Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores

Kompas.com, 15 September 2026, 17:52 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Saat bencana alam melanda, perhatian publik dan bantuan kemanusiaan umumnya memuncak pada fase tanggap darurat (emergency response). Namun, tantangan terbesar dan yang sering kali terabaikan justru muncul pada fase pemulihan (recovery).

Ketika masa tanggap darurat berakhir, fasilitas kesehatan lokal kerap mengalami kelumpuhan infrastruktur, keterbatasan alat medis, serta kelangkaan tenaga ahli. Akibatnya, masyarakat terdampak rentan mengalami krisis kesehatan sekunder.

Di sinilah peran penting kolaborasi lintas sektorantara sektor swasta yang memiliki kapasitas pendanaan dan lembaga akademis/alumni medis yang memiliki jaring tenaga ahli di lapangan menjadi kunci untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berlanjut.

Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (Iluni FKUI) melalui inisiatif program Nusa Pulih 2026 berupaya memberikan dukungan penanganan dan pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Program Nusa Pulih 2026 berupaya memastikan bantuan bencana tidak sekadar membagikan logistik singkat, melainkan membangun ketahanan kesehatan masyarakat hingga masa pemulihan selesai.

Langkah Iluni FK UI ini mendapatkan dukungan APP Group yang turut menyalurkan bantuan senilai Rp 150 juta melalui program Nusa Pulih 2026.

Dukungan tersebut akan memperkuat pelayanan kesehatan menjangkau sejumlah wilayah terdampak, yakni Ruteng di Kabupaten Manggarai, Dampek di Kabupaten Manggarai Timur, serta Aeramo di Kabupaten Nagekeo.

Iluni FKUI telah mengirimkan lima tim delegasi terdiri dari empat dokter spesialis, 13 peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS)/residen, lima dokter umum, tiga mahasiswa kedokteran/co-ass, satu perawat, dan satu radiografer.

Koordinator Nusa Pulih 2026 dr. Riyadh Firdaus menjelaskan, meskipun fase tanggap darurat telah berlalu, kebutuhan masyarakat terdampak masih perlu mendapatkan perhatian, terutama dalam mendukung proses pemulihan dan keberlanjutan pelayanan kesehatan.

Baca juga: Kualitas Udara Kian Memburuk, Warga Palangka Raya Keluhkan Berbagai Gangguan Kesehatan

“Meskipun fase tanggap darurat di NTT telah berlalu, kebutuhan masyarakat di area terdampak belum berakhir," ungkap Riyadh.

"Saat ini perhatian perlu terus diarahkan pada proses pemulihan, termasuk keberlanjutan pelayanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. Kami berharap bantuan ini dapat menjadi bagian dari upaya pemulihan tersebut,” jelasnya.

Selain pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat, program Nusa Pulih 2026 juga mencakup dukungan berupa hibah alat medis dan nonmedis, reagensia laboratorium, serta obat-obatan untuk menunjang pelayanan di wilayah terdampak. 

Direktur APP Group Suhendra Wiriadinata mengatakan, keterlibatan APP Group dalam Nusa Pulih 2026 berangkat dari kepedulian membantu masyarakat terdampak sekaligus memastikan dukungan dapat disalurkan melalui mitra yang memiliki kapasitas dan jaringan pelayanan kesehatan di lapangan.

“Sejak mengetahui terjadinya bencana di NTT, kami memiliki keinginan untuk turut membantu masyarakat yang terdampak. Kesempatan untuk bekerja sama dengan Iluni FKUI memberikan jalur penyaluran yang kami harapkan dapat memastikan bantuan diterima oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Semoga dukungan ini dapat memberikan manfaat nyata dalam proses pemulihan di NTT,” ujar Suhendra.

Ketua Umum Iluni FKUI Marsma (Purn). dr. Wawan Mulyawan menyampaikan apresiasi atas dukungan APP Group yang diharapkan dapat memperluas jangkauan pelayanan dan bantuan kepada masyarakat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Keterampilan Menjadi Peluang, Begini Cara Bakti BCA Memberdayakan Talenta dan Komunitas
Dari Keterampilan Menjadi Peluang, Begini Cara Bakti BCA Memberdayakan Talenta dan Komunitas
BrandzView
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Swasta
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
LSM/Figur
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
LSM/Figur
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Pemerintah
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau