KOMPAS.com - Survei yang dilakukan perusahaan logistik Ryder mengungkapkan ada perubahan sudut pandang konsumen e-commerce terhadap kualitas dan dampak lingkungan saat mereka belanja daring.
Menurut survei tersebut, melansir ESG Dive, Kamis (3/9/2026) dalam setahun terakhir ini, konsumen lebih memprioritaskan pengalaman yang berkualitas tinggi serta keberlanjutan lingkungan dibanding sebelumnya.
Meski hemat tetap dicari di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, hal ini bukan lagi prioritas tertinggi seperti tahun lalu.
"Harga memang masih memengaruhi perilaku konsumen, tetapi bukan lagi satu-satunya penentu. Konsumen kini semakin mempertimbangkan faktor tambahan seperti bahan baku yang digunakan pada produk dan kemasannya," tulis laporan tersebut.
"Memahami preferensi belanja online dan kemasan yang disukai konsumen serta perubahan prioritas mereka sangat penting untuk membangun kesetiaan pada merek," ujar Jeff Wolpov, Senior Vice President E-commerce dan Last Mile di Ryder.
"Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keinginan konsumen, memahami apa yang penting bagi mereka, dan memberikan apresiasi atas tindakan baik mereka sangatlah berharga saat ini terutama di tengah persaingan pasar yang sangat ketat," katanya.
Baca juga: Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat
Pihak ketiga melakukan survei terhadap 1.160 konsumen untuk Ryder pada bulan Maret guna mengukur pandangan mereka mengenai belanja online dan belanja langsung di toko dari tahun 2025 hingga 2026.
Sama seperti tahun lalu, sebagian besar konsumen menyatakan lebih suka menerima paket belanja online dalam bentuk kardus dibanding kantong plastik. Namun, alasan mereka memilih bentuk kemasan tersebut kini telah bergeser.
Dari konsumen yang memilih kardus tahun ini, 32 persen beralasan karena kardus dianggap memberikan perlindungan yang lebih baik selama pengiriman, 29 persen memilihnya karena bisa dipakai ulang, dan 20 persen menilai kardus lebih ramah lingkungan.
Alasan perlindungan produk mengalami penurunan sebesar 4 persen dibanding tahun lalu, sementara alasan ramah lingkungan melonjak naik sebesar 6 persen.
Di sisi lain, dari konsumen yang memilih kantong paket (mailer bags), 10 persen responden beralasan karena lebih mudah dibuang, 5 persen memakainya kembali, dan 6 persen memilihnya karena tidak memakan tempat.
Dibandingkan tahun lalu, jumlah konsumen yang beralasan mudah dibuang mengalami peningkatan, sedangkan alasan dipakai ulang justru menurun.
"Meskipun kantong paket terbilang lumayan kuat, kemasan ini tidak memberikan tingkat perlindungan perjalanan yang setara dengan kardus. Selain itu, ada persepsi bahwa kardus jauh lebih ramah lingkungan," ujar Wolpov.
"Bentuk kemasan juga memengaruhi pengalaman saat membuka paket, yang bisa menjadi pembeda utama bagi sebuah merek. Pengalaman membuka kemasan terasa jauh lebih berkesan dan bermakna daripada sekadar merobek kantong plastik yang kemungkinan besar akan langsung dibuang," tambah Wolpov.
Baca juga: Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang
Survei menunjukkan bahwa konsumen masih mendambakan pengalaman membuka kemasan yang berkesan. Namun, pandangan responden tahun ini mengenai hal-hal yang mendorong kesetiaan pada merek mulai bergeser.
Kupon dan diskon menjadi alasan utama tahun lalu (47 persen) dan masih memimpin pada tahun 2026, tetapi jumlahnya menurun drastis. Sebaliknya, faktor ramah lingkungan pada kemasan justru naik 6 persen dibanding tahun 2025.
Hasil survei ini menunjukkan bahwa saat membuka paket, jika aspek keberlanjutan dan pengalaman belanja tersebut sesuai dengan nilai pribadi, maka konsumen cenderung akan membeli lagi dari merek itu di masa depan. Selain itu, konsumen yang disurvei bahkan rela membayar lebih demi kemasan yang ramah lingkungan.
Fitur pengembalian dana tanpa retur barang adalah hal penting lainnya bagi pengalaman dan kesetiaan konsumen, sekaligus untuk keberlanjutan lingkungan. Ryder menemukan bahwa 67 persen responden survei menyatakan ingin berbelanja kembali di merek yang memberikan pengembalian uang tanpa mewajibkan pembeli mengembalikan barangnya.
"Konsumen merasa tindakan ini ramah lingkungan, karena penjual lebih peduli pada lingkungan dibanding harus mengemas ulang dan membakar jejak karbon hanya untuk mengirim kembali barang tersebut," kata Wolpov.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya