Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nofiyendri Sudiar
Dosen

Kepala Research Center for Climate Change (RCCC) sekaligus Koordinator Penanganan Perubahan Iklim SDGs Center Universitas Negeri Padang.

Dari Laut yang Menghangat hingga Es yang Runtuh

Kompas.com, 1 September 2026, 07:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BANJIR besar yang menerjang Nepal pada 26 Agustus 2026, membawa cerita yang berbeda tentang bencana iklim.

Tidak ada hujan ekstrem yang cukup untuk menjelaskan datangnya gelombang air, lumpur, batu, dan es yang meluncur begitu dahsyat dari kawasan Himalaya.

Penelusuran citra satelit kemudian menunjukkan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan: bagian bawah gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter, jatuh lebih dari satu kilometer ke lembah dan memicu longsoran es serta batuan.

Analisis terbaru bahkan menunjukkan sinyal seismik yang semula dianggap sebagai gempa ternyata berasal dari runtuhan tersebut.

Institut Geofisika dan Vulkanologi Italia (INGV) menjelaskan bahwa material es dan batu sempat membendung Sungai Lhende Khola.

Ketika bendungan alami itu runtuh, air, lumpur, batu, dan material lainnya dilepaskan dalam jumlah sangat besar menuju daerah di hilir.

Peristiwa Nepal memberi kita cara lain untuk memahami pemanasan global. Selama ini, pemanasan global sering dibayangkan secara sederhana: suhu udara meningkat, hari terasa semakin panas, lalu musim menjadi tidak menentu.

Semua itu benar, tetapi sesungguhnya persoalannya jauh lebih luas. Pemanasan global sedang mengubah sistem yang sangat besar, mulai dari atmosfer di atas kepala kita, laut yang menutupi sebagian besar permukaan Bumi, hingga lapisan es di puncak pegunungan.

Laut adalah salah satu tempat terbaik untuk melihat perubahan itu. Sebagian besar kelebihan panas akibat ketidakseimbangan energi Bumi disimpan di lautan.

WMO melaporkan kandungan panas laut dunia terus meningkat. Bahkan selama dua dekade terakhir, laut menyerap tambahan panas setiap tahun dalam jumlah yang diperkirakan sekitar 18 kali konsumsi energi tahunan manusia di seluruh dunia.

Di Asia, panas laut pada 2025 kembali mencapai rekor. Gelombang panas laut bahkan meliputi lebih dari 10 juta kilometer persegi pada periode Juli hingga September 2025.

Laut yang semakin hangat bukan sekadar persoalan ikan, terumbu karang, atau nelayan. Laut merupakan salah satu sumber energi bagi atmosfer.

Semakin hangat permukaan laut, semakin besar peluang terjadinya penguapan. Atmosfer yang lebih hangat juga mampu menampung lebih banyak uap air.

Dalam kondisi atmosfer yang mendukung, kombinasi energi dan kelembapan tersebut dapat memperkuat hujan ekstrem dan menyediakan bahan bakar bagi badai tropis.

Namun, kita perlu berhati-hati mengatakan bahwa pemanasan global otomatis membuat jumlah siklon semakin banyak. Ilmu iklim tidak sesederhana itu.

Yang semakin jelas adalah bahwa laut yang lebih hangat menyediakan lingkungan yang memungkinkan siklon tertentu membawa hujan lebih lebat dan mencapai intensitas lebih besar.

Kita bahkan baru saja mendapatkan contoh yang sangat dekat. WMO mencatat Siklon Senyar pada 2025 sebagai sistem pertama yang diketahui mencapai intensitas siklon tropis di Selat Malaka. Peristiwa tersebut berdampak terhadap lebih dari 10 juta orang di Indonesia dan Malaysia.

Jika di laut pemanasan muncul melalui panas laut dan energi bagi atmosfer, di pegunungan tinggi wajahnya berbeda.

Di Himalaya, yang berubah adalah dunia es. Gletser di kawasan pegunungan tinggi Asia terus mengalami penyusutan.

Suhu yang meningkat bukan hanya mempercepat pencairan es, tetapi juga dapat mengubah kestabilan lingkungan pegunungan.

Permafrost—tanah dan batuan yang membeku dalam waktu lama—dapat mencair. Es yang berada di antara retakan batuan pun berkurang. Lereng yang selama ini relatif stabil dapat berubah menjadi lebih rapuh.

Para ilmuwan yang menganalisis kejadian Nepal memperingatkan bahwa perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat membuat batuan dan es di pegunungan tinggi semakin tidak stabil.

Namun, mereka juga berhati-hati: belum cukup bukti untuk mengatakan bahwa pemanasan global secara langsung menyebabkan runtuhnya gletser Nepal pada 26 Agustus tersebut.

Kehati-hatian ini penting. Tidak setiap banjir, badai, longsor, kebakaran hutan, atau runtuhan gletser dapat begitu saja diberi label “disebabkan perubahan iklim”.

Setiap bencana memiliki mekanisme dan pemicunya sendiri. Namun, erubahan iklim sedang mengubah kondisi dasar tempat berbagai proses alam itu berlangsung.

Ibarat sebuah mesin besar, kita sedang menaikkan suhu operasinya. Setiap komponen kemudian memberikan respons yang berbeda.

Atmosfer yang lebih hangat dapat meningkatkan potensi gelombang panas dan hujan ekstrem. Laut yang lebih hangat menyimpan energi lebih besar dan mengalami gelombang panas laut.

Es daratan yang mencair ikut menaikkan muka laut. Gletser mundur. Permafrost mencair. Siklus air berubah.

Pada satu wilayah muncul hujan yang luar biasa, sementara wilayah lainnya menghadapi kekeringan berkepanjangan.

Itulah mengapa pemanasan global tidak mempunyai satu wajah. Kadang ia datang sebagai udara yang menyengat. Kadang sebagai laut yang luar biasa hangat.

Kadang sebagai hujan yang turun jauh lebih deras. Kadang sebagai badai yang memperoleh energi dari perairan hangat.

Dan di tempat setinggi Himalaya, perubahan itu dapat hadir dalam bentuk yang sebelumnya jarang kita bayangkan: es dan batu yang kehilangan kestabilannya.

Bencana Nepal akhirnya mengingatkan kita pada sesuatu yang mendasar. Ketika suhu rata-rata Bumi naik, yang berubah bukan sekadar angka pada termometer. Yang sedang berubah adalah cara sistem Bumi bekerja.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau