Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan

Kompas.com, 4 September 2026, 16:09 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Survei yang dilakukan perusahaan logistik Ryder mengungkapkan ada perubahan sudut pandang konsumen e-commerce terhadap kualitas dan dampak lingkungan saat mereka belanja daring.

Menurut survei tersebut, melansir ESG Dive, Kamis (3/9/2026) dalam setahun terakhir ini, konsumen lebih memprioritaskan pengalaman yang berkualitas tinggi serta keberlanjutan lingkungan dibanding sebelumnya.

Meski hemat tetap dicari di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, hal ini bukan lagi prioritas tertinggi seperti tahun lalu.

"Harga memang masih memengaruhi perilaku konsumen, tetapi bukan lagi satu-satunya penentu. Konsumen kini semakin mempertimbangkan faktor tambahan seperti bahan baku yang digunakan pada produk dan kemasannya," tulis laporan tersebut.

"Memahami preferensi belanja online dan kemasan yang disukai konsumen serta perubahan prioritas mereka sangat penting untuk membangun kesetiaan pada merek," ujar Jeff Wolpov, Senior Vice President E-commerce dan Last Mile di Ryder.

"Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keinginan konsumen, memahami apa yang penting bagi mereka, dan memberikan apresiasi atas tindakan baik mereka sangatlah berharga saat ini terutama di tengah persaingan pasar yang sangat ketat," katanya.

Baca juga: Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat

Kemasan ramah lingkungan

Pihak ketiga melakukan survei terhadap 1.160 konsumen untuk Ryder pada bulan Maret guna mengukur pandangan mereka mengenai belanja online dan belanja langsung di toko dari tahun 2025 hingga 2026.

Sama seperti tahun lalu, sebagian besar konsumen menyatakan lebih suka menerima paket belanja online dalam bentuk kardus dibanding kantong plastik. Namun, alasan mereka memilih bentuk kemasan tersebut kini telah bergeser.

Dari konsumen yang memilih kardus tahun ini, 32 persen beralasan karena kardus dianggap memberikan perlindungan yang lebih baik selama pengiriman, 29 persen memilihnya karena bisa dipakai ulang, dan 20 persen menilai kardus lebih ramah lingkungan.

Alasan perlindungan produk mengalami penurunan sebesar 4 persen dibanding tahun lalu, sementara alasan ramah lingkungan melonjak naik sebesar 6 persen.

Di sisi lain, dari konsumen yang memilih kantong paket (mailer bags), 10 persen responden beralasan karena lebih mudah dibuang, 5 persen memakainya kembali, dan 6 persen memilihnya karena tidak memakan tempat.

Dibandingkan tahun lalu, jumlah konsumen yang beralasan mudah dibuang mengalami peningkatan, sedangkan alasan dipakai ulang justru menurun.

"Meskipun kantong paket terbilang lumayan kuat, kemasan ini tidak memberikan tingkat perlindungan perjalanan yang setara dengan kardus. Selain itu, ada persepsi bahwa kardus jauh lebih ramah lingkungan," ujar Wolpov.

"Bentuk kemasan juga memengaruhi pengalaman saat membuka paket, yang bisa menjadi pembeda utama bagi sebuah merek. Pengalaman membuka kemasan terasa jauh lebih berkesan dan bermakna daripada sekadar merobek kantong plastik yang kemungkinan besar akan langsung dibuang," tambah Wolpov.

Baca juga: Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang

Survei menunjukkan bahwa konsumen masih mendambakan pengalaman membuka kemasan yang berkesan. Namun, pandangan responden tahun ini mengenai hal-hal yang mendorong kesetiaan pada merek mulai bergeser.

Kupon dan diskon menjadi alasan utama tahun lalu (47 persen) dan masih memimpin pada tahun 2026, tetapi jumlahnya menurun drastis. Sebaliknya, faktor ramah lingkungan pada kemasan justru naik 6 persen dibanding tahun 2025.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa saat membuka paket, jika aspek keberlanjutan dan pengalaman belanja tersebut sesuai dengan nilai pribadi, maka konsumen cenderung akan membeli lagi dari merek itu di masa depan. Selain itu, konsumen yang disurvei bahkan rela membayar lebih demi kemasan yang ramah lingkungan.

Fitur pengembalian dana tanpa retur barang adalah hal penting lainnya bagi pengalaman dan kesetiaan konsumen, sekaligus untuk keberlanjutan lingkungan. Ryder menemukan bahwa 67 persen responden survei menyatakan ingin berbelanja kembali di merek yang memberikan pengembalian uang tanpa mewajibkan pembeli mengembalikan barangnya.

"Konsumen merasa tindakan ini ramah lingkungan, karena penjual lebih peduli pada lingkungan dibanding harus mengemas ulang dan membakar jejak karbon hanya untuk mengirim kembali barang tersebut," kata Wolpov.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau