Perbaikan roadmap ESG mencerminkan proses carve-out, ekspansi, serta pengembangan proyek IGP Morowali dan IGP Pomalaa yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan pertumbuhan PT Vale.
Selama proses memperbarui roadmap berlangsung, ESG tetap dijalankan melalui struktur tata kelola dan sistem manajemen yang telah ada, dengan berbagai inisiatif utama terkait kinerja iklim, pengelolaan lingkungan, keterlibatan masyarakat, serta pengembangan tenaga kerja.
"Proses ini mencerminkan integrasi aspek keberlanjutan sejak tahap pengembangan proyek hingga operasional dan penutupan tambang," demikian keterangan dari SR PT Vale tahun 2025.
Hilirisasi nikel memang memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan transisi energi. Namun, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto mengatakan, produk nikel Indonesia tetap perlu semakin kompetitif dari aspek jejak karbon dan penerapan prinsip ESG.
"Bagi PT Vale (Indonesia), hilirisasi dan dekarbonisasi bukanlah dua agenda yang berjalan terpisah. Keduanya perlu dijalankan secara beriringan," ucapnya dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Menurut Bernardus, intensitas emisi karbon, penggunaan energi, pengelolaan lingkungan, serta praktik sosial dan tata kelola akan semakin menentukan daya saing produk di pasar global.
"Kami integrasikan dalam kegiatan operasi dan investasi mulai dari tahapan perencanaan sampai closure," ujar Bernardus.
Ia menganggap, prinsip keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan proyek-proyek pertumbuhan dan hilirisasi PT Vale.
Baca juga: Ekspansi Masih Berjalan, Vale Indonesia Buka Peluang Bagi Dividen
Dalam konteks pengurangan jejak karbon pada fasilitas pengolahan, salah satu fokus utama PT Vale adalah pemanfaatan sumber energi yang lebih rendah karbon. PT Vale memiliki pengalaman panjang dalam memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT).
Misalnya, pengoperasian tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas produksi listrik 365 megawatt (MW) untuk mendukung kegiatan operasional dan pengolahan nikel di Sorowako. "Keunggulan ini menjadi fondasi penting dalam upaya menekan intensitas emisi dari kegiatan produksi," tutur Bernardus.
Selain itu, PT Vale sedang mengimplementasikan inisiatif dekarbonisasi melalui peningkatan efisiensi energi dan operasional (waste heat recovery). PT Vale juga sedang penerapan teknologi yang lebih efisien dalam konsumsi energi, penggunaan biomassa untuk menggantikan minyak dan batubara, serta pengembangan proyek dengan mempertimbangkan aspek emisi sejak tahap perencanaan.
"Kami juga terus mengevaluasi peluang penggunaan energi dan teknologi yang lebih rendah karbon, seperti HPAL (High-Pressure Acid Leach), sesuai dengan karakteristik masing-masing proyek dan perkembangan teknologi yang tersedia," ucapnya.
Diketahui, smelter HPAL adalah fasilitas pengolahan dan pemurnian bijih nikel menggunakan teknologi hidrometalurgi dengan bantuan asam sulfat bertekanan maupun suhu tinggi. Fasilitas ini bertujuan mengolah bijih nikel kadar rendah (limonit) menjadi produk akhir berupa MHP (Mixed Hydroxide Precipitate), yang menjadi bahan baku utama untuk baterai EV.
Berdasarkan riset Transisi Bersih berjudul Menghijaukan Hilirisasi Nikel (2025), intensitas emisi perusahaan-perusahaan nikel besar di Indonesia mencapai 57–70 ton CO2 per ton nikel, jauh di atas rata-rata global (45 ton). Besarnya jejak karbon produk dari mayoritas industri pengolahan dan smelter nikel di Indonesia disebabkan penggunaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive berbasis batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi utama.
Ini sangat kontras dengan PT Vale Indonesia 29 ton CO2 per ton nikel karena sudah menggunakan EBT. PT Vale menunjukkan pemanfaatan EBT pada smelter nikel bisa mengurangi emisi hingga 55 persen pada produk akhir.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya