Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Haruki Agustina mengatakan, industri nikel perlu segara menyusun peta jalan dekarbonisasi menuju ke net zero emission (NZE), karena pertambangan masuk ke dalam target standar nasional Indonesia (SNI) dan sektor energi berkontribusi terbesar kedua dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK).
Strategi dekarbonisasi industri nikel harus menyasar pengolahan mineral, smelter, dan transportasi yang membutuhkan konsumsi energi sangat masif.
"Bisa memanfaatkan EBT, elektrifikasi (biasanya transportasi), (mengadopsi) teknologi proses rendah emisi, bahan bakar rendah karbon, di sini bisa menggunakan alternatif biomass di proses smelternya ya, termasuk nanti bagaimana solusi berbasis alam yang harus dipertimbangkan," ujar Haruki dalam konferensi ESG-Nikel Nasional, Kamis (10/9/2026).
Program Manager for Transition Minerals and Green Industrial Policy INDEF, Robie Kholilurrahman mengatakan, perbaikan investasi dan hilirisasi industri nikel perlu strategi dekarbonisasi smelter dengan bergerak dari berorientasi kuantitas ke kualitas.
Jadi, semestinya bukan memperbanyak pembangunan smelter, tetapi lebih ke arah mengganti sumber energinya dengan EBT.
Meski investasinya sedikit lebih besar, kata dia, mengganti sumber energi dari PLTU captive ke EBT akan menurunkan emisi GRK secara signifikan. Jika memanfaatkan EBT, maka biaya operasional yang rutin dikeluarkan perusahaan (OPEX), seperti tarif listrik, akan lebih rendah.
"Sebenarnya ini ada kebutuhan investasi bukan lagi di ekspansi smelter, tapi bagaimana menghindari PLTU baru, kemudian memasok listrik bersih menggunakan PLTS dan baterai, melakukan efisiensi di tahap aspek proses, sehingga mengurangi beban listriknya, dan juga menyambungkan ke sistem grid PLN, tidak lagi menjadi captive," tutur Robie.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya