KOMPAS.com - Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bagi PT United Tractors Tbk (UNTR) merupakan salah satu bagian dari strategi dekarbonisasi.
Namun, pemanfaatan PLTS bukanlah satu-satunya solusi, serta pendekatan dekarbonisasi perlu disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan masing-masing site. Apalagi, setiap kegiatan pertambangan memiliki kebutuhan energi dan pola operasional yang berbeda-beda.
Saat ini, Grup UNTR menjalankan beberapa upaya dekarbonisasi, seperti pemasangan solar photovoltaic (PV), pemanfaatan Renewable Energy Certificate (REC), penggunaan biosolar, peningkatan efisiensi energi dan bahan bakar, serta pengembangan elektrifikasi peralatan pertambangan.
Baca juga: KAI Operasikan 113 PLTS, Berpotensi Hasilkan 6,6 Juta kWh Energi Surya per Tahun
"Pendekatan UNTR bukan mengandalkan PLTS sebagai solusi utama, tetapi mengembangkan kombinasi solusi yang sesuai dengan karakteristik operasional sambil tetap menjaga keandalan dan produktivitas," ujar Corporate Social Responsibility & Corporate Communication Manager, PT United Tractors Tbk, Himawan Sutanto kepada Kompas.com, Kamis (17/9/2026).
UNTR dekarbonisasi sebagai proses transformasi yang perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan karakteristik bisnis alat berat dan pertambangan.
Strategi yang dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu, dekarbonisasi operasional dan transformasi portofolio bisnis. Dari sisi operasional, efisiensi energi dan pengurangan konsumsi bahan bakar fosil melalui beberapa pendekatan teknis.
Pertama, peningkatan kompetensi operator. Kedua, pengawasan operasional. Ketiga, penggunaan best available technology/ innovation, seperti biosolar, REC, solar PV, dan Green Building di beberapa titik instalasi.
Keempat, pengembangan produk emisi rendah, seperti elektrifikasi peralatan pertambangan. Kelima, monitoring energi dan emisi melalui audit internal untuk mencegah inefisiensi. Keenam, penerapan sistem manajemen lingkungan, seperti
ISO 14001:2015 – Environmental Management System; ISO 14064-1:2018 – Greenhouse Gas Quantification & Reporting; ISO 50001:2018 – Energy Management System.
UNTR terus mengembangkan diversifikasi portofolio non-batu bara, termasuk mineral lainnya dan renewable energy. Seluruh upaya tersebut menjadi bagian dari target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 30 persen pada 2030.
"Dalam Aspirasi Keberlanjutan 2030, UNTR menetapkan target pengurangan emisi GRK sebesar 30 persen pada tahun 2030. Upaya pengurangan emisi saat ini diarahkan terutama pada sumber emisi operasional, termasuk efisiensi energi dan bahan bakar, penggunaan biosolar, pemanfaatan energi terbarukan, serta pengembangan elektrifikasi peralatan pertambangan," tutur Himawan.
Berdasarkan Sustainability Report (SR), per bulan Desember 2025, UNTR telah mencatat penurunan emisi GRK sebesar 12,03 persen.
Di sisi produk, UNTR juga mendorong solusi yang bisa membantu pelanggan menjalankan operasional yang lebih efisien dan rendah emisi GRK. Komatsu PC950LC-11R memiliki peningkatan efisiensi bahan bakar hingga 40 persen dibandingkan PC800-8. Sedangkan Hydrogen Tower Lamp LSH 4-2000 mengintegrasikan hydrogen fuel cell dan solar panel untuk menghasilkan penerangan operasional secara zero-emission.
Namun, manfaat dekarbonisasi dari produk yang digunakan pelanggan perlu dibedakan dari pengurangan emisi GRK operasional UNTR sendiri. Ini terjadi karena pencatatannya tetap mengikuti batas dan metode inventarisasi GRK yang berlaku.
Baca juga: Mendagri: Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jadi Program Wajib Pemda
Bagi UNTR, Environmental, Social, dan Governance (ESG) merupakan tiga aspek yang saling melengkapi. Pada aspek Enviromental, tantangannya lebih kompleks sejalan dengan karakter bisnis alat berat dan pertambangan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya