KOMPAS.com - Konsumsi air pusat data secara global diperkirakan dapat membengkak hampir tiga kali lipat, dari 222 miliar liter pada tahun 2025 menjadi 644 miliar liter per tahun pada 2030 jika tidak ada perbaikan efisiensi yang nyata.
Melansir Down to Earth, Jumat (28/8/2026) menurut lembaga riset Rystad Energy, lonjakan kapasitas ini didorong terutama oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan pendinginan ekstra besar.
Kendati demikian, lembaga riset energi tersebut memperkirakan bahwa langkah hemat air yang aktif dapat menekan konsumsi air pendingin tahunan menjadi 543 miliar liter dalam skenario sedang dan 388 miliar liter dalam skenario hemat air yang agresif pada tahun 2030.
"Memperkirakan dampak konsumsi air pada pusat data tidaklah sederhana. Penggunaannya sangat bervariasi tergantung pada teknologi pendingin yang dipakai, kondisi iklim, serta apakah kita mengukur air yang diambil atau air yang benar-benar terpakai," ujar Minh Khoi Le, Kepala Riset Data Center & Hydrogen di Rystad Energy.
Baca juga: AI Paling Efektif Bantu Pekerja Jika Dipadukan dengan Pengalaman
Berdasarkan perkiraan Rystad Energy, pusat data telah mengonsumsi 222 miliar liter air secara langsung untuk pendinginan pada tahun 2025. Namun, angka tersebut bisa melonjak hampir tiga kali lipat hingga mendekati 644 miliar liter pada tahun 2030 jika menggunakan skenario utama yang berisiko.
"Penerapan teknologi yang lebih hemat air dapat menekan angka ini menjadi 543 billion liter dalam skenario sedang, atau turun hingga 388 miliar liter dalam skenario hemat air yang agresif. Angka-angka ini hanya menghitung penggunaan air pendingin secara langsung, padahal ada jejak penggunaan air tersembunyi dari pembangkit listrik yang membuat permasalahannya semakin rumit," ujar Le.
Pusat data menggunakan air terutama untuk membuang panas yang dihasilkan oleh perangkat komputer, tetapi jumlah konsumsinya sangat bervariasi tergantung pada teknologi pendingin yang digunakan dan lokasi fasilitas tersebut.
Teknologi pendingin cair langsung pada rak server dapat mengurangi beban panas pada sistem pendingin utama gedung, sekaligus memungkinkan penggunaan sistem pendingin kering yang lebih hemat air.
Beberapa teknologi memang berhasil menghemat penggunaan air di lokasi pusat data, tetapi justru menambah kebutuhan listrik.
Sebagai contoh, pendingin kering dapat menghemat sekitar 2,15 liter air untuk setiap kilowatt-jam (kWh) beban energi komputer, tetapi membutuhkan tambahan listrik sebesar 0,30 hingga 0,74 kWh.
Oleh karena itu, jejak penggunaan air secara tidak langsung bisa sangat besar dan tergantung pada seberapa banyak air yang dipakai oleh pembangkit listrik di wilayah tersebut.
Misalnya saja, di Amerika Serikat, penggunaan air tidak langsung oleh pusat data bahkan bisa mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding penggunaan air secara langsung di lokasi.
Peraturan pemerintah mengenai penggunaan air oleh pusat data pun mulai bermunculan.
Namun, aturan saat ini baru sebatas mewajibkan perusahaan untuk melaporkan penggunaan air mereka, belum sampai memberikan batas maksimal penggunaan air yang mengikat.
Sebagai gambaran, Komisi Eropa sedang merencanakan paket kebijakan efisiensi energi untuk pusat data yang akan menerapkan sistem label dan standar kinerja.
Baca juga: Siapa Paling Pencemar? Alat Ini Beri Peringkat Emisi dari Pusat Data AI
Sementara itu, peta jalan Pusat Data Hijau Singapura menargetkan penggunaan air kurang dari 2 meter kubik per megawatt-jam (MWh), atau setara dengan 2 liter per kWh.
Di Amerika Serikat, aturannya berbeda-beda di setiap negara bagian. Texas baru-baru ini menghentikan sementara izin baru untuk melakukan pemeriksaan terkait pemotongan pajak, serta penggunaan listrik, air, dan sistem pendingin pada pusat data.
Krisis air dapat menjadi faktor yang semakin penting dalam mengatur sektor ini. Daerah yang menghadapi krisis air tingkat tinggi hingga sangat tinggi diperkirakan akan menyumbang 34 persen dari total penggunaan air langsung oleh pusat data secara global pada tahun 2030, menurut data Rystad Energy.
Mewajibkan penggunaan teknologi pendingin yang paling hemat air di daerah-daerah tersebut dapat memangkas konsumsi air hingga 45 persen.
Jamnagar dan Thane di India, serta wilayah Reeves di Texas, merupakan beberapa daerah yang diidentifikasi sangat rawan, di mana perkiraan penggunaan air oleh pusat data tergolong sangat tinggi dibandingkan dengan ketersediaan air di wilayah setempat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya