KOMPAS.com - Deru alat berat dan kawasan industri pengolahan nikel telah mengubah lanskap Kabupaten Morowali, menjadi salah satu pusat ekonomi paling strategis di Tanah Air.
Di balik hilirisasi nikel, masih tersimpan ironi klise yang berupaya dijawab melalui pendirian Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Pertambangan Bungku pada tahun 2017.
SMKN Pertambangan Bungku dirancang untuk menyiapkan tenaga kerja lokal agar tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus industrialisasi nikel.
Kepala SMK Negeri Pertambangan Bungku Sarfin Suaib mengatakan, sekitar 80 persen lulusan angkatan pertama pada 2019 langsung terserap bekerja di kawasan industri nikel.
Untuk memastikan kualitas lulusan selaras dengan kebutuhan industri, SMKN Pertambangan Bungku menghadirkan tenaga pengajar yang kompeten di bidangnya. Pada tahap awal perintisan sekolah, SMKN Pertambangan Bungku aktif menjalin komunikasi berbagai pelaku industri nikel, termasuk PT Vale Indonesia Tbk.
Sarfin menyebut, PT Vale sebagai salah satu perusahaan yang sering mengerahkan tenaga pengajar untuk berbagi pengalaman langsung dengan murid SMKN Pertambangan Bungku. Kolaborasi dengan perusahaan, seperti PT Vale, dimaksudkan agar materi pembelajaran di SMKN Pertambangan Bungku relevan dengan kebutuhan industri.
Baca juga: DPR Ungkap Kunci Hilirisasi Minerba: SDM dan Penguasaan Teknologi
"Kalau yang Vale sempat juga ada bimbingan kelas. Mereka itu pernah datang lagi (untuk mengajar)," ujar Sarfin kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2026).
Bahkan, saat ditemui di ruang kerjanya, Sarfin sebenarnya sedang menunggu tenaga pengajar dari PT Vale.
"Guru-guru Geologi Pertambangan memang sudah punya materi K3 (keselamatan dan kesehatan kerja). Tetapi, karena untuk bekal persiapan untuk PKL (praktik kerja lapangan), maka hari ini kami mengundang dari perusahaan untuk membekali K3 dalam persiapan PKL. Tapi, belum hadir beliau yang tadi ditunjuk dari PT Vale," tutur Sarfin.
Berdasarkan sustainability report (SR) 2025, total investasi Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali mencapai sebesar 751.027 dolar AS atau Rp 13,27 miliar.
Program tersebut mencakup bidang pendidikan, kesehatan, tingkat pendapatan riil dan pekerjaan, kemandirian ekonomi, sosial budaya, pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk pengelolaan lingkungan, pembentukan kelembagaan komunitas, dan pembangunan infrastruktur pendukung.
Pada tahun 2025, PPM PT Vale di IGP Morowali pada bidang pendidikan difokuskan pada penguatan kualitas sumber daya manusia di wilayah pemberdayaan, dengan total investasi mencapai 236.925 dolar AS atau sekitar 31,5 persen dari total investasi PPM di IGP Morowali.
Program tersebut terdiri dari fasilitasi penelitian dan magang bagi 20 pelajar dan mahasiswa di berbagai departemen, bimbingan Bahasa Inggris bekerja sama dengan Universitas Tadulako bagi 95 peserta dari desa binaan, serta seminar edukatif terkait pencegahan penyalahgunaan zat adiktif bagi pelajar, guru, dan orang tua.
Baca juga: Harga Bijih Nikel Naik Dua Kali Lipat, Vale (INCO) Dorong Revisi HPM Limonit
Selain itu, PPM PT Vale di IGP Morowali telah memfinalisasi kebijakan beasiswa yang selaras dengan pemerintah daerah mulai tahun 2026, yang dirancang untuk memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kesiapan dan kompetensi tenaga kerja lokal.
Kini, PT Vale sedang menyelaraskan strategi Environmental Social Governance (ESG), manajemen risiko, dan perencanaan investasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya