JAKARTA, KOMPAS.com - Menanam anggur di lahan terbatas perkotaan membutuhkan ketelatenan tersendiri dalam perawatannya, dengan pemangkasan buah secara berkala.
Jika anggur terlalu berdempetan, maka harus dibuang sekitar 50-70 persen agar pertumbuhan batangnya tidak terhambat dan ukuran buahnya bisa maksimal.
Namit (52), warga RW 03 Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, menganggap berbagai praktik urban farming anggur termasuk dalam menentukan kapan waktu kematangan buahnya, sebagai seni dalam menikmati hobi di sela-sela bekerja kuli.
"Anggur itu tanaman yang bisa dikonsep. Setidaknya, buahnya harus dipangkas 3 bulan sebelumnya. Kalau setahunnya jatuh pada bulan Januari, akhir September atau awal Oktober sudah dipangkas," ujar Namit di rumahnya, Sabtu (12/9/2026).
Baca juga: Bank Jakarta Bangun Biodigester Komunal, Olah 500 Kg Sampah Organik per Hari
Ia menyulap ruang bagian atas lahan di samping rumahnya untuk budi daya anggur, dengan di bawahnya diperuntukkan bagi sayur-sayuran dan berbagai jenis tanaman lainnya. Tanaman anggur sangat menyukai panas matahari, dengan semakin banyak terpapar panas, maka kualitas pertumbuhannya akan lebih baik.
Ketidakpastian cuaca akibat krisis iklim perlu direspons dengan semakin rajin merawatnya, karena tanaman anggur tidak membutuhkan air hujan yang berlebihan.
Jika sering terkena hujan, buah maupun daun anggur rentan rusak, berjamur, dan bahkan menyebabkan gagal panen.
Untuk menyiasatinya, Namit menggunakan atap pelindung transparan yang berfungsi mencegah tanaman dari curah hujan tinggi, tetapi tetap membiarkan cahaya matahari tembus secara optimal ke tanaman.
Namit mengolah sebagian sampah organik dari rumah keluarganya maupun orang tuanya diolah menjadi air lindi. Penampungan dirancang khusus dengan lubang di bagian bawah wadah untuk mengalirkan dan memanen tetesan air lindi. Setelah dijemur dan warnanya berubah menjadi merah, air lindi tersebut sudah siap dipakai.
Namit, 52 tahun, warga RW 03 Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, mengolah sampah organik dapur dari rumahnya dan orang tuanya menjadi air lindi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman anggur, sayur-sayuran, serta berbagai tanaman lainnya di kebun kecil samping rumahnya."Dicampur nasi, sisa sayuran, apapun lindi dapur lah, yang sifatnya bukan plastik, bukan berminyak," tutur Namit.
Sebagian lainnya diolah menjadi pupuk organik cair (POC) melalui proses fermentasi dengan melibatkan penambahan dekomposer.
POC harus dilarutkan terlebih dahulu dengan air sebelum disiramkan ke tanaman. Pemberian yang tidak sesuai takaran atau berlebihan berisiko memicu overdosis yang bisa menyebabkan tanaman menjadi kering.
Penggunaan olahan sampah organik menyuburkan dan membuat gembur tanah seiring bertambahnya usia pohon.
Baca juga: 2 Biodigester Bakal Dibangun di Jakut, Bisa Olah 500 Kg Sampah Organik per Hari
Berbeda dengan penggunaan pupuk kimia yang cenderung membuat tanah menjadi keras. Apalagi, memanfaatkan sampah organik untuk urban farming dapat menghemat pengeluaran untuk kebutuhan pangan sekaligus menghasilkan cuan ketika hasil panen anggur yang berlebihan sengaja dijual.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya