KOMPAS.com - Sebanyak 560 juta anak berusia 0-9 tahun di seluruh dunia saat ini mengalami setidaknya satu bulan tambahan (30 hari atau lebih) tekanan panas ekstrem (heat stress) setiap tahun akibat krisis iklim yang disebabkan aktivitas manusia.
Namun, paparan heat stress tersebut tidak dialami secara merata oleh semua kelompok usia. Anak-anak yang memiliki kontribusi sangat kecil terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) historis, justru menanggung beban terberat.
Analisis dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) dalam artikel "Age-specific exposure to human-induced increases in humid heat" mengungkapkan, ketimpangan antargenerasi yang sangat mencolok.
Kendati mengalami ancaman yang sama, paparan panas ekstrem pada anak-anak kini hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan orang dewasa berusia 60-69 tahun, yang mencapai 190 juta orang atau 30 persen dari populasi.
Menurut penulis utama studi dan peneliti PhD di VUB, Rosa Pietroiusti, anak-anak terpapar panas ekstrem lebih banyak karena kelompok usia ini umumnya menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan.
"Krisis iklim telah menyebabkan ratusan juta anak menderita akibat panas berbahaya di seluruh dunia, yang menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka. Anak-anak di negara berkembang menghadapi paparan ekstrem iklim yang tidak proporsional saat ini maupun masa depan, meskipun kontribusi mereka terhadap emisi gas rumah kaca paling sedikit dalam sejarah," ujar Rosa dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9/2026).
Di sisi lain, banyak anak yang memiliki hanya sedikit cara untuk melindungi diri dari paparan panas ekstrem. Kemiskinan, perumahaan tidak memadai, akses terbatas terhadap pendinginan, dan sistem perawatan kesehatan yang kewalahan berkontribusi memposisikan anak-anak dalam kondisi rentan terhadap paparan panas ekstrem.
Diketahui, krisis iklim meningkatkan frekuensi, intensitas, dan durasi kondisi panas ekstrem — entah kering maupun lembap — di seluruh dunia. Dalam konteks kesehatan terkait panas, stres panas mengacu pada kondisi lingkungan — seperti suhu, kelembapan, radiasi matahari, dan angin — serta faktor pribadi — seperti aktivitas dan pakaian — yang memberikan beban termal bersih pada tubuh. Paparan stres panas dapat menyebabkan berbagai dampak kesehatan yang merugikan pada manusia, terutama pada kelompok rentan dan populasi yang menghadapi hambatan struktural dalam beradaptasi terhadap panas.
Panas yang berlebihan mengganggu kemampuan tubuh untuk melakukan termoregulasi, memperparah penyakit kardiovaskular dan pernapasan yang sudah ada sebelumnya, serta meningkatkan risiko serangan panas (heat stroke), gagal ginjal, dan kerusakan paru-paru (10). Ketika suhu tinggi terjadi bersamaan dengan kelembapan tinggi, pendinginan melalui penguapan keringat menjadi kurang efektif, sehingga meningkatkan risiko penumpukan panas yang berbahaya. Kerentanan terhadap stres panas bervariasi berdasarkan usia.
Berdasarkan temuan dari VUB, peningkatan terbesar dalam tekanan panas lembap (humid heat) akibat perubahan iklim terjadi di wilayah tropis dan negara-negara berkembang atau miskin. Dengan peningkatan populasi lebih muda beriringan dengan semakin banyak anak-anak yang terdampak tekanan panas.
Sebagai negara berkembang, Indonesia termasuk dalam wilayah dengan jumlah hari tekanan panas atribusi tertinggi di dunia, bahkan mencapai 90 hingga 150 hari per tahun. Di bawah skenario proyeksi perubahan iklim pada pemanasan global 1,5 derajat Celcius dan 2 derajat Celcius – yang sangat mungkin terlampaui jika negara-negara melanjutkan kebijakan saat ini, jumlah anak yang terdampak oleh tambahan satu bulan panas berbahaya diperkirakan akan meningkat masing-masing menjadi 620 juta (49 persen) dan 650 juta (59 persen) anak usia 0–9 tahun.
Pada suhu 1,5 derajat Celcius, sekitar 4 persen anak usia 0-9 tahun (51 juta anak) diproyeksikan mengalami 150 hari atau lebih tekanan panas atribusi per tahun, meningkat dari 3 persen (40 juta anak) pada kondisi saat ini. Pada suhu 2 derajat Celcius, angka ini melonjak menjadi 10 persen (115 juta anak).
VUB menggarisbawahi bahwa humid heat lebih berbahaya dibandingkan panas kering karena menghambat kemampuan tubuh untuk berkeringat dan mendinginkan diri, yang menyebabkan tingkat tekanan panas yang berbahaya. Anak-anak sangat rentan terhadap panas ekstrem karena tubuh mereka memanas lebih cepat ketimbang orang dewasa. Anak-anak juga berkeringat kurang efisien dan mereka bergantung pada perawatan orang dewasa.
Kepanasan dapat menyebabkan risiko kesehatan yang parah. Ini termasuk dehidrasi dan sengatan panas yang berbahaya, serta berdampak pada pembelajaran dan perkembangan kognitif.
Mengacu pada temuan tersebut, perlu kebijakan mitigasi dan adaptasi krisis iklim untuk melindungi anak-anak dari risiko kesehatan akibat panas.
Sementara itu, Outreach and Advocacy Coordinator CERAH, Dzatmiati Sari mengatakan, para pembuat kebijakan harus segera merealisasikan janjinya sesuai dengan Perjanjian Paris. Mereka harus memangkas emisi gas rumah kaca (GRK) dari bahan bakar fosil dan menahan kenaikan suhu untuk mencegah dampak terburuk krisis iklim bagi generasi mendatang. Dengan bertambahnya 90-150 hari panas per tahun di Indonesia, anak-anak bangsa Indonesia akan terkena dampak terbesar.
“Krisis iklim adalah krisis hak anak, sebab mengancam kelangsungan hidup dan hak-hak mereka sesuai Konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak. Karenanya, mitigasi krisis iklim harus dibarengi keberanian melepaskan ketergantungan pada energi fosil. Jika tidak, yang sedang dipertaruhkan adalah keberlangsungan hidup, kesehatan, dan masa depan anak-anak," tutur Dzatmiati.
Menurut Dzatmiati, pengelola negara harus segera mengambil tindakan nyata agar anak-anak hari ini dapat hidup dan mewarisi Bumi yang layak huni di masa depan. Untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celcius, strategi adaptasi krisis iklim perlu disesuaikan dengan konteks lokal. Ia menganggap, hal tersebut sangat mendesak untuk mengurangi risiko kesehatan dalam jangka pendek, termasuk bagi anak-anak.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya