KOMPAS.com - Seiring dengan semakin sering dan intensnya cuaca panas ekstrem di berbagai daerah, mengetahui komunitas mana yang mengalami kesulitan serta jenis bantuan apa yang mereka butuhkan menjadi semakin penting demi melindungi kesehatan masyarakat.
Sebuah studi baru dari UC Irvine menunjukkan bahwa sebagian jawabannya mungkin tersimpan dalam percakapan sehari-hari di media sosial.
Melansir Phys, Kamis (27/8/2026) dalam studinya, para peneliti menganalisis 24.598 unggahan terkait cuaca panas di X dari berbagai wilayah di California, AS antara tahun 2016 hingga 2022.
Mereka menemukan bahwa tempat tinggal, moda transportasi yang digunakan, serta ketersediaan fasilitas yang dimiliki masyarakat sangat memengaruhi cara mereka menceritakan cuaca panas ekstrem, termasuk bagaimana mereka menggambarkan dampaknya pada kehidupan sehari-hari atau cara mereka mengatasinya.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Communications ini pun menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi alat pelengkap yang berguna untuk memahami pengalaman masyarakat saat menghadapi panas ekstrem, sekaligus membantu merancang bantuan kesehatan publik yang lebih tepat sasaran.
Baca juga: Studi Ungkap Cara Komunikasi Iklim yang Efektif di Media Sosial
"Memahami pengalaman tersebut dapat membantu kita berpikir lebih strategis mengenai siapa saja yang sudah terjangkau oleh imbauan keselamatan cuaca panas, di mana letak kekurangannya, dan bagaimana komunikasi bisa lebih mendukung masyarakat yang paling rentan," kata Suellen Hopfer dari Joe C. Wen School of Population & Public Health.
Panas ekstrem adalah ancaman kesehatan masyarakat yang terus meningkat, di mana kondisi tempat tinggal, penghasilan, dan jenis pekerjaan menjadi penentu seberapa rentan seseorang terhadap panas.
Alih-alih hanya melihat angka suhu atau daftar penyakit akibat panas, tim peneliti dari UC Irvine mempelajari bagaimana orang-orang menceritakan dampak panas pada kehidupan sehari-hari serta cara mereka bertahannya.
Para peneliti mengelompokkan unggahan media sosial ke dalam dua kategori yakni cara bertahan seperti minum air yang cukup, memakai AC, pergi berenang, atau menggeser jam olahraga.
Dan yang kedua adalah dampak pada kehidupan seperti masalah kesehatan, pekerjaan yang terganggu, acara yang dibatalkan, kekhawatiran pada hewan peliharaan atau tanaman, hingga pembengkakan biaya rumah tangga.
Baca juga: Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
Mereka kemudian mencocokkan pola unggahan tersebut dengan data wilayah terkait penghasilan, kondisi rumah, transportasi, dan keberadaan pohon atau ruang hijau.
Hasilnya menunjukkan bahwa jenis tempat tinggal menentukan seberapa sering orang membahas cara bertahan, sementara pengguna transportasi aktif seperti pejalan kaki atau pesepeda lebih sering mengunggah soal dampak panas pada hidup mereka.
Peneliti mencatat bahwa pengguna transportasi aktif terpapar panas secara langsung saat berpergian, menjadikan pembenahan infrastruktur transportasi sebagai bagian penting untuk melindungi warga dari suhu yang terus naik.
Sementara wilayah dengan jumlah warga yang tinggal di rumah rentan seperti karavan (RV), mobil van, dan perahu, 15 persen lebih kecil kemungkinannya membuat unggahan positif soal cuaca panas dibanding daerah lain.
Daerah ini juga 22 persen lebih jarang mengunggah cara bertahan dari panas. Temuan ini sangat penting karena rumah jenis ini biasanya memiliki peredam panas yang buruk dan bisa menjadi sangat panas sampai tingkat yang membahayakan saat cuaca ekstrem.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya