta ton metrik, sementara basis data D mencatat 3,5 juta ton metrik padahal tidak ada perbedaan bahan maupun rantai pasokan sama sekali di antara keduanya.
Baca juga: Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Secara teori, sebuah perusahaan bisa saja memakai basis data A pada tahun pertama, lalu berganti menggunakan basis data D pada tahun berikutnya.
Trik ini membuat mereka seolah-olah berhasil memangkas emisi lebih dari 50 persen, padahal masyarakat tidak tahu bahwa perubahan angka tersebut berasal dari pergantian basis data, bukan karena pengurangan emisi yang sebenarnya.
"Jika metode akuntansi tidak diatur dengan lebih baik, aksi nyata bisa tertutup oleh "kebisingan" data pembukuan," kata Gudipudi.
Untuk mengatasi kebingungan ini, para penulis studi mengusulkan kerangka kerja baru yang menetapkan aturan universal.
Aturan ini mengharuskan setiap perusahaan dalam satu industri mengukur jejak karbon dengan cara yang sama, serta memakai alat bantu matematika untuk memastikan apakah emisi benar-benar turun karena tindakan nyata di lapangan atau sekadar trik akuntansi yang cerdik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya