KOMPAS.com - Peneliti keberlanjutan lingkungan di Universitas Nasional Singapura (NUS) menemukan bahwa nilai Environmental, Social, and Governance (ESG) yang populer saat ini sering kali gagal menggambarkan dampak kerusakan hutan akibat ulah perusahaan.
Temuan ini menegaskan pentingnya memasukkan data lingkungan berbasis satelit ke dalam sistem investasi berkelanjutan.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini dipimpin oleh Profesor Madya L. Roman Carrasco dari Departemen Ilmu Hayati, bekerja sama dengan peneliti Yingtong Zhu dan Profesor Johan Sulaeman dari NUS Sustainable and Green Finance Institute.
Melansir Phys, Selasa (15/9/2026) tim ini meneliti apakah sistem penilaian ESG utama benar-benar mencerminkan keterlibatan nyata perusahaan dalam deforestasi.
Saat ini, banyak investor ingin menyalurkan modal mereka ke perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. Oleh karena itu, perusahaan diberi nilai ESG untuk menunjukkan apakah bisnis mereka peduli lingkungan dan bertindak secara bertanggung jawab.
Baca juga: Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Rating ini makin memengaruhi keputusan investasi di seluruh dunia. Namun, belum jelas apakah penilaian tersebut benar-benar mampu mencatat salah satu dampak lingkungan terbesar dari dunia usaha yakni penggundulan hutan.
Untuk mengetahuinya, para peneliti menggabungkan peta kerusakan hutan berbasis satelit, lokasi aset perusahaan, data rantai pasok komoditas berisiko merusak hutan, pemberitaan media, serta database keuangan dan nilai ESG komersial untuk melihat hubungan antara deforestasi perusahaan dan nilai ESG mereka.
Secara keseluruhan, mereka meneliti 18 nilai ESG umum dan 12 sub-nilai khusus deforestasi dari lima penyedia data internasional utama, lalu membandingkannya dengan dua ukuran independen terkait deforestasi di tingkat perusahaan.
Analisis ini mencakup kerusakan hutan di sekitar lokasi aset milik 13.841 perusahaan di seluruh dunia antara tahun 2013 hingga 2024. Penelitian ini juga mengukur keterlibatan 210 perusahaan dalam deforestasi melalui rantai pasok global untuk komoditas berisiko seperti kelapa sawit, kedelai, daging sapi, daging ayam, dan produk kayu antara tahun 2013 hingga 2020.
Selain itu, tim peneliti menguji apakah berita di media massa mengenai deforestasi lebih memengaruhi nilai ESG daripada kerusakan hutan yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Studi menemukan tidak ada bukti bahwa nilai ESG secara konsisten mampu mencatat keterlibatan nyata perusahaan dalam penggundulan hutan. Sebaliknya, nilai ESG jauh lebih kuat merespons perhatian media terkait deforestasi baik berupa berita positif tentang langkah penanganan perusahaan maupun berita negatif mengenai skandal kerusakan hutan.
Baca juga: ESG Perlu Jadi Strategi Jangka Panjang Industri Properti
Para peneliti juga menemukan bahwa perusahaan yang terlibat dalam produksi kelapa sawit cenderung mendapat nilai ESG terkait deforestasi yang lebih rendah dibanding perusahaan di rantai pasok kedelai, atau daging ayam. Hal ini menunjukkan adanya potensi prasangka terhadap komoditas tertentu.
"Ini adalah penelitian pertama yang menguji berbagai sistem penilaian ESG komersial terhadap kerusakan hutan akibat perusahaan yang diukur secara independen di skala global. Penyedia nilai ESG perlu memasukkan data kerusakan hutan yang objektif dan akurat berdasarkan pemantauan satelit ke dalam penilaian mereka di masa depan, agar para investor dapat berkontribusi lebih baik dalam mengurangi penggundulan hutan," kata Zhu.
"Studi kami tidak bermaksud mengatakan bahwa nilai ESG tidak berguna sebagai alat untuk mengalihkan modal dari perusahaan yang merusak hutan. Nyatanya, nilai ESG punya potensi besar karena mencakup sangat banyak perusahaan," ungkap Carrasco.
"Masalah utamanya adalah analisis ESG saat ini belum memasukkan data pemetaan wilayah. Jika data ini dimasukkan, investasi berbasis ESG bisa menjadi pengubah permainan dalam menghentikan penggundulan hutan di seluruh dunia," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya