Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia

Kompas.com, 15 September 2026, 16:45 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Erupsi gunung berapi dapat mengganggu kelangsungan hidup satwa liar dan keseimbangan ekosistem. Sebagian satwa liar memang masih bisa menyelamatkan diri dengan berpindah menuju ke habitat yang lebih aman.

‎Karena itu, kawasan hutan yang tidak terdampak perlu dipertahankan sebagai habitat sementara. Koridor ekologis, terutama hutan riparian dan kawasan sekitar sumber air, juga penting untuk mendukung perpindahan satwa.

‎Lahar panas, abu vulkanik, serta rusaknya sumber pakan dan air menjadi sejumlah dampak yang dapat menyebabkan penurunan populasi satwa. Khususnya, di kawasan konservasi yang berada di sekitar gunung api.

‎Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Abdul Haris Mustari mengimbau masyarakat untuk waspada dengan potensi risiko satwa liar yang terpaksa keluar dari kawasan hutan akibat erupsi gunung berapi.

‎“Masyarakat perlu waspada terhadap kemungkinan keluarnya satwa dari kawasan hutan ke permukiman yang dapat memicu konflik manusia dan satwa liar,” ujar Haris, dilansir dari laman resmi IPB University, Selasa (15/9/2026).

‎Erupsi gunung berapi merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan dan memberikan dampak langsung terhadap berbagai komponen ekosistem.

Baca juga: Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman

‎“Saat erupsi terjadi, banyak satwa yang mati terkena langsung lahar panas dan debu vulkanik yang menyebabkan populasi menurun signifikan,” tutur Mustari.

‎Menurut Mustari, dampak erupsi juga dapat menjangkau kawasan konservasi yang menjadi kantong habitat berbagai jenis satwa liar. Ada sejumlah kawasan konservasi yang berpotensi terdampak.

Di antaranya, Taman Nasional Ujung Kulon, Cagar Alam Gunung Krakatau, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas, serta beberapa kawasan hutan konservasi di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan.

‎Selain kematian secara langsung, abu vulkanik bisa menutupi rumput, dedaunan, dan buah-buahan yang menjadi sumber pakan satwa. Kondisi serupa terjadi pada sumber air, seperti sungai, danau, rawa, dan mata air yang dapat mengalami pencemaran abu vulkanik.

Imbasnya, satwa herbivora, karnivora, omnivora, sampai serangga, harus menghadapi tekanan ekologis. Satwa langka dan dilindungi, seperti banteng, badak jawa, badak sumatra, tapir, harimau sumatra, macan tutul, owa jawa, dan lutung jawa, termasuk kelompok yang berisiko terdampak.

‎Penurunan jumlah herbivora berpotensi memengaruhi keberlanjutan populasi karnivora karena berkurangnya sumber pakan, seperti rusa, kijang, sambar, dan babi hutan.

Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru

Misalnya, punahnya banteng dari Cagar Alam Pananjung Pangandaran, yang salah satunya dipicu dampak erupsi Gunung Galunggung pada 1982. Dampak erupsi tersebut menutupi padang rumput yang merupakan sumber pakan banteng.

‎Kendati demikian, akan ada pemulihan ekosistem pasca erupsi gunung berapi yang berlangsung secara bertahap. Kehidupan satwa mulai kembali seiring tumbuhnya lumut, rumput, semak belukar, sampai terbentuk hutan sekunder. Proses ini dapat membutuhkan sekitar 25–30 tahun untuk mendukung komunitas satwa yang lebih beragam.

‎Fenomena suksesi


‎Sebelumnya, ahli konservasi tumbuhan sekaligus dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Agus Hikmat mengatakan, erupsi dari gunung berapi dapat menjadi awal terbentuknya ekosistem baru melalui proses suksesi primer.

‎Di balik kehancuran vegetasi dan habitat, erupsi gunung berapi tidak selalu adalah akhir bagi kehidupan. Ini tercermin dari kawasan Krakatau yang menjadi salah satu laboratorium alam paling utama untuk mempelajari bagaimana ekosistem berkembang dari kondisi hampir tanpa kehidupan hingga terbentuk komunitas vegetasi dan satwa.

‎Letusan Krakatau pada 1883 menjadi studi kasus klasik dalam kajian perkembangan ekosistem.

Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru

Kemunculan Anak Krakatau pada 1927 dari sisa letusan tersebut menghadirkan ekosistem baru yang pada awalnya kosong dari flora dan satwa liar.

‎“Erupsi gunung berapi akan mereset ekosistem yang ada menjadi ekosistem yang baru. Ekosistem di kawasan Krakatau merespons dalam tiga fase, yaitu fase penghancuran, kolonisasi, dan stabilisasi ekosistem,” ujar Agus, dilansir dari IPB University, Jumat (11/9/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
LSM/Figur
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
LSM/Figur
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Pemerintah
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau