Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan

Kompas.com, 19 September 2026, 16:39 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Peneliti keberlanjutan lingkungan di Universitas Nasional Singapura (NUS) menemukan bahwa nilai Environmental, Social, and Governance (ESG) yang populer saat ini sering kali gagal menggambarkan dampak kerusakan hutan akibat ulah perusahaan.

Temuan ini menegaskan pentingnya memasukkan data lingkungan berbasis satelit ke dalam sistem investasi berkelanjutan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini dipimpin oleh Profesor Madya L. Roman Carrasco dari Departemen Ilmu Hayati, bekerja sama dengan peneliti Yingtong Zhu dan Profesor Johan Sulaeman dari NUS Sustainable and Green Finance Institute.

Melansir Phys, Selasa (15/9/2026) tim ini meneliti apakah sistem penilaian ESG utama benar-benar mencerminkan keterlibatan nyata perusahaan dalam deforestasi.

Saat ini, banyak investor ingin menyalurkan modal mereka ke perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. Oleh karena itu, perusahaan diberi nilai ESG untuk menunjukkan apakah bisnis mereka peduli lingkungan dan bertindak secara bertanggung jawab.

Baca juga: Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai

Rating ini makin memengaruhi keputusan investasi di seluruh dunia. Namun, belum jelas apakah penilaian tersebut benar-benar mampu mencatat salah satu dampak lingkungan terbesar dari dunia usaha yakni penggundulan hutan.

Pendekatan beragam sumber

Untuk mengetahuinya, para peneliti menggabungkan peta kerusakan hutan berbasis satelit, lokasi aset perusahaan, data rantai pasok komoditas berisiko merusak hutan, pemberitaan media, serta database keuangan dan nilai ESG komersial untuk melihat hubungan antara deforestasi perusahaan dan nilai ESG mereka.

Secara keseluruhan, mereka meneliti 18 nilai ESG umum dan 12 sub-nilai khusus deforestasi dari lima penyedia data internasional utama, lalu membandingkannya dengan dua ukuran independen terkait deforestasi di tingkat perusahaan.

Analisis ini mencakup kerusakan hutan di sekitar lokasi aset milik 13.841 perusahaan di seluruh dunia antara tahun 2013 hingga 2024. Penelitian ini juga mengukur keterlibatan 210 perusahaan dalam deforestasi melalui rantai pasok global untuk komoditas berisiko seperti kelapa sawit, kedelai, daging sapi, daging ayam, dan produk kayu antara tahun 2013 hingga 2020.

Selain itu, tim peneliti menguji apakah berita di media massa mengenai deforestasi lebih memengaruhi nilai ESG daripada kerusakan hutan yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Lebih mencerminkan citra publik

Studi menemukan tidak ada bukti bahwa nilai ESG secara konsisten mampu mencatat keterlibatan nyata perusahaan dalam penggundulan hutan. Sebaliknya, nilai ESG jauh lebih kuat merespons perhatian media terkait deforestasi baik berupa berita positif tentang langkah penanganan perusahaan maupun berita negatif mengenai skandal kerusakan hutan.

Baca juga: ESG Perlu Jadi Strategi Jangka Panjang Industri Properti

Para peneliti juga menemukan bahwa perusahaan yang terlibat dalam produksi kelapa sawit cenderung mendapat nilai ESG terkait deforestasi yang lebih rendah dibanding perusahaan di rantai pasok kedelai, atau daging ayam. Hal ini menunjukkan adanya potensi prasangka terhadap komoditas tertentu.

"Ini adalah penelitian pertama yang menguji berbagai sistem penilaian ESG komersial terhadap kerusakan hutan akibat perusahaan yang diukur secara independen di skala global. Penyedia nilai ESG perlu memasukkan data kerusakan hutan yang objektif dan akurat berdasarkan pemantauan satelit ke dalam penilaian mereka di masa depan, agar para investor dapat berkontribusi lebih baik dalam mengurangi penggundulan hutan," kata Zhu.

"Studi kami tidak bermaksud mengatakan bahwa nilai ESG tidak berguna sebagai alat untuk mengalihkan modal dari perusahaan yang merusak hutan. Nyatanya, nilai ESG punya potensi besar karena mencakup sangat banyak perusahaan," ungkap Carrasco.

"Masalah utamanya adalah analisis ESG saat ini belum memasukkan data pemetaan wilayah. Jika data ini dimasukkan, investasi berbasis ESG bisa menjadi pengubah permainan dalam menghentikan penggundulan hutan di seluruh dunia," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau